Malam masih buta.
Bahkan di negerinya, di mana kunang-kunanglah yang
biasa berkicau dan burung-burung dapat menyala dalam keremangan subuh pun tidak
tampak di mana-mana. Purnama, yang di negerinya berwarna kuning pucat dan
memancarkan spektrum, berdiri gagah di kanvas hitam tak bertepi.
Gadis itu melangkah perlahan. Ia mencari sudut di mana
keluarganya tak bisa mendengar suaranya, karena ia hidup di negeri di mana
makhluk sejenisnya mampu mendengar suara ultrasonik. Ia tidak memiliki gazebo atau tempat
tinggi untuk menuangkan kesedihan di rumahnya yang kebanyakan adalah
rerumputan. Jadi, ia berjingkat menuju salah satu sudut tersepi, lalu menangis
tanpa suara.
Gadis itu, yang selalu tersenyum secerah Ibanda (yang kalau di Terra kita sebut Matari),
akhir-akhir ini tak pernah melewatkan satu malam pun dengan pipi kering. Ketika semua orang jatuh terlelap, ia akan menyeruak dari kamarnya yang tak
berpintu di kastil kecilnya, dan mencari ketenangan. Lalu ia akan berdeguk,
menarik bibir, lalu menggigit bibirnya hingga darahnya yang berwarna biru akan
mengalir. Begitulah, di negerinya, cara mereka menangis. (dan aku diceritakan
bahwa tangisan yang mereka lakukan tiga kali lebih sakit. Karena yang keluar
bukanlah air mata namun darah, dan darah itu masuk kembali tercecap lidah,
untuk mengingatkan betapa perihnya luka. Maka, jika mereka terluka, mereka akan menangis. Dan kalau mereka menangis, mereka terluka.)
Ia tak tahu mengapa dirinya menangis. Ia hanya merasa
dirinya sendirian. Ia merasa semua orang di negerinya tengah menikmati hidup,
merasakan kebahagiaan yang tak bertepi. (kelak, setelah kami bertemu, kami akan
menyimpulkan bahwa negerinya dan negeriku, kurang lebih sama: orang lebih
mencari dalam kesedihan. Ketika mereka bahagia, mereka terlalu sibuk dengan
perayaan terhadap diri yang dilakukan bersama-sama.)
Keluarganya bahkan terlalu sibuk mencari koin yang pada akhirnya tak pernah cukup membawa tawa. Ayahnya hanya penunggang awan namun merasa seperti Baginda Kerajaan. Di saat rapuh begitu, ada satu orang yang diharapkannya peduli, yang padanya ia menaruh rindu begitu mega, tetapi orang tersebut lah yang malah membuatnya mengalirkan darah lebih banyak, pada malam yang sepi itu. (Karena bahkan mereka sudah tidak bertatapan dalam diam selama lebih dari 21 hari. Di negerinya, dua orang yang jatuh cinta kerap bertatapan dalam diam untuk menyatakan cinta mereka. Karena mereka percaya, cinta lebih agung ketika senyap, dan cinta yang agung adalah cinta yang sudah puas ketika bersabar untuk memeluk tatapan satu dan lainnya.)
Keluarganya bahkan terlalu sibuk mencari koin yang pada akhirnya tak pernah cukup membawa tawa. Ayahnya hanya penunggang awan namun merasa seperti Baginda Kerajaan. Di saat rapuh begitu, ada satu orang yang diharapkannya peduli, yang padanya ia menaruh rindu begitu mega, tetapi orang tersebut lah yang malah membuatnya mengalirkan darah lebih banyak, pada malam yang sepi itu. (Karena bahkan mereka sudah tidak bertatapan dalam diam selama lebih dari 21 hari. Di negerinya, dua orang yang jatuh cinta kerap bertatapan dalam diam untuk menyatakan cinta mereka. Karena mereka percaya, cinta lebih agung ketika senyap, dan cinta yang agung adalah cinta yang sudah puas ketika bersabar untuk memeluk tatapan satu dan lainnya.)
Dan beberapa hal, yang mungkin sama di negerinya dan di
negeriku, adalah fakta bahwa ketika ia menengadah, yang ia lihat hanya jutaan
bintang. Maka pada malam-malam yang telah berlangsung sesak dan penuh darah, kerjanya hanya menatap bintang. Itu membuatnya jauh lebih baik.
“Di angkasa raya, ada jutaan bintang,” Professornya
pernah berkata. “Bintang dapat berisi satu materi tunggal bercahaya, namun juga
dapat terdiri dari galaksi, seperti galaksi kita, Galaksi Adaalharden.”
Tangannya teracung untuk bertanya. “Professor, ada apa di bintang sana?”
“Kita tak pernah tahu,” jawab Professornya sambil
tersenyum. “Bayangkan saja, jika di satu galaksi ada kita, para Quafranten,
mungkinkah di bintang yang jumlahnya jutaan, bahkan miliaran terdapat miliaran
kehidupan yang kita tak akan pernah sempat hidup untuk mengetahui semua?”
Seisi kelas hening. Sesaat setelah kelas bubar,
Professor, yang satu dari sedikit banyak orang yang bisa melihat bahwa gadis
yang tadi bertanya padanya membutuhkan semacam penghiburan, mendekati gadis itu
lalu berbisik lirih.
“Jika kau merasa tak ada satu orang pun di Quafranten
yang bisa menemanimu, tunjuk satu bintang. Pandangilah seksama. Kau tidak
pernah tahu, apa atau siapa yang menatap balik kepadamu dari sana.”
Gadis itu tersenyum. Pendarahannya berhenti, walau ia
masih merasa darah yang memercik biru bibirnya. Kemarin ia telah melihat sebuah
bintang berwarna emas di langit Selatan, dan hari ini—
Ia terdiam sejenak. Matanya memejam sesaat, sebelum
menjatuhkan tatapan di langit utara.
Bintang ungu yang terlihat terang itu tampak
menenangkan. Dan seakan merasakan sebuah
keajaiban, gadis itu merasa ditatap. Dan sekilas ia bisa melihat sebuah visual...
Ia masih bisa melihat kubah berhiaskan bintang. Sebuah
alat (—alat apa itu?) terletak di kakinya, dan bisa berayun. Bangunan beratap
segi empat (Aneh sekali, di negerinya atap mereka datar) ada di kanan kirinya,
dan suara seperti benda berdesing terdengar jauh. Di hadapannya, seorang gadis
yang mirip dengannya, namun tidak secantik dirinya sedang menatap langit,
dengan mata tersaput kabut yang biasa ia lakukan, dengan baju yang—astaga aneh
sekali, mengapa ia memakai baju lelaki—tampak tipis untuk ukuran malam yang
dingin itu. Ia menangkap perasaan gadis itu: sepi tak bertepi, sedikit iri
hati, kerinduan, dan rasa bingung untuk mencintai. Lalu …
“Halo. Aku dari Terra.”
… secepat itu, visualisasi itu hilang. Ia kembali
menapak di rerumputan. Namun, ada sesuatu yang berubah. Ia tiba-tiba
membayangkan sebuah dunia yang berbeda dari negerinya, dimana orang menangis
lewat mata dan mengeluarkan air mata, dimana orang-orang berbicara dan
menyentuh untuk menyatakan cinta, memiliki rumah yang beratap segitiga,
memiliki alat aneh bernama mobil, dan seorang gadis yang suka duduk di atas
alat yang kelak ia namai ayunan karena mirip dengan ayunan untuk melempar buruan
di negerinya. Ia memiliki suatu dongeng yang harus ditulis—tentang sebuah
dongeng dari Planet Terra.
Lalu, pikirnya sambil tersenyum, aku akan menulis
tentang gadis yang memiliki perasaan yang sama denganku, tentang kesepian yang
tak bisa dijelaskan, dan perasaan berjarak dari orang-orang yang ia kasihi.
Akan kuberi ia nama yang tak begitu berbeda dariku karena kita—
“Zheba’aiya! Apa yang kamu lakukan di tengah malam
seperti ini? MASUK, dasar gadis bodoh.”
Zheba’aiya tersenyum. Bibirnya sudah tak berdarah lagi.
Ia lupa dengan deritanya sendiri. Ia yakin, visualisasi tadi adalah bentuk
nyata dari teori Professor kita tak
sendirian di dunia ini.
Ia juga yakin, gadis yang bernama mirip dengannya juga
sudah menghapus air matanya, dan tergesa-gesa untuk menulis dongeng yang tiba-tiba disuarakan bintang gemintang.
Tentang Zheba’aiya, dari Negeri Quafranten.
“A philosopher once asked, "Are we human because we gaze at the stars, or do we gaze at them because we are human?" Pointless, really..."Do the stars gaze back?" Now, that's a question.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar