Aku ingin menulis untuk diriku. Berantakan. Tidak fancy. Tidak kritis. Personal dan masalahnya selalu terulang-ulang. Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa percaya kata-kata yang kugunakan. Tidak usah berpikir dan banyak filternya. Tidak usah peduli siapa yang akan lihat, meskipun sensasi melihat tulisanku telah publish memberikanku kelegaan dan rasa tenang. Lihat? Fokus ke diriku. Fokus ke tulisanku. Bodo amat siapa yang liat.
Aku sedang baca "Seeing for Ourselves and Even Stranger Possibilities". Gak kusangka bukunya bagus. Mempertanyakan apakah selama ini kita melihat diri kita berdasarkan pandangan orang lain. Menilai diri kita hanya dari pandangan orang lain. Merelasikan diri kita dengan Tuhan. Sesungguhnya buku ini bicara soal kedirian. Ke-diri-an. Self-hood. Bukan personhood. Diri. Kusadari sepertinya aku mulai merasa ingin melihat diriku sendiri untuk diriku sendiri. Selama ini aku melihat diriku (seringnya) berdasarkan pandangan orang lain:
Bia. Shabia.
Suka makan. Suka isu pangan. (Emang iya? Kadang aku ragu juga. Ide soal makanan gak serta-merta masuk ke otakku. Hal menarik gak langsung terpantik di benakku. Kalau aku makan reaksinya ya standar aja: hm enak! huek, ga enak! kadang emang ada pertanyaan kritis: siapa yang buat, kok metodenya bisa gini ya, kenapa ya semua orang memperebutkan makanan ini dan apa kaitannya dengan tren dalam kacamata antropologi, ini warung padang tapi kok logonya beda, nasi kotakan tuh kok bikin kita ngerasa rendah ya konotasinya, tapi seringnya ya itu: penilaian rasa. penilaian tekstur. hari ini udah makan siang, ntar malem makan apa ya? kadang ya ngga kepikiran apa-apa, soalnya sembari nonton drama korea. sungguh mediocre. Padahal aku dilihat sebagai orang yang bidangnya pangan banget.)
Peneliti. (Emang iya? Padahal aku anxious banget kalo disuruh collect data, meskipun pasti jadi dan sejauh ini gak pernah gak dipercaya dan semua orang tampak hepi aja sama data yang kukumpulin. Aku lebih suka fasilitasi dan engage orang, sebenarnya. aku juga suka ngedesign, nulis artikel, atau urus sosmed. Kalau diinget-inget, waktu kuliah dulu ya aku kalo gak seksi acara ya seksi publikasi. di jurusan malah bagian PSDM. Aku suka transformasi ide dan pengetahuan jadi sesuatu yang lebih menarik. Kadang aku ngerasa aku lebih cocok sama pendekatan artistik atau design)
Perempuan. (Ini iya sih. Sejauh ini aku masih cis-het. Tapi aku menghargai kecantikan perempuan lebih dari ketampanan laki-laki. Mungkin karena aku makin sadar di dunia ini laki-laki baik itu lebih dikit dari laki-laki jahat).
Suka menulis dan membaca. Yang terakhir ini aku ragu juga, dan keresahan yang membuatku membuka tulisan ini dengan paragraf di atas. Apakah iya? Akhir-akhir ini aku merasa harus lebih sering menulis dan membaca, tapi aku menguliti pertanyaan ini dengan pertanyaan lain: ini karena keharusan untuk pleasing other's gaze kah? Ini karena ada beberapa teman dan orang lain yang lebih rajin menulis dan aku merasa harus menyaingi mereka kah? Atau aku benar-benar menemukan kedamaian dalam menulis?
Sore tadi aku beli buku catatan, ritual bagiku untuk memulai pekerjaan baru atau tahun pekerjaan baru karena aku baru mulai bekerja lagi Februari nanti. Buku catatanku sudah habis. Tapi karena aku sedang krisis eksistensialis, aku mulai memikirkan bahwa ada kebutuhanku yang lain: beli buku catatan untuk diriku sendiri, untuk journaling. Lalu aku sadar: aku ini jarang ya melakukan hal-hal hanya untuk diriku, dan tatarannya lebih spiritual? Lebih personal? Yang kulakukan, hampir semuanya berdasarkan keharusan, berdasarkan penglihatan orang, dan yang kulihat dari orang.
Menulis ini adalah itikad dan aku lega aku sampai di kalimat ini, bahwa aku telah menulis untuk diriku. Aku punya tugas untuk mencaritahu bagaimana menulis untuk diriku dan melakukan hal-hal untuk diriku. Siapa diriku dan apa yang kumau. Apa yang kusuka. Apa yang kumau dan kusuka karena aku mau dan aku suka, seeing ourselves for ourselves.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar