Rabu, 07 Juli 2021

A Strange Dream: 2

 the crossroad is not something romantic, if it was so modern and crowded by loud vehicles, people and passerby walked very fast and crossed the road heading to wherever their destination are. 

we are in the car; me, my best friend, my best friend's brother, and we looked outside. i remembered the atmosphere was light, pink-tinted, glossy (not foggy), like being drowned in a mixture of strawberry vodka and (too much) water.

my best friend's brother said, "it's two years ago."

i don't ask the meaning behind his funny exclamation of time. i noted that somehow, we were visiting a two years ago moments from someone's memory. but if it's the memory of someone other than ourselves, then the someone must have...

"it's her! it's her!" ... passed (i completed my thought). my bestfriend pointed towards a point outside the car. I saw my other bestfriend, seemed so happy and childlike, laughing beside someone. muscular back, masculine posture. i think it's someone special. someone special for my other best friend, i mean.

"how did we get there?" i asked. "it's a memory of her!"

i giggled. it feels like pensieve in Harry Potter's book. 

"do you think about her?" i asked my best friend's brother. perhaps we're ended up here because my best friend's brother.

"huh?" my best friend's brother seemed clueless, but more like implying how-do-you-know question.

"she seemed very happy," i concluded. 

I don't remember the aftermath, just my other best friend walked and walked, until she's very far I could not see her anymore. 

I woke up again.

how a happy memory can be very sad, with this pink-tinted nuances like a burnt dawn, signaling the end of the more-happy time?


p.s: i asked my best friend. she's completely fine. she asked if I missed her. I missed her and our memory in our happy town

Selasa, 06 Juli 2021

A Strange Dream

 it's the third time I visited this place. 

the building was the combination of two famous coffee chain shop we used to visit, which reminded me this place is not real. 

however, we sat at the center of the crowd, and I don't remember the exact conversation. I just remembered you seemed exhausted, but you still had this laugh on your face, and I wondered how did you possessed a contradictory face emotion while you have a completely different emotion inside? I don't remember the exact conversation, like I said, but I noticed we didn't talk something serious and hard topic. but finally you said you are exhausted. with a laugh. 

i asked why. i don't remember your answer. 

I turned my face around and saw that all people wore black clothes. I don't remember the color you and I wore. I think it's more colorful. not this terrifying monochrome colors. I noticed something was off. 

i decided to go to bathroom and back to the place we sat. but no one's there. no customers. no coffee shop. the building has changed into the real one--a university. 

then, I woke up.

---

it's a strange dream

i haven't dream about you since awhile. 



Rabu, 23 Juni 2021

Turbulences

Maybe this is how it feels; constant turbulence in an uncertain weather. 

Don't know if I have promising future, or if I have so much values in myself. Don't know if my limitation will restrain me pursuing my dream and my ambition (it's good to have an ambition, as long you have strong principles, don't you think?) or if it's just hanging there, telling me to step slowly, scrutiny every steps I take. 

Seeing all my friends in their own stages and steps making me feel uncertain and insecure. Where am I? Who am I? Am I doing right? Will I do good for myself in the future? Is the old me still stay there, deep inside my heart? 

lack of capabilities.

lack of certainty.

lack of achievements.

but at least no regret. 

if all of these are the part of my long journey, I will accept it and try to be more patient (and optimistic).

little by little. 

Kamis, 10 Juni 2021

Penggalan Percakapan #1

 "... tapi bersama dia aku jadi lebih dewasa, memandang dunia juga jadi lebih baik. kamu begitu juga, kan?"

aku terdiam. lidahku serasa kelu. 

akhirnya aku menghela napas lalu menghembuskannya dengan sedikit berat. terlalu kentara. 

"dewasa mungkin iya. tapi memandang dunia jadi lebih baik?"

kuakhiri tanda tanya. aku tak sampai hati mengutarakannya. dan mungkin memang tak bisa pula menjawabnya. 

Sabtu, 05 Juni 2021

Sentrifugal

pagi hari adalah waktu yang pas untuk berpisah. Langit masih bersih, udara ringan, matahari penuh kasih, dan harapan masih bergantung di udara. sudah dua kali kita berpisah dalam permulaan hari, dan aku bersyukur atas waktu yang membayangi perpisahan kita untuk sementara. 

sempat kubayangkan kita akan berpisah di stasiun, malam hari, dengan sebuah kereta yang akan membawaku kembali ke ibukota. sebuah bayangan yang sendu, ritmis, romantis, tapi mengerikan sekali! kanvas itu nampak jelas bagiku; kau mengantarku ke Tugu, dilatarbelakangi oleh langit malam Jogja yang selalu megah, lampu kuning, dan asap menggantang dari jalan-jalan Malioboro yang selalu ramai. sayup-sayup terdengar suara khas tanda kereta telah sampai. kau tidak boleh berhenti begitu lama karena kalau tidak penjaga akan perlahan mendekatimu dengan gestur mengingatkan, jadi kusaksikan dirimu memudar  ke jalan raya. aku berbalik dan menjemput rel serta sang kuda besi. lantas, lakon itu ditutup dengan sebuah lagu dari Mas Gardika Gigih, "... pernahkah kau sedekat ini? ku berlari. dan berlari ..." 

tidak tahu apakah berlari menjauhimu atau mendekatimu. 
menjauhi kotamu dan mendekati kotaku, itu yang paling jelas.

dan membayangkan ini, aku bisa tersedu-sedu dalam diam.

.
.
.

pagi hari, dengan pesawat, lakonnya tak perlu sesedih itu. pagi menunjukkan kanvas-kanvas yang penuh realita tentang Jogja yang sebenarnya tak kalah indah. kali pertama kita berangkat dari Kulonprogo, aku bisa memandang puncak-puncak bukit menoreh yang berwarna biru-hijau, begitu jelas batasnya dengan horizon. kali kedua kita berangkat dari Adi Sucipto, aku bisa memandang jalan cincin Jogja yang mulai merayap, dengan aneka kendaraan disesaki berbagai urusan. masih terasa seperti perpisahan dan masih asin juga air mataku di bibirku saat kusaksikan pundakmu berbalik dan kau berjalan menjauh, tapi berpisah dalam pagi hari jelas lebih mudah. 

.
.
.

selamat berjarak kembali,
berapa bulan lagi kita harus saling menjaga dari jauh? (kuharap tidak lama)


salam sayang dan selamat tidur.  

Rabu, 11 November 2020

Takut

kadang ada hari-hari buruk di saat keluar kamar saja aku tak kuasa. atau kadang aku hanya ingin keluar untuk berujung pada pelukan kekasih dan kasur sahabatku saja, tapi bagian tak menyenangkan dari hidup adalah kita tidak diperkenankan untuk bergantung pada orang lain dan harus mandiri. hal ini banyak terjadi di hari-hari terakhir aku di Yogya, dan aku tak tahu mengapa. 

aku tak pernah ada di posisi yang serapuh ini, ketika kerjaanku menangis tiap hari dan memikirkan hal buruk. kalau aku tidak melawan diriku sendiri untuk berbisik "tidak apa-apa" dan "tapi kamu harus kerja", mungkin aku takkan bertahan. tak pernah aku seragu ini sama diriku dan bertanya apakah aku mampu ini, apakah aku mampu itu, apakah aku akan masih hidup lama, apakah aku masih akan membahagiakan banyak orang, dan printilan lain yang terdengar sangat overthinking. kulawan setiap hari? iya. tapi pikiran dan kekhawatiran itu datang terus. 

pagi ini hal itu datang lagi, dan kuharap ini jadi buruk karena aku mau menstruasi. tapi apa yang membedakan menstruasi dengan kesedihan? tampaknya tak ada. sama-sama sakit. sama-sama menguras energi. sama-sama putus asa...


semoga aku akan baik-baik saja.