Senin, 26 Januari 2026

Menulis untuk Diriku

Aku ingin menulis untuk diriku. Berantakan. Tidak fancy. Tidak kritis. Personal dan masalahnya selalu terulang-ulang. Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa percaya kata-kata yang kugunakan. Tidak usah berpikir dan banyak filternya. Tidak usah peduli siapa yang akan lihat, meskipun sensasi melihat tulisanku telah publish memberikanku kelegaan dan rasa tenang. Lihat? Fokus ke diriku. Fokus ke tulisanku. Bodo amat siapa yang liat.

Aku sedang baca "Seeing for Ourselves and Even Stranger Possibilities". Gak kusangka bukunya bagus. Mempertanyakan apakah selama ini kita melihat diri kita berdasarkan pandangan orang lain. Menilai diri kita hanya dari pandangan orang lain. Merelasikan diri kita dengan Tuhan. Sesungguhnya buku ini bicara soal kedirian. Ke-diri-an. Self-hood. Bukan personhood. Diri. Kusadari sepertinya aku mulai merasa ingin melihat diriku sendiri untuk diriku sendiri. Selama ini aku melihat diriku (seringnya) berdasarkan pandangan orang lain:

Bia. Shabia.

Suka makan. Suka isu pangan. (Emang iya? Kadang aku ragu juga. Ide soal makanan gak serta-merta masuk ke otakku. Hal menarik gak langsung terpantik di benakku. Kalau aku makan reaksinya ya standar aja: hm enak! huek, ga enak! kadang emang ada pertanyaan kritis: siapa yang buat, kok metodenya bisa gini ya, kenapa ya semua orang memperebutkan makanan ini dan apa kaitannya dengan tren dalam kacamata antropologi, ini warung padang tapi kok logonya beda, nasi kotakan tuh kok bikin kita ngerasa rendah ya konotasinya, tapi seringnya ya itu: penilaian rasa. penilaian tekstur. hari ini udah makan siang, ntar malem makan apa ya? kadang ya ngga kepikiran apa-apa, soalnya sembari nonton drama korea. sungguh mediocre. Padahal aku dilihat sebagai orang yang bidangnya pangan banget.)

Peneliti. (Emang iya? Padahal aku anxious banget kalo disuruh collect data, meskipun pasti jadi dan sejauh ini gak pernah gak dipercaya dan semua orang tampak hepi aja sama data yang kukumpulin. Aku lebih suka fasilitasi dan engage orang, sebenarnya. aku juga suka ngedesign, nulis artikel, atau urus sosmed. Kalau diinget-inget, waktu kuliah dulu ya aku kalo gak seksi acara ya seksi publikasi. di jurusan malah bagian PSDM. Aku suka transformasi ide dan pengetahuan jadi sesuatu yang lebih menarik. Kadang aku ngerasa aku lebih cocok sama pendekatan artistik atau design)

Perempuan. (Ini iya sih. Sejauh ini aku masih cis-het. Tapi aku menghargai kecantikan perempuan lebih dari ketampanan laki-laki. Mungkin karena aku makin sadar di dunia ini laki-laki baik itu lebih dikit dari laki-laki jahat).

Suka menulis dan membaca. Yang terakhir ini aku ragu juga, dan keresahan yang membuatku membuka tulisan ini dengan paragraf di atas. Apakah iya? Akhir-akhir ini aku merasa harus lebih sering menulis dan membaca, tapi aku menguliti pertanyaan ini dengan pertanyaan lain: ini karena keharusan untuk pleasing other's gaze kah? Ini karena ada beberapa teman dan orang lain yang lebih rajin menulis dan aku merasa harus menyaingi mereka kah? Atau aku benar-benar menemukan kedamaian dalam menulis? 

Sore tadi aku beli buku catatan, ritual bagiku untuk memulai pekerjaan baru atau tahun pekerjaan baru karena aku baru mulai bekerja lagi Februari nanti. Buku catatanku sudah habis. Tapi karena aku sedang krisis eksistensialis, aku mulai memikirkan bahwa ada kebutuhanku yang lain: beli buku catatan untuk diriku sendiri, untuk journaling. Lalu aku sadar: aku ini jarang ya melakukan hal-hal hanya untuk diriku, dan tatarannya lebih spiritual? Lebih personal? Yang kulakukan, hampir semuanya berdasarkan keharusan, berdasarkan penglihatan orang, dan yang kulihat dari orang.

Menulis ini adalah itikad dan aku lega aku sampai di kalimat ini, bahwa aku telah menulis untuk diriku. Aku punya tugas untuk mencaritahu bagaimana menulis untuk diriku dan melakukan hal-hal untuk diriku. Siapa diriku dan apa yang kumau. Apa yang kusuka. Apa yang kumau dan kusuka karena aku mau dan aku suka, seeing ourselves for ourselves.



Rabu, 16 Juli 2025

a breakup (not with my boyfriend)

growing older means losing some friends and finding the new one. for me, friendship breakup is truly hurtful, even more hurtful than breaking up with my ex boyfriends. maybe it's because i put more trust in friendship than romantic relationships. maybe it's because i easily become more vulnerable whenever i am with my besties and friends. maybe  it's because we share different love languages when we are with our best friends, maybe it's because we have distinct ways of 'selection' to feel that they are the ones. 

growing older means losing some friends because we are more confident on our... boundaries, and we seek kindred spirits that meet us halfway. this means they are capable of adapting and adjusting to our complexities, like we can adapt and adjust to their rhythm. of course, 'adapting' and 'adjusting' is not a taken-for-granted dynamics, forged without efforts, intense, and communication between two friends. i have learnt that adaptation and adjustment should be done not only with quiet understanding but also with an open and honest conversation to prevent negative assumptions. these two -- quiet understanding and honest convo -- move like a pendulum, dancing between contexts and complexities currently happening in their life and yours. and lowering your ego... is a must. really really lowering egos from both parties. well, every relationship is not so different after all (i am suddenly reminded that i wrote the same reflection when I think about successful romantic relationships, lol)

i recently cut ties with someone, blocking her from my social media account. this was extreme, as I usually give benefit of the doubt: mute someone or hide my own profile from them until my head got more cleared. but this was done after several times I texted her to support her activism, and she replied only with an emoji. this was done after I encouraged myself to ask her why.. and she left my message seen

we used to be close, not as close as I was with my other girlfriends, but close enough for me to do several vulnerable things I wouldn't do to someone else. when I have an urge to block her because I constantly check on her and think of her, which I think is unhealthy, my old self come and try to reason with me: she is a fellow activist (a  notable and influential one, in fact), you can re-connect with her sometime later, you might need help from her one day. don't burn the bridge. staring at my old self, I spoke to her: none of it matters as I found she has crossed my boundaries. she choose silence, and empty responses from other side is beyond my control. it will never work if there is no willingness from another side. it takes two to tango. etc etc

sometimes I am afraid I will be alone and unloved by many, seeing i experienced a lot of friendship breakup. i also acknowledge I am not free from sin and mistakes; to be honest, I am a relatively difficult person to be with as well. i have an avoidant attachment style, i am quite self-centered to the point I get annoyed easily if someone try to reason or change my systems, i like to compare myself with others, i am intense, and full of fear, and full of anxiety, etc etc. the lists are endless.

but i am also a loving person. a caring one. i am highly observant. i am quite funny (if you get my joke). i can understand spectrum of emotions and complexities quite well. i can comprehend some issues really well and this might help you. i rarely think negative about someone. the lists are also endless. 

i cannot conclude this one, but i think... those who stay with me are the ones who have multitudes of characters and dynamics that can fit into my multitudes... and it's a mystery how that will work.

then: let's be resilient, bia, don't be tired to become more vulnerable and stronger at the same time, and those friends who read this, please don't give up on me! 

Minggu, 30 Maret 2025

Malam Lebaran (bukan bulan di atas kuburan)

sudah sekian lama tidak merasakan keheningan yang khas di penghujung Ramadhan, di mana terdapat rasa menggantung hinggap di hati dan di pucuk-pucuk tumbuhan yang menghadap langit malam hari. takbir berkumandang dari pelosok kota, dan mama masih sibuk di dapur mempersiapkan ini-itu, sementara orang-orang muda di keluargaku sudah mulai transisi ke kamar, melakukan hal-hal biasa setelah sebelumnya mempersiapkan baju dan alat shalat untuk dipakai shalat ied esok hari. aku tepekur di depan laptop dan melarikan jemariku untuk menumpahkan perasaan ini. perasaan sedih yang tak terjelaskan, yang juga diwarnai rasa senang. karena akhirnya aku merasa kesedihan yang khas ini, yang hanya muncul ketika hari raya Idulfitri sudah menyambut di depan mata. 

ramadhan ini masih terasa duniawi. setiap harinya aku belum lengkap shalat lima waktu, masih ada hari tidak berpuasa yang bukan disebabkan menstruasi, tidak ada tadarusan, tidak ada itikaf, dan tidak semua sunnah muakkad kujalankan. aku bekerja penuh waktu dan paruh waktu, sebuah kombinasi yang membuatku tetap setia di depan laptop hingga larut malam. aku tidak bisa melakukan satu hal yang sebenarnya sudah kuniatkan sejak awal ramadhan, bahkan sebelumnya: aku tidak jadi membaca tafsir dan ikut kajian! padahal aku ingin sekali, karena ingin memanfaatkan momentum ini untuk mendalami Islam, tentunya dari kacamata yang progresif. 

tetapi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ramadhan tahun ini tidak duniawi-duniawi amat, ada berbagai ibadah yang kujalani, meskipun tidak perlu kusebutkan karena kurasa akan mengurangi amalannya. kendati jumlah buka puasa bersama semakin berkurang, tetapi kebersamaan dengan keluarga dan significant other tidak absen. di ramadhan ini aku banyak menerima kabar baik dan belajar menerima diriku apa adanya. 

melebihi semua pengalaman personalku soal ramadhan, aku menjalani bulan penuh berkah ini di tengah situasi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. represi kepada warga sipil menguat, dengan militerisme menelusup ke berbagai urusan publik. kekerasan semakin intens. demonstrasi melemah, kalau tidak mau dibilang semakin tiada. kadang aku berpikir rezim yang masih kerap menyebut "bismillah", "insyaAllah", menyebut-nyebut nama Tuhan, melakukan sumpah atas nama Tuhan, dan meyakini rakyat bahwa mereka mengamalkan Ketuhanan yang Maha Esa benar-benar takut dengan dosa, setelah apa yang mereka lakukan kepada banyak orang di negara ini. ramadhan ini penuh dengan kemarahan, tapi aku tidak takut marah, karena marahku didasari oleh cinta kasihku kepada orang banyak dan hak asasi manusia. 

maka aku menutup Ramadhan ini dengan tiga hal: rasa syukur, karena masih melewati ramadhan ini dengan indah; keinginan untuk menjadi lebih baik lagi dan mengamalkan hal-hal yang belum tercapai di ramadhan ini, karena ibadah dan amal baik harus terus-menerus dilakukan (terutama baca tafsir dan ikut kajian!); dan doa kepada Tuhan agar aku senantiasa diberi jalan untuk berpartisipasi dalam perjuangan membuat Indonesia lebih baik, yang semoga terwujud di lebaran berikutnya.

Taqabalallahu minna wa minkum.

Minal aidin wal faidzin, teman-teman! Happy eid mubarak! 


Rabu, 22 Januari 2025

Some Mathematical Thoughts

There’s a reason why that particular verb is called 'menggenapkan'.  

Contrary to popular belief, I’d like to think  

that the basic formula for the entanglement of two persons  

is 1 + 1, not 0.5 + 0.5.  


I’d like to think we have a task:  

to fulfill ourselves, to find and be found,  

to stand whole before we reach for another.  

I’d like to think we have the capacity  

to be content with who we are—  

to love someone not as a projection of our own longing  

for connection, or a remedy for old wounds,  

not as redemption for past wrongdoings,  

nor an escape from the shadows of trauma.  


I’d like to think this fuzzy mathematical formula holds,  

even if I know it’s just a product of my own mind,  

a fragile scaffold built from the fear of abandonment.  


As a “1,” you don’t have to fear being reduced,  

even when someone leaves you  

to face the chaos of your own abyss.  

You are not diminished; you remain whole. 

Complete, as you are. 


“Why are you so hard on yourself? And on me?
Why do I feel like you see me as a constant threat?”
I remain silent,
my eyes drawn to the ball of thread,
tangled and forgotten in the corner of my room.

“Can you see me as someone
free from the shadow of your past?”
I feel myself drifting—
quiet feet moving toward the corner.

Salam sayang dan selamat tidur.

Selasa, 31 Desember 2024

Refleksi 2024

sudah lama sekali tidak melakukan refleksi akhir tahun. justifikasi biasanya: hidup makin cepat dan sesak, pasti kedahuluan agenda lain yang terasa lebih mendesak. tapi akhir tahun ini aku masih ada dalam kondisi limbo, situasi yang memang tak nyaman, tapi setidaknya memberikan ruang gerak yang cukup lapang: ada waktu untuk menulis, yeay! 

selain keberadaan ruang, akhir-akhir ini aku banyak membaca buku. membaca buku selalu membantuku untuk menjadi lebih artikulatif. aku juga tak lagi kesusahan untuk meraup cadangan kata-kata yang sebenarnya masih hidup dalam sudut-sudut otakku, hanya mungkin tak terjamah jika kita tak punya rasa yang tepat untuk menariknya. seringkali kalau tak membaca, atau baca hanya untuk kepentingan kerja atau kuliah, tulisanku tak terasa deskriptif (meskipun mungkin masih mengalir bagi pembacanya). ibaratnya seperti sungai yang di bawah riak-riaknya tak ada habitat yang kaya. adegannya terasa monoton tanpa menggugah. oleh  karena itu, aku percaya, bahwa sering membaca dan piawai menulis itu satu paket. 

kembali ke ulasan 2024. tahun ini banyak sekali nano-nanonya. kilas balik sedikit, Januari hingga sebagian Oktober kuhabiskan di London (dengan mondar-mandir ke negara lain di dua bulan terakhir: September dan Oktober!). aku biasa mengingat bulan dengan tema kehidupan yang sedang kujalani, dan memori akan perasaan yang memberikan nuansa akan tema kehidupan tersebut. aku mengingat Januari ke Mei sebagai bulan yang mengasyikkan, karena kelas-kelas kuliah yang materinya begitu kusukai. namun, Mei ke September aku bagaikan sosok perempuan di kartu tarot sembilan pedang, yang artinya kurang lebih begini, "merasa terperangkap dan tak berdaya, padahal jalan menuju keberlimpahan selalu ada di sana, meski harus melewati kemungkinan teriris ujung pedang sedikit. belum tentu terluka, meskipun bisa terluka, meskipun bisa jadi tidak usah terluka." di bulan-bulan tersebut, aku menghadapi penulisan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan kuliahku. 

bulan September ke Oktober, mungkin karena kewajiban menulis ini telah terangkat, aku bisa mengurusi aspek kehidupan lain dan lebih bahagia: menyambut Mama ke London dan pelesir ke dua negara yang sudah jadi bagian dari daftar keinginan sejak lama. Mama datang ke London sebagai  bagian dari nazar dan keinginanku untuk memboyong pendukung hidupku paling wahid, yang ironisnya, tak pernah ke luar negeri meski anaknya sudah melanglang buana. ketika aku menerima pengumuman bahwa aku lolos LPDP, janjiku pada diriku hanyalah satu: berusaha sebisa mungkin untuk menabung, agar bisa mendanai sebagian atau seluruh biaya yang diperlukan Mama untuk menemuiku di tempat kuliahku. sepulangnya Mama dari London, aku kemudian juga bertandang ke negara impianku: Yunani dan Italia. kecintaanku pada dua negara ini sebenarnya berasal dari rangsangan yang cukup sederhana: buku-buku Rick Riordan soal mitologi Romawi dan Yunani, serta kuliner dari dua negara ini (terutama Italia) yang mempengaruhi palat lidahku. hingga sekarang jika ditanya lima teratas makanan favoritku, selain nasi padang dan pecel ayam yang menghuni tampuk paling atas, hidangan seperti pasta dan pizza kemungkinan besar juga bisa didapati di sana. 

kemudian, pertengahan Oktober aku kembali ke Indonesia. dari Oktober ke Desember tampaknya aku lumayan gembira dan merasa ria, meskipun stressor baru kembali terbentuk: aku harus (ingin? butuh?) dapat kerja layak yang hingga kini, masih cukup sulit bagiku untuk menemukan formulanya. Aldo menawariku sebuah pekerjaan yang menjadi pekerjaan utamaku di tiga bulan terakhir ini, dan di pertengahan Desember aku juga memulai pekerjaan kontrak dengan sebuah perusahaan media yang isunya ingin aku telisik. namun jauh di dalam hati aku tahu, aku belum menemukan ruang yang sangat pas untukku, tempat passion dan kompensasi yang layak saling bertalian dan mendorongku untuk menjadi individu yang lebih 'hidup'. 

di bulan terakhir tahun ini, aku cukup senang menemukan gelora untuk kembali ke kebiasaan lama yang kurasa baik: berefleksi dan membuat resolusi untuk tahun selanjutnya. sempat tercetus di benakku bahwa baiknya tidak ada resolusi, karena aku tak lagi terlalu romantis dan sedangkal itu untuk membuat resolusi. tapi pikiranku berubah. aku rasa, resolusi tetap penting sebagai benang yang menuntun kita dalam setahun, harapan-harapan apa yang kita anggap paling ingin kita manifestasikan. semalam aku dan Aldo merefleksikan tahun 2024 ini, apa yang kami banggakan, dan resolusi seperti apa yang kami bayangkan terajut dalam satu tahun ke depan. 

tulisan ini bukan untuk memuat resolusi yang telah aku ciptakan, melainkan sebuah itikad untuk berefleksi. harapannya, kelak di tahun depan dan tahun-tahun setelahnya, aku bisa kembali ke tulisan ini untuk mengingat. 

Satu-satunya kompas yang bisa kita pegang adalah keyakinan pada diri dan tujuan hidup kita

aku masih sulit berpegang pada sesuatu yang abstrak seperti keyakinan. atau tujuan hidup. seperti ketika tesis, aku ingin yakin bahwa nilaiku akan baik-baik saja, bahkan bisa jadi bagus, tetapi nilai itu belum keluar, jadi bagaimana aku bisa yakin? aku selalu menautkan hal-hal pada kondisi material, dan susah untuk percaya pada sesuatu yang ada di dalam diriku. padahal, jika dipikir-pikir, aku dan 'sesuatu' itu telah tercipta dari pengalaman-pengalaman hidup yang tidak bisa direduksi juga. saat ini pelan-pelan aku sedang berusaha memupuk keyakinan pada diri dan fokus pada tujuan hidup, bukan hanya dalam ranah karir (aku menolak didevaluasi hanya sebagai pekerja dalam ekonomi kapitalis ini hahaha), tetapi juga hidup yang lebih luas: sebagai anak, sebagai pecinta dan orang yang pantas untuk dicintai, bahkan sebagai seseorang yang selalu haus akan pengetahuan dan perjalanan!

aku ingin lebih yakin pada diriku, bahwa aku yang sekarang merupakan diri yang semakin baik karena belajar dari kesalahan dan keberhasilan di masa lalu. semesta ini punya pintu-pintu yang misterius, yang bisa membuka pada kesempatan dan keberlimpahan dengan jalur yang bahkan tak terbayangkan. 

Fokus apa yang bisa kita kontrol, dan beranilah untuk berekspresi. 

aku lumayan kaget karena seringnya rejeki datang ke pangkuanku jika aku mau 'merendah' dan mengekpresikan kebutuhanku, ketertarikanku, apa yang tengah kucari dan yang bisa kubantu. salah satu contoh paling konkret, Rekam Pangan menjadi platform yang banyak membantuku untuk memperoleh beberapa pekerjaanku. di sana adalah wahanaku untuk bereksplorasi dan berekspresi, yang kuharap juga bisa menjadi wadah bagi orang lain untuk melakukan hal yang serupa, dan orang yang bertandang sedikit banyak bisa merasakan itu. melebihi Rekam Pangan, ini juga berlaku kapanpun aku sedang menyampaikan hal-hal yang kucari atau kubutuhkan.

aku ingin merawat praktik baik ini. terlebih untuk hal-hal yang kuingin eksplorasi di tahun-tahun berikutnya. 

Beralih dari menghukum diri sendiri untuk lebih menghargai diri sendiri, walau kadang kita harus 'sombong' sedikit. Walau juga, kita harus merenungi apa yang dimaksud dengan 'sombong'. 

ini masih terhubung dengan poin keyakinan diri. kurasa karena kita dibesarkan dengan nilai-nilai Asia, alias Asian values, bangga terhadap diri sendiri dan jual mahal dirasa seperti sesuatu yang tinggi hati, tetapi dalam beberapa kasus, aku telah belajar bahwa ini diperlukan. misalnya jika ingin dibayar murah dalam suatu pekerjaan (terlebih karena perusahaannya saja yang ndableg, bukan karena mereka juga lagi usaha cari uang). misalkan jika seseorang secara sadar atau tidak sadar meminta kita untuk merendahkan prinsip kita yang kita tahu itu benar dan pantas. misalkan jika seorang teman juga memperlakukan kita dengan tidak baik. atau bahkan bukan hanya dalam proses kita didevaluasi oleh orang lain, tetapi ketika kita juga didevaluasi oleh suara kelampau kritis nan cemas dari dalam otak kita: ah, kamu mah gak bisa. ah kamu mah dari dulu emang selalu susah untuk bisa dapet hal kayak gitu. ah, kamu mah emang sudah wayahnya dapet yang kurang. sepertinya aku ingin fokus: masa iya orang kayak aku gak bisa? kembali ke Shabia yang petakilan dan menerabas ini-itu, meskipun tentu saja, diiringi dengan prinsip yang kuat di dalam diri. 

Terakhir: hidup tidak selinier itu, dan tidak apa-apa untuk berbuat salah. 

sederhana saja. aku selalu takut salah, takut salah langkah, yang membuatku terus maju mundur. tapi hidup akan selalu punya konsekuensi, dan pastikan saja kita sudah siap untuk menghadapi konsekuensi. oleh karena itu, cara terbaik adalah kita paham betul alasan mengapa kita mengambil konsekuensi tertentu, dan bahwa kita punya strategi atau siasat untuk menghadapinya. 

sampai sejauh ini, ada banyak pembelajaran lain. misalkan: kesalahan pasti akan selalu ada, tapi percaya saja bahwa apa yang kita ambil itu telah dengan matang dipertimbangkan agar kesalahannya mengecil. pasti akan ada orang yang tidak suka dengan kita, dan selama kita tidak menjahati mereka duluan dan selama kita juga melakukan yang terbaik untuk berbuat baik untuk mereka, kita tidak perlu takut untuk kehilangan mereka. dan masih banyak lagi. dan masih banyak lagi. 

oh ya, aku juga perlu untuk menambahkan sesuatu yang dirasa tidak terlalu individual. catatan di atas sebenarnya adalah catatan untuk diriku personal, apa yang aku pegang ke depan, tetapi aku juga menolak untuk tunduk pada pemikiran kapitalisme neoliberal bahwa perjuangan sehari-hari hanyalah perjuangan individu, dan aku juga menolak membayangkan hidupku seperti piramida tempat aku bisa naik tangga dan meninggalkan rekan-rekanku di belakang. saban hari ketika aku sedang merasa takut gagal mendapatkan penghidupan yang menggajiku dengan layak, karena akses terhadap banyak hal hampir semuanya transaksional dan dihargai dengan uang, aku seperti tertampar dan terlempar ke bacaanku di kelas Ekonomi Politik Feminis. gerak ekonomi kapitalisme terus-menerus menghapus commons dan relasi sosioekonomi yang dimotori oleh prinsip solidaritas, percaya, resiprositas, dan banyak lagi. aku masih merawat idealisme untuk bekerja dalam institusi yang mendukung hal ini, alias: aku masih ingin bergerak dalam sebentuk aktivisme. hingga kini, kapanpun aku sedang melaju ke kehidupan yang lebih baik, aku tak bisa melupakan saudara-saudariku yang menerima ketidakadilan dan tekanan dalam hidup. oleh karena itu, ini catatanku juga:

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menolak individualisasi adalah dengan merawat atau menciptakan ruang-ruang yang tersisa untuk mempertahankan model-model ekonomi berbasis solidaritas, kepercayaan, dan resiprositas. Kupikir ini bukan hanya persoalan aktivisme, melainkan juga berpolitik sehari-hari dalam menjaga relasi dengan sanak, pacar, kawan baik, ataupun rekan sejawat.

Empat atau lima hal di atas kurasa sudah cukup untuk dijadikan pegangan, yang tentunya bisa saja berubah di tahun depan. Tapi hidup adalah soal perubahan, dan asalkan perubahan ini membawa sesuatu yang kurasa dan kunilai baik, aku akan merengkuhnya. 

Selamat menyambut dan merayakan 2025,

Shabia. 



 

Selasa, 13 Agustus 2024

()

the wind is strong but i am stronger.

Rabu, 01 Mei 2024

today I learn

 today i learn that i have to trust bell hooks, who once said:

"knowing how to be solitary is central to the art of loving. when we can be alone, we can be with others without using them as a means of escape."

it is ourselves that we have to trust, first and foremost. 

to face any pain with bravery; perhaps if we cannot confront or ask her today, ask her another day, "what makes you hurt?" 

to face any hardship with perseverance. 

--

it is us we can rely upon. it is us we rely upon. believing in yourself does not equal to being selfish and individualist, neglecting others' needs; for we could keep ourselves when we help others to keep their sanity intact.

thank you, bell hooks, for a kind reminder.


written while listening to Layur and Rara Sekar - Insignificant Other.



Selasa, 30 April 2024

my ma's happiness

today my ma sent a picture of her and her office mates winning lip sync battle. she uses an emo and gothic-like attire and I asked her, "mum, why did you dress like Evanescence?" she laughed and said, "I sang a song by My Chemical Romance! It has to be dark, don't you think?"

I smiled and replied, "yes." she sent me other three pictures. she laughed in every single picture. she seems so carefree. she looks pretty. she sent me other lengthy messages, so insistent that I catch every details of her performance: the jury's comments, the audience's reactions, the praise she received from her team.

I smiled and replied, "I'm glad if you are happy." because I am; my ma deserves the world but the world is sometimes very hard to her. I imagine she faces a different reality when she goes home, facing another round of harsh words and shallow commentaries by a man i should call 'father'. so, I'm glad if her office offers her another reality where she is beloved, and cherished, and appreciated, and respected.  a reality that should've present everywhere she goes. a reality where she does not have to get a mistreatment just because an immature man cannot manifest his ego. 

how could someone hurt a person who love them so much? how could someone do not fear of feel guilty when they inflict a pain on a person who take care of them so gently? 

i love my ma, but she teaches me that I should find someone who will try hard and harder and harder and harder to give me the love that I deserve. 



Sabtu, 20 Januari 2024

love that lasts (hopefully)

you are so persistent; like a dew trickles down and falls to a stubborn stone, like a ray of sunshine infiltrates a tiny bit of space of someone's warehouse, like the first London siren which wakes me up ahead of my alarm. you resonates a type of this intrusive energy that melts me down, into an insignificant being, something so small and hopeful and humbled and optimistic and fearful and brave and vulnerable and strong; something so complex yet so simplecontradiction of one another yet complement each other too. you reminds me of the colourful horizon that once clouded by big big cumulonimbus in gloomy London sky.

i came home today with a heavy heart. last night we spent an awfully good time, didn't we? we spoke myriads of things that have happened, is happening, and will happenin the near future or the far one. i compliment your smile and you compliment my presence. 

i came home today with a heavy heart, and i've already missed you by the time i stir my loneliness in my coffee. i put my heart on my pillow and she tells me about the story of this strong boy who likes to laugh and entertain, but hides a multiple layers of sorrow and forlorn. 

at that moment i know i love you so dearly. 

Ghibli Month: Whisper of the Heart – Bloom Reviews

----

written while listening on 'To Build a Home' and 'That Home' by The Cinematic Orchestra interchangeably. 

thank you, A, for coming into my life. 

Senin, 09 Oktober 2023

A new bestfriend

i think it is a misconception to illustrate that a person has so many layers like an onion. i am more inclined to believe that human have several layers like flowers, in which they shed their skins by their own will, and we just witness how they trust ourselves enough to grow together with us and finally are firm to show their own true colours. our task, however, is only to give necessary time and comfort space for the flower to complete its cycle. stand a bit close but not too close it will harm them. have a faith and embrace them but not too tight they cannot regulate their own bodies. afterwards, we could also pick up the petals and keep it to both of us, as a memento that once it covered the person beautifully (but maybe not so truthfully). the flower now is probably seem less pretty; but I can sense it is lively and ripe -- for it has pistil and stamens that will manifest as another prominent organism elsewhere.

a flower is a subject of beauty and so friendship is. 
thank you mas riz for the friendship (and trust). when you were gone I felt a tad bit sadness and loneliness and that time I know that you are dear to me. 

your bestie,
bia. 


Kamis, 27 Juli 2023

Smallest Interaction

This is how it feels like if you're having a crush, bur you keep silent about it, but you lowkey are longing for interaction and communication that will cheer up your entire day, but you don't express it anyway. every replies will ignite your heartbeat. every sources about him will be an artifact that you analyse really carefully, wholeheartedly. even his username on your instagram views will make you smile.

it's quite pathetic, isn't it? I recently saw from Instagram that if you feel like you're attached or attracted to someone so strongly though you barely know each other, it is most likely because of (1) you're bored --  you have nothing going on in your life at the moment and your brain identifies this person as a form of  'excitement', (2) you're trying to avoid painful and overwhelming situation in your life right now, so you associate this person as a form of 'distraction', and (3) you want what they have (or what they represent to you), whether it's their discipline, success, assertiveness, etc etc, so they are a form of 'reflection' to you. i cannot deny all these factors, as my life (especially the romantic sphere) has been suck for the last 6 months, and it was when I met him, I finally felt something. not as cliché as love, but probably ... attraction.

these last two days I scanned his name on my instagram views and found none. i wonder if this is because he is busy or he might do something with my account (mute me?) or if it's just an instagram random algorithm that push my story away from his top 10. the second thing is quite impossible, as I highly doubt he feel such a strong emotion towards me to the point he want to mute me. see, I stress over something so trivial and again: it's quite pathetic, isn't it? 

but just a few minutes ago I see his name. 

I smile. 

while I pray that this constant attraction just flickers away like fireflies who went to their home after the morning light, I'm also grateful since I could find peace in the smallest interaction and I am still able to like someone.

or: let's wake up from your delulu-ness and make him as one of your close friend, and see if things going well afterwards, shabia.   

 


Sabtu, 13 Mei 2023

Transportasi Publik

i.

aku lupa betapa menyenangkannya naik transportasi publik. 

merasakan ruang yang dibagi serasa personal tapi impersonal juga. menyaksikan diri ini melaju melintasi aneka tempat dan waktu, mengenali perubahan dan nir-perubahan, dan mengamati penumpang lain. waktu melambat dan melembut meskipun sama saja ritmenya. merasa sejenak berkuasa untuk memindahkan beban mobilitas ke bahu pak supir, masinis, atau apapun namanya, karena yang kita lakukan hanya duduk diam sembari menanti tiba di destinasi. merasakan derum di bawah kaki dan mendengar mesin saling beradu; nyaring heningnya tergantung mode transportasi yang kita naiki. buatku yang mengandalkan waktu, energi, dan perhatian untuk memacu motor bebekku membelah jakarta, naik transportasi publik memberikan pengalaman yang 90 derajat berbeda; pengalaman yang meditatif, karena untuk pertama kalinya aku jadi pasif. tentu ini hanya terjadi kalau transportasi publik cukup sepi, hal yang memberikan konteks dalam catatan kecil ini: aku suka naik transportasi publik di akhir pekan. kalau di hari biasa aku pasif tapi tetap harus siaga juga, kalau-kalau ada bahaya mengintai di balik tangan nakal yang mengincar barang-barang atau tubuhku.

ii.

hari ini aku naik transjakarta, tapi bukan rute yang biasa. setelah turun di Fatmawati, perjalanan dilanjutkan dengan naik MRT. dalam interval sebelum dan sesudahnya, diselingi berjalan kaki. 

tentu berjalan kaki tidak sesyahdu naik transportasi publik, tapi tetap menyenangkan juga. tidak ada yang memburuku, tapi aku senang lari-lari menjajaki hitam-putih lintas zebra yang merentang di lampu merah. sesudah itu kaki akan terasa sakit, tapi bisa dilemaskan sejenak di dalam kereta. tampaknya aku senang membentuk skenario waktu yang sempit di tengah-tengah peralihan mode transportasi, karena dengan berjalan cepat aku bisa menyambar pilihan kereta yang paling cepat pula.

begitu pula pas pulang, aku masih berlari-lari kecil, menyelinap di antara rombongan pesepeda motor dan pengemudi mobil yang berdesak-desakan di lampu merah. hari ini aku pulang malam hari, jadi jalan kakiku semakin menyenangkan. aku harus lewat bawah jembatan flyover fatmawati yang gelap, tetapi ada pedestrian buatan yang di kirinya ada pepohonan. daunnya menjuntai seperti semi-kanopi, membuat suasana agak remang-remang tapi tak gelap sepenuhnya karena lampu jalanan dan cahaya dari mobil-mobil. aku membayangkan diriku ada di terarium di bawah hutan beton, dengan pencahayaan artifisial yang tidak terlalu maksimal. sebuah perasaan aneh menyelinap, bahwa perjalanan ini milikku dan hanya untukku seorang, jika aku hilang orang di depan terlalu jauh untuk menyadarinya, dan aku berada di tengah kebebasan tetapi juga ketidakberdayaan. 

di fatmawati perempatannya besar sekali, dan ruwet, dan terang, tapi aku biasa berhenti sejenak untuk membaca tulisan-tulisan di baliho yang warna-warni, menikmati untaian narasi yang disusun tim pemasaran untuk memikat orang-orang. tapi tanpa itu pula, aku senang bagaimana warna-warna itu membuat suasana menjadi semakin upbeat, semakin cyber, seakan hal-hal digital bisa membuat kita merasa transenden. 

iii.

di dalam transportasi publik hari ini aku membaca Normal People karangan Sally Rooney, yang bukunya kubeli karena aku suka filmnya. di dalam salah satu bab ia menulis soal pemikiran protagonis lelaki bahwa kita memilih untuk menyukai sesuatu karena hal itu tidak membuat kita mengkonfrontasi hal-hal buruk dari diri kita yang kita coba untuk abaikan. tapi cinta seperti ini takkan pernah berhasil, bila ada jenis cinta yang menguliti diri kita hingga ke sungsum tulang paling dalam yang membuka tabir keganjilan diri kita; hal-hal tabu, hal-hal aneh, hal-hal yang tak jelas juntrungannya tapi itu diri kita juga. dan bagaimana jenis cinta seperti ini membuat kita diterima, suatu konsep yang bahkan tak kita kenali karena berbagai trauma sejak kita belia. kita tapi tak bisa membohongi bahwa kita ingin merengkuh cinta yang ini, betapapun logika membuat diri kita enggan melakukannya. 

cuplikan bagian yang paling kusuka:

in the weeks they've been apart, his emails to Marianne become lengthy. He's started drafting them on his phone in idle moments, while waiting for his clothes in laundrette, or lying in the hostel at night when he can't sleep for the heat. He reads over these drafts repeatedly, reviewing all the elements fof prose, moving clauses around to make the sentences fit together correctly. Time softens out while he types, feeling slow and dilated while actually passing very rapidly [...] He couldn't explain aloud what he finds so absorbing about his emails to Marianne, but he doesn't feel like that it's trivial. The experience of writing them feels like an expression of a broader and more fundamental principle, something in his identity, or something more abstract, to do with life itself. (h. 117)

protagonis lelaki ini merasa seperti ini mungkin karena ia juga berada sedang dalam perjalanan, dan waktu yang melambat dan melembut ini mengizinkan inspirasi untuk datang dan menelusup dalam ekspresi yang ia tuangkan dalam surel untuk Marianne. dan mungkin inilah yang ajaib dari perjalanan, terutama perjalanan yang banyak diwarnai oleh transportasi publik. terutama jika menjalaninya hanya dengan diri sendiri, sehingga proses dialog terjadi secara internal, privat, dan lebih intim. 

iv.

aku suka transportasi publik. 

hari ini aku melaju berpuluh-puluh kilometer, kalau aku lihat Google Maps. kalau melihat Samsung Health, aku melangkah 17.368 langkah hari ini, yang berarti 16.73 km. betapa terasa pasif tapi produktifnya langkahku, bukti bahwa manusia dalam hidupnya pun bisa jadi produktif meskipun perjalanan dilihat bukanlah sesuatu yang bermakna dan perlu divaluasi.

aku suka transportasi publik.

mari kita lihat apakah dalam waktu dekat aku akan naik transportasi publik lagi. 

 

  

Minggu, 07 Mei 2023

Car Conversation

 "you could be more confident." a brief silence. a soundless moment to plan the words after. "not that you should, it's your decision and life, it doesn't have to be forced. but i do want you to know that your insecurities... it's definitely not something that i see on yourself."

another silence.

"to be honest, you are the one of some persons that i look up to." 

it was raining cats and dogs outside when I stepped out from the car. I don't remember what I said next, except something to lighten the mood, because the conversation was a little bit outside our charted territory, something we haven't indulged in if we're sober, and I was desperate to put it back in its place. This talk was something we won't do unless the world has become darker and slower in its pace. We used to talk a myriad of unsafe topics too but it was performed under liquid courage.

just before the sleep took me over, I stared at my chat room and texted, "thank you for your kind words."

but our dynamic has come back to its nuances; light-hearted, on-surface, not even platonic... just friendly. a friend who will be there for another friend, a friend who ask another out for trivial reasons. 

he responded with familiar manners, back to his unserious tone. but he was serious back then, and he was kind, and his words were wise, and that's enough for her to continue her dull life. 



Rabu, 01 Maret 2023

Guru

 "Seorang murid ternyata adalah orang yang berhutang besar kepada gurunya, dan hanya punya kesempatan membayar hutang tersebut kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, jika jabatan guru besar ini merupakan kehormatan, maka ini adalah kehormatan guru-guru saya. Jika jabatan ini adalah rahmat, mudah-mudahan ini menjadi rahmat bagi para mahasiswa saya. Dan jika ini adalah amanah, dengan rendah hati saya terima jabatan ini sebagai tanggung jawab saya." -- Mas Pujo (sekarang lengkapnya: Prof. Dr. Pujo Semedi! Bangga sekali)


Kembali diingatkan bahwa pendidikan adalah arena yang dikunjungi bukannya tanpa kemewahan dan tanpa tanggung jawab. Ibarat memasuki arena sebagai atlet lari estafet, tongkat yang diberikan oleh guru-guru saya harus saya teruskan kepada pemegang berikutnya, dan hanya kepada murid saya selanjutnya tongkat tersebut dapat berpindah ke murid-murid yang lain. 


Selamat, Mas Pujo, dan terima kasih karena sudah membuat mbrebes mili 10 menit sebelum tengah malam! 



Sabtu, 04 Februari 2023

Penghujung Mimpi Hari Senin


kamarku tak pernah gelap. lubang angin selalu memberkaskan cahaya. mata yang tak jeli sekalipun bisa menangkap bayang-bayang dan siluet, dan dari netraku kutangkap: di seberangku ada dirimu. dalam posisi yang sama sepertiku. berbaring menyamping. tangan terselip di satu sisi pipi. bangun mata nyalang. 

kita tidak bicara apa-apa. hanya berhadapan, saling berpandangan, tapi juga tak memandang satu sama lain. pikiranmu jauh. pikiranku juga. kalau ada yang saling berpandangan, mungkin itu rasa sepi di dalam tubuh yang tak bisa dituangkan ke dalam kata atau kiasan. atau kita tahu kita tidak mampu untuk menerjemahkannya. karena obrolan kita di dunia nyata tidak pernah jauh-jauh dari canda dan tawa. 

berapa detik sudah lewat? rasanya kamar ini hening sekali. kita tak juga beranjak. atau bersuara. masih dalam posisi yang sama. hanya di dalam diriku ada rasa yang tak biasa, seperti ada keinginan untuk berbagi. berbagi apa, aku tak tahu. kubayangkan bentuknya seperti bola asap yang berubah-ubah bentuk dan berdenyut, menekan kerangkeng semu yang memerangkapnya, berdenyut, mendesak. lalu menerima, berubah warna, bebas dari penjara.

aku bergerak. 

kugeser tubuhku ke sisi kasur yang kanan, agar sisi kiriku lapang. 

kau bergerak. menyeberangi ruangan.

menaruh tubuhmu di sisi kiriku. 

tidak melakukan apa-apa. hanya terbaring di sana.

kesepian dalam diriku hening. bola asapku tak bergeming.

pintu kamarku terbuka. Ibuku berdiri di birainya. 

"Jadi antar Mama?"

"Jadi. Beri aku lima menit."

Mamaku mengangguk.

"Tutup pintunya, Ma."

Pintu tertutup. 

Kamarku tak pernah gelap. Lubang angin selalu memberkaskan cahaya. Mata yang tak jeli sekalipun bisa menangkap bayang-bayang dan siluet, dan dari netraku kutangkap: di seberangku hanya ada almari, tak pernah ada ranjang, tak pernah ada dirimu, tak pernah ada gerakan yang menghantarkan satu tubuh untuk berbagi hangat dengan tubuh lain, tak pernah ada keheningan.

Aku masih tertidur di sisi kanan kasurku. 

Tak ada siapa-siapa di sisi kasur kiriku.

Bola asap masih berdenyut di dalam relung dadaku. 


selamat tidur. 

Sabtu, 24 Desember 2022

Surat Untuk Sahabatku: Dewi Bulan (Jia)

Dear Jia,

(Kamu kupanggil begitu karena sahabat kita yang satu lagi pernah memberitahuku namamu dalam bahasa Mandarin. Dan kucari di gugel, artinya bisa jadi perempuan luar biasa. Sementara nama panggilanmu yang biasa katanya berarti dewi bulan)

Semoga kamu dalam keadaan baik. Atau kalau sedang tidak baik-baik saja, semoga kamu dalam keadaan cukup baik untuk bisa melangkah dan dikelilingi orang-orang yang sayang padamu. Kalau tidak salah hari ini kamu akan pulang ke kota kelahiranmu, bertemu Mama dan artinya tidak akan sendirian. Aku tentunya mau minta maaf dulu karena hari-hari terakhir ini begitu sibuk untuk urusan duniawi dan tidak bisa dengan mumpuni berada di sisimu.

--

Jia, aku pernah mengingat satu masa di mana kamu menceritakan satu orang secara partikular dengan mata berbinar. Bagaimana kamu menceritakan gestur-gesturnya, termasuk kebaikannya pada makhluk kecil kita yang menghuni bumi (baca: kucing). Kamu bertemu dia setelah perjalanan panjang menghabiskan energi dan waktu untuk laki-laki yang tak pantas buatmu. Aku masih ingat pada saat itu merasa lega, karena kamu akhirnya menemukan seseorang yang pantas, layak, dan yang paling penting: memberikan afeksi yang sehat dan memperlakukanmu dengans etara. Dari dulu ucapanmu selalu sama: "Doakan ya, Bi." dan kamu bercerita ekspektasimu pada saat itu benar-benar kamu rendahkan, agar kamu tidak terburu-buru, memburu-buru, atau merasa kecewa dengan prosesnya. Aku masih ingat kamu ingin hal ini berjalan dengan hati-hati dan tentunya disadari. 

Jia, hampir seminggu yang lalu kamu mengabariku bahwa orang ini, yang ternyata berproses bersamamu dengan serius beberapa bulan belakangan dan kamu percaya hampir sepenuh hati, memutuskan untuk berpisah jalan darimu. Perasaan dingin kurasakan, dan yang paling dominan adalah merasa khawatir karena rasanya pasti sakit sekali. Baik bagaimanapun pasti susah bagimu untuk percaya, apalagi menitipkan hatimu, hanya untuk remuk karena keputusan ini. Aku bisa merasakan emosimu campur aduk: kecewa, kesal, sedih, terluka, kehilangan, mungkin ada penyesalan dan juga pertanyaan-pertanyaan yang melesak di benak yang tak juga terjawab: kenapa begini? kenapa begitu? kenapa tidak bisa begini, atau begitu? 

Mungkin juga kamu merasa dirimu begitu kurang, hingga akhirnya ia pergi.

Atau merasa bodoh, karena ia memilih untuk pergi (di saat kamu masih mau memperjuangkan ini meski juga tidak bisa dibilang tidak setengah mati). 

Merasa tak berdaya. Hatimu tak tenang, pikiranmu juga. Merasa kosong dan hampa. Kemudian ada kesepian yang amat sangat ... Namun karena kita orang dewasa, semua ini harus kita tekan ke ambang batas emosi yang ditolerir dalam ruang yang bukan dihuni kita saja: ketika kita bekerja, ketika kita bersua orang lain, membuatnya merebak begitu dahsyat kalau kita sedang sendirian. 

--

Jia, memang sangat menyebalkan ketika kita mempertaruhkan perasaan dan rasa percaya kita untuk seseorang yang pada akhirnya tidak cukup siap untuk menerima dan mengolah perasaan itu. Dan rasanya tak adil ketika di masa kita masih mempertahankan dinding untuk melindungi diri agar tak terluka, seseorang malah berjuang sepenuh hati agar kita menggerus dinding ini pelan-pelan, hanya untuk meninggalkan kita dan membuat kita kembali ke perasaan itu lagi. Lalu saat kita ingin berjuang dan berupaya keras melakukannya, ia yang merasa bahwa perjuangan ini terasa tidak bermakna. Atau merasa bahwa kamu tidak pantas berjuang karena kamu berhak untuk beristirahat, atau tidak kepikiran banyak hal.

Mungkin tidak adil juga di dalam satu hubungan, kita mengidam-idamkan afirmasi dan rasa nyaman untuk membuat dua orang saling merayakan relasi dan keberadaan satu sama lain, tetapi orang lain mengartikan itu sebagai suatu hal yang terlalu menekan dan membuat sesat pikir. Mungkin karakter orang terlalu kompleks, masa lalu mereka terlalu membuat diri mereka tidak bisa mengkompromikan hal-hal, dan masih menjadi misteri kapan kita mengerti bahwa ini persoalan ego saja (sehingga ada keinginan egois untuk tidak mau bertemu di tengah) atau bukan itu saja.

Namun bagaimanapun, keputusan memang sudah dibuat, dan ini adalah pilihannya, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menghargai pilihannya dan berfokus pada penyembuhan diri kita, meskipun tentunya ada hal-hal yang tidak boleh kita lihat sebagai salah kita semata dan akan jadi bumerang untuk kesehatan jiwa, raga, serta pikiran kita.

Kalau aku bilang segalanya baik-baik saja, itu akan cliche sekali dan menafikan segala kerja keras yang tubuh dan pikiranmu lakukan agar kamu tidak terlalu terpuruk. Dalam beberapa minggu bahkan bulan ke depan mungkin takkan baik-baik saja. 

Membasuh tubuh dari sisa-sisa memori butuh waktu yang lama. Tapi bukan berarti tidak bisa. Jia dulu pernah bertekad, bahwa apapun ini akhirnya, yang paling penting adalah memberanikan diri untuk merasa, dan belajar, dan bertumbuh dari prosesnya. Kamu sudah melakukan itu. Jia yang ada di muara relasi ini adalah Jia yang pemberani, bijak, dan menguasai hal-hal yang tidak bisa dilakukan Jia di hulu relasi ini. Dan untuk hal-hal itu, kita bangga dengan Jia. 

Sekarang kita fokus ke penyembuhan diri, tetapi sekaligus merayakan kebebasan: setidaknya apa yang menjadi sesat pikir sekarang jelas (meskipun dengan kepergian). Tapi kamu sekarang kembali bisa memiliki dan memeluk diri sendiri tanpa pelbagai pertimbangan yang bikin sakit kepala tiap hari. 

Kamu bisa melakukan ini :) 

P.S: aku mengirimkan puisi Sarah Kay juga untukmu di sini.

Salam hangat,

Shabia



Rabu, 02 November 2022

Beruntung

aku gadis yang sangat beruntung.

terselamatkan oleh banyak hal. 

kukira kapal penyelamatku paling besar adalah mama, karena berkatnya aku punya prinsip dan perspektif yang cukup kuat untuk menghadapi hidup ini. untuk merasa dikasihi tetapi tidak dimanjakan, dan menikmati hal-hal yang meskipun bukan kemewahan, tetapi tetap menimbulkan kenyamanan. mama adalah ibu yang sudah siap jadi ibu. orang tua yang sudah siap jadi orang tua. semakin dewasa, aku melihat ada banyak orang dewasa yang tidak siap jadi orang dewasa, apalagi jadi orang tua.

kapal penyelamatku yang kedua adalah, aku hidup di ibukota dan lahir dalam keluarga kelas menengah yang dikelilingi oleh keluarga-keluarga kecil dengan ekonomi menengah ke atas.  

aku beruntung karena aku hampir bisa merealisasikan mimpi-mimpiku dan hal-hal yang kubatinkan tanpa susah payah. aku bisa diterima kampus yang kuidamkan. bisa pergi ke sebuah negara yang kuimpikan sejak kecil. bisa menginjak benua Eropa beberapa kali, tanpa pernah pakai uangku secara penuh. aku bisa keterima beasiswa di kali pertama, keterima sekolah di kali pertama. aku hampir pasti masuk ke beberapa kesempatan belajar semasa kuliah dulu, meskipun pernah ditolak juga. aku diterima pekerjaan yang sekarang tanpa melamar secara sengaja.

keberuntunganku adalah alasan mengapa aku tertarik dengan konsep ekonomi solidaritas. bahwa ekonomi yang melingkupiku (karena hal-hal di atas dimungkinkan dan memerlukan hubungan transaksional juga) dapat terbangun karena banyak jejaring pengaman yang dibangun dengan landasan kepercayaan yang dibangun dari keseharian. itu lah mengapa pendulum tentang keberuntungan ini selalu bergerak bolak-balik dari kutub kesempatan dan kepercayaan. dan energi geraknya adalah solidaritas. dan karena keberuntungan ini pula, aku selalu merasa gelisah untuk membentuk ruang yang sama: ruang yang berisi harapan, dibangun dengan prinsip solidaritas, dan dimotori dengan keadilan. 

memperoleh beasiswa tak perlu les atau mentorship yang dibiayai. hanya perlu beberapa kelompok belajar yang tentunya datang dari aneka ragam privilese dan kemampuan untuk berbagi secara gratis, misalnya. 

aku berharap keberuntunganku ini akan semakin menyuburkan keinginanku untuk berbagi dan membentuk ruang-ruang solidaritas. dan semoga aku bisa mewujudkannya. amin. 

Rabu, 31 Agustus 2022

di balik tabir

Pasti ada alasan mengapa embun pagi tak lagi muncul pada pukul empat dinihari

Dan daun-daun hanya diwarnai seberkas debu yang kering, hilang ketika sinar matahari pertama muncul di ufuk timur

Pasti ada alasan mengapa langkah-langkah bayi yang tadinya menggaung dari ruang sebelah dinding itu

Kini senyap, menyisakan gema yang nirmakna dan lindap

Pasti ada alasan mengapa sirkus misterius di atas bukit itu dibubarkan

Dan para pemain luntang-lantung mencari penghidupan yang mungkin lebih mapan

 

Pasti ada alasan mengapa waktu berhenti dan musim melakukan satu putaran penuh

Kendati daun gugur belum jadi hara, kristal salju belum jadi miasma, serbuk sari belum jadi bunga,

Kau dan aku

Belum jadi apa-apa

Rabu, 24 Agustus 2022

Cecak di Kamarku

setidaknya ada sekitar tiga cecak di kamarku, dengan karakter yang berbeda-beda. 

yang satu badannya besar. jarang muncul. teritorinya berada di belakang lemari dan ia hanya akan nongol pada waktu-waktu yang nokturnal: di atas pukul 22.00, di saat ia pikir aku sudah tidur, padahal belum. cecak yang ini tampaknya adalah tipikal cecak jantan yang demen memelihara karakter misterius karena sebentar-sebentar ia undur diri ke kerajaannya di belakang lemari. sebentar-sebentar muncul lagi. lalu mundur lagi. haduh, capek. beberapa bulan yang lalu, saat aku setengah mengantuk, tampaknya aku mendengar dia kawin, barangkali dengan cecak betina yang menghuni kamar mandiku (yang sering jatuh menimpaku). cecak ini maskulin sekali kalau kubilang. 

yang satu lagi badannya sedang, paling percaya diri dan nomaden. cecak yang ini tinggal di dekat koperku yang warnanya merah muda, wilayah yang mungkin paling hangat di antara furnitur-furnitur lain di kamarku. wilayah jelajahnya luas dan ia melintas cepat sekali, dari koper sampai ke kamar luar, barangkali ia suka menaklukan aneka topografi (tebing koper, gurun pasir [re: tikar lampit-ku yang kubeli dari kalimantan selatan], dan lumpur penghisap alias kesetku yang pating kriwil dan bisa membuat seekor cecak belibet di sana). cecak yang ini agak sulit ditelaah karakternya karena ia begitu merkurial, tapi satu hal yang pasti: ia suka petualangan.

cecak yang paling kecil adalah favoritku. sampai sekarang aku tak tahu asal muasalnya di mana, tapi ia sering menunjukkan diri di tempat-tempat yang justru paling sering kuhuni. pernah satu kali membuatku jantungan karena melintasi jempolku (aku pikir dia kecoak), pernah satu kali melintas di belakang laptopku saat aku sedang kerja di dekat jendela. seperti cecak kedua, ia juga percaya diri, tapi basis percaya dirinya lebih dilandasi pada karakter berani mengambil risiko. mungkin juga ia ramah, karena sesekali kuyakin ia melirik dengan mata hitamnya yang tidak ada iris ataupun kornea. seperti mereka-reka apa reaksi yang akan kuberikan kalau dia melengos saja melewati aku yang sedang memerhatikannya. tampaknya ia juga jenaka, karena suka bikin aku kaget. tapi cecak ketiga ini buat aku sayang padanya, dan kadang menunggu saat-saat kemunculannya.

aku belum pernah melihat ketiga cecak ini berinteraksi satu sama lain, meskipun aku tak yakin juga apakah jadi sifat cecak untuk berkolektif dan saling bahu-membahu. bagaimanapun aku tak pernah baca di literatur manapun bahwa cecak adalah makhluk sosial. atau bikin koperasi atau komunitas. aku cuma sering lihat mereka sama-sama kalau mau kawin, mau makan nyamuk, atau kalau kebetulan lagi sama-sama mau jalan-jalan saja. sepertinya cecak adalah makhluk yang soliter dan bodo amat: sifat yang kuinginkan tumbuh di diriku.

cecak di kamarku barangkali tidak tahu aku siapa, atau aktivitasku seperti apa. kalau mereka punya nama, aku juga tidak terlalu paham bahasa mereka sampai bisa berkenalan dan mengetahui nama mereka siapa.

tapi aku ingin jadi cecak di kamarku. terutama cecak yang ketiga. cecak kecil mungil yang sering lewat di mejaku tanpa tedeng aling-aling, izinkan aku berguru padamu, ya, boleh gak kira-kira?




Kamis, 18 Agustus 2022

Sigur Ros: momen berharga

cerita ini akan dimulai dari pengawal yang cukup banal untuk nonton band favoritku dan liesta:

photo courtersy: Merio, 2022 

diawali dari impulsivitas pada bulan April 2022. dan poster hitam yang bilang bahwa setelah sekian tahun (dari 2013, berarti berapa tahun?), Sigur Ros world tour lagi. aku lupa kronologinya, apa waktu itu jari-jemari ini langsung tergerak unggah poster dan mengumumkan pada dunia bahwa aku sedang cari teman nonton konser, tapi saat itu aku terhubung sama liesta dan langsung sepakat dengannya untuk nonton bareng band dari Islandia ini. dan voila, kami pesan kursi dan dapat dua tiket early bird untuk nonton Sigur Ros tanggal 17 Agustus 2022 di The Star Performing Arts Theatre Singapura!!!

lol, memang kantong langsung jadi boncos karena 1.7juta melayang. tapi dibandingkan ngarep nonton langsung ke Reykjavik yang superduper mahal itu (nyaris imposibel tanpa dibayari kantor atau elpidipi, ya), posibilitas ini harus disambar.

long story short, dari April ke Agustus (5 bulan, mennn), aku dan liesta merencanakan perjalanan untuk bertemu dengan Jonsi dan teman-temannya. kami nabung, pesen tiket pesawat (paling murah), pesen akomodasi (budget rendah), dan planning 3 hari 2 malam di Singapura. tujuan utama kami ketemu Jonsi, jadi pelesir di negara Macan Asia ini cuma jadi pemanis saja. dipikir-pikir perjalanan ini lucu juga, karena Liesta yang juga mengenalkan Sigur Ros ke aku, bantu menjelaskan ini tuh band opoto, siapa mereka, mereka ngapain ... dan perkenalan ini berujung pada malam kemarin, aku dan Liesta masuk ke Star Theatre yang bangunannya pun bagus banget, nangis dan senyum bahagia menyaksikan Jonsi, Kjartan, Orri, dan Georg mempersembahkan lagu-lagu mereka. 

Sigur Ros

agak mundur sedikit kenapa aku bisa jatuh hati sama Sigur Ros. beberapa tahun ini aku sadar aku adalah tipe orang yang jatuh cinta sama karya/musik seseorang bukan karena liriknya, tapi pertama-tama benar-benar pada aransemen dan atmosfer yang dibangun instrumental si musisi/senimannya (kecuali mungkin Barasuara kali ya.. they've enchanted me with both aspects). jadi kalau ngintip Spotify-ku musikku banyak yang liriknya ya B aja dan kebanyakan soundtrack film. 

dalam mencoba memahami diriku dan seleraku dengan musik, aku sadar aku bukan tipikal orang yang bisa mengidolakan satu musisi dan ngikutin karya-karyanya. tetapi karya-karya tertentu aja baru ditelusuri ke musisinya. jadi ketika di suatu hari di mana aku lagi siap-siap untuk fieldwork ke Jerman, lantunan Hoppippolla masuk ke rekomendasi Spotify dan aku suka dengan lagunya. sedikit kuketahui, ternyata lagu ini ini basic Sigur Ros banget dan lagu mereka yang paling populer. tapi waktu aku mencoba mendengarkan beberapa lagu lainnya, kurang begitu cocok. dan balik lagi ke prinsip pertama, kalo ada beberapa yang ga cocok, aku ga langsung ngikutin si musisinya.

barulah ketika aku pergi ke Freiburg, terus muter Hoppippolla lagi tanpa berniat mencari lagu Sigur Ros lainnya, dan malah algoritmanya mengarahkan pada beberapa lagu yang mungkin relevan dengan selera musikku yang gitu-gitu aja dan jarang ada liriknya, aku dikenalkan ke Ekki mukk. Kurang lebih begini liriknya kalau diterjemahkan:

Unreal
You appeared to me
To no other
And became nothing
 
We hold our breath
As long as
We can achieve
We close our eyes
And hold our hands against our ears
We hear no sound
 
Breathing
Heartbeats
Breathe and dive down
And travel

dari https://lyricstranslate.com/en/ekki-m%C3%BAkk-no-sound.html

aku denger ini dalam posisi lagi dicemplungin di lokasi riset yang dilingkupi musim dingin, dalam posisi jauh dari siapa-siapa (perwakilan UGM lainnya pindah ke desa di tengah-tengah periode riset dan aku sempet tinggal sendiri), gak bisa berbahasa Jerman, dan Jerman sendiri bukan benua paling hangat untuk menimbulkan rasa kerasan dalam waktu yang sekejap (meskipun informan di tempat penelitianku ramah-ramah). Aku lagi ngerasa hopeless. awalnya aku ngerasa Ekki mukk ini memvalidasi perasaanku karena dia bicara soal orang yang mengembara lalu tersesat. Nuansa musiknya juga bikin desperate abis. Tapi lalu kudengarkan liriknya yang ternyata mengena sekali: "jaga napas dan tutup mata", kuartikan bahwa aku harus menampik emosi-emosi jelek yang bikin aku stuck dan tetap bernapas, menyadari detak jantung, dan berjalan. Ini semua diiringi dengan musik Ekki mukk sendiri yang awalnya gak ada suara piano dan membangun emosi soal perjuangan, dilanjutkan dengan reff yang naik perlahan dan lamat-lamat jadi hopeful. tepat seperti apa yang ingin kurasakan waktu itu.  



Sejak saat itu aku denger musik-musiknya Sigur Ros. main ke Basel sembari liat burung-burung terbang di danau aku dipertemukan dengan Staralfur (waktu itu mulai masuk musim semi, jadi pas). Pas di Berlin aku dengerin macam-macam lagu dia: Olsen olsen salah satunya, ditambah Samskeyti (Untitled #3), dan Svefn-g-englar. Ketika aku lagi apply-apply beasiswa untuk S2-ku baru-baru ini, Rembihnutur, Glosoli, Fjogur piano, dan Saeglopur masuk dalam kehidupanku. Aku punya titik kesukaan berbeda-beda sama lagunya Sigur Ros: aku suka Samskeyti yang diulang-ulang tetapi menekankan pengharapan dan dominan suara pianonya, sementara Rembihnutur lebih kepada revelation dan suara Jonsi di sini kayak semacam imam yang lagi cerita nabi-nabi (hahaha, tapi ini interpretasiku ya). Tampaknya aku suka lagu-lagu Sigur Ros yang lebih ke arah ambient dan dream pop--meskipun beberapa yang bener-bener post-rock kayak Brennistain atau Isjaki aku juga suka-suka aja. seperti dibawa sama Sigur Ros untuk melihat alam Islandia, menyerap emosi-emosinya, dan mengakui bahwa kita ini kecil saja dan hanya numpang lewat di alam raya.

Satu review di Youtube bilang misteri Sigur Ros terbesar adalah gimana bisa dia menyihir orang dari berbagai latar belakang budaya dan bahasa yang beda, untuk suka sama lagu yang kata-katanya sendiri aja mereka gak ngerti? Kupikir kunci jawabannya ada di cara mereka mengemas dan mengombinasikan instrumennya -- aku baru benar-benar ngerti gimana Sigur Ros bereksperimen ketika ngeliat Jonsi, Kjartan, (bahkan kayaknya drummer-nya juga deh), gak cuma menguasai satu instrumen/alat musik tetapi juga gonta-ganti, Jonsi ngegesek gitar (apa bass?), pakai semacam kolintang yang berdenting, dan pakai alat (sepertinya semacam synth pad?) untuk loop serta mendistorsi suara mereka sesuai makna yang ingin mereka sampaikan. Sigur Ros banyak menambahkan musik-musik yang sebenarnya aneh dan liminal, tapi sifatnya yang banal dan sehari-hari relatable buatku dan mungkin untuk banyak dari kami sebagai penggemarnya. Ekologi juga jadi inspirasi buat mereka: hal yang bikin aku ngerti juga kenapa aku ngebayangin bukit, padang, fjord, dan sungai-sungai negara-negara Skandinavia kalau denger musik mereka. 

Experience, not a Concert

Aku harus jujur bahwa pas konser kemarin aku sempet blank di beberapa lagu yang dibawain Sigur Ros kecuali beberapa lagu yang udah familier di atas: setidaknya aku mengenali Ekki mukk, Samskeyti, dan Svefn-g-englar, samar-samar mengenali Saeglopur, tapi aku menikmati semuanya. Tapi aku gak menemukan ini sebagai masalah, apalagi membuatku jadi kena tanggung. Paduan antara lighting performance, cara Jonsi improve nyanyian mereka, dan bahkan performance mereka (misal Jonsi yang nandak-nandak dan nunduk-nunduk di paruh penampilan terakhir), juga pas mereka berempat duduk sama-sama di Heysatan/Popplagid, menyihirku untuk tetap menikmati musik mereka. Maka dari itu bagiku nonton Sigur Ros lebih kayak mengalami daripada sekadar menyaksikan. Lagu-lagu mereka bukan tipikal yang bisa diikutin ritmenya apalagi dinyanyikan sama-sama. Yaudah nonton aja gitu, merenungi kehidupan, dan untukku: nangis di beberapa lagu.

Bukti bahwa rasa cintaku ke Sigur Ros akan terus berjalan dan akan selalu ada hal baru yang kutemukan dari mereka salah satunya adalah ketika aku berkenalan sama  lagunya Sigur Ros yang aku belum pernah dengar atau masuk ke Spotify-ku secara gak sengaja: Smaskifa. Di lagu ini Sigur Ros pakai alat tiup dan piano yang tutsnya ditekan sama-sama dalam waktu yang lama, dikasih efek suara anak kecil yang semakin menggema dan nyanyian yang berupa gumam-gumaman. Aku terenyuh sekali dengarnya, karena bagiku lagu ini seperti menggemakan suara-suara keresahanku soal mimpi masa kecil dan diriku yang lebih kuat dan lugu di masa lalu, yang sekarang lagi hilang dan timbul-tenggelam ke permukaan. tapi dia ada di sana: terus menggema, muncul di saat-saat paling carut-marut dalam hidup kita, di antara instrumen yang berkecamuk, tetapi memang harus didengarkan dan dipisahkan dari yang lain-lainnya supaya kentara. ibarat Sigur Ros bilang: dia gak raib, kok.






takk, thank you, terima kasih, Sigur Ros.
it was ethereal.
it was transcending.
it was divine ...
it was heart-rending.
but my heart was so full.