Tampilkan postingan dengan label #pointlesspoetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #pointlesspoetry. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 November 2016
Panggung Sandirawa
peluk dirimu,
janganlah ragu
sikapmu bukan tabu
meski kadang terlampau kelabu
singkaplah tirai,
langkahkan tungkai
bahkan mereka yang berjarak dari birai
ialah penontonmu yang fana;
dan kau tidak
kau punya kuasa
untuk merangkai naskahmu
dan aku tak percaya:
bahwa sutradara bukanlah pelakon
pelakon bukan sutradara
bila berpeluh, jujurlah
bila bersedih, ungkaplah
bila marah, singkaplah
ajari mereka, bahwa panggung terkadang bukan medan untuk menjamu barang satu, dua, atau ribuan pasang mata. seni peran adalah persoalan membahas pengombinasian harapan sesuai citra diri sejati
kau tahu?
kau bukannya punya kuasa untuk menjadi dirimu sendiri.
ternyata kita tak berbicara soal kuasa
tapi itulah hakikat:
yang seiring babak
dipangkas menjadi hak.
Senin, 14 November 2016
Di Birai
Di birai pintu kita cuma punya waktu sekitar dua menit, sebelum sunyi hambar dan tumpah seperti susu basi.
Kau berbicara seolah-olah akhir tiada. Dan saban hari, Satre pernah berkata padaku bahwa akhir memang tak pernah ada. Kau ceritakan soal difabel yang mengkeret pada trotoar dimana fasilitas tak berpihak padanya. Dan kau ceritakan juga struktur pada tetes hujan, bahwa di dalamnya ada banyak air mata hewan, tumbuhan, manusia, bahkan Tuhan. Satu menit meriak, dan bahkan celotehmu belum mencapai refrain.
Hampir tiga puluh detik tersisa, sampai di kejauhan aku mulai mendengar ilalang dilibas purnama. Dan sebelum semuanya selesai, aku mengeluarkan setangkai lili putih, agak sedikit layu, namun bisa mengusir aura-aura kematian.
Tapi di birai di mana aku dan kau cuman punya dua menit, tak ada yang tersisa selain ketiadaan pintu, ketidaknyataan, sosokku, dan tanah merah. Lalu aku akan tahu bahwa masa penghabisan kita telah datang, sebab azan subuh telah berkumandang, menghapus sisa-sisa kabut makam pada dua menit di ujung hari itu.
ada hal-hal yang tak bisa dipisahkan bahkan oleh kematian
— Kereta Logawa, November 2016
Label:
#pointlesspoetry,
pikiran,
secuplik sastra
Minggu, 02 Oktober 2016
Saya. Perempuan.
Dengar, Jagadhita!
Saya bangga terlahir menjadi seorang perempuan.
Saya bahagia terlahir sebagai seorang perempuan.
Yang dikonstruksikan secara sosial untuk menghayati "keperempuanan"
Yang dikonstruksikan secara biologis dengan rahim, vagina, payudara, dan kumpulan hormon: estrogen hingga progrestron.
Saya dengan senang menantikan peran-peran perempuan,
yang akan dan sudah
Menanti diri saya menjadi seorang ibu (di masa mendatang)
Menanti diri menjadi seorang istri (masih di masa mendatang)
Mengamati perkembangan diri saya kini yang diwarnai rasa
Menghadapi proses-proses perkembangan yang lebih banyak diwarnai jatuh dan terkapar
(tapi dengar, saya bangkit lagi)
Kadang saya berpikir,
enak ya jadi lelaki?
Secara permukaan lebih santai.
Lebih menggunakan logika dibanding rasa.
Lebih memiliki tekanan pertemanan yang ringan, beban yang tidak signifikan,
peran yang lebih menjanjikan--
tapi saya salah.
Seiring saya hidup bersama laki-laki: ayah saya, mantan-mantan saya, teman-teman, dan sahabat-sahabat lelaki saya, mereka berkata:
Tidak enak jadi lelaki.
Apalagi yang ada di bawah kungkungan budaya patriarki
Kamu dituntut untuk berdikari
Tidak boleh menangis berlebih
Menafkahi keluarga
Terlihat baik-baik saja padahal hanya ingin mewek saja
Terlalu sering memikirkan masa depan hingga kepala mau pecah
Terlalu banyak dituntut untuk membuktikan diri
dan dikucilkan jika gagal
atau menerima ejekan jika kelewat flamboyan.
Saya bahagia menjadi seorang perempuan;
yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan
yang bangga dan hebat menjadi seorang perempuan
Pada akhirnya saya setuju,
di setiap personalita pasti ada elemen feminin dan maskulin
yang mana yang mau kau munculkan dan tetapkan
tapi, masa bodohlah,
saya memilih menjadi perempuan
dan saya bangga dilahirkan dan akan menjadi seorang:
perempuan.
Saya bangga terlahir menjadi seorang perempuan.
Saya bahagia terlahir sebagai seorang perempuan.
Yang dikonstruksikan secara sosial untuk menghayati "keperempuanan"
Yang dikonstruksikan secara biologis dengan rahim, vagina, payudara, dan kumpulan hormon: estrogen hingga progrestron.
Saya dengan senang menantikan peran-peran perempuan,
yang akan dan sudah
Menanti diri saya menjadi seorang ibu (di masa mendatang)
Menanti diri menjadi seorang istri (masih di masa mendatang)
Mengamati perkembangan diri saya kini yang diwarnai rasa
Menghadapi proses-proses perkembangan yang lebih banyak diwarnai jatuh dan terkapar
(tapi dengar, saya bangkit lagi)
Kadang saya berpikir,
enak ya jadi lelaki?
Secara permukaan lebih santai.
Lebih menggunakan logika dibanding rasa.
Lebih memiliki tekanan pertemanan yang ringan, beban yang tidak signifikan,
peran yang lebih menjanjikan--
tapi saya salah.
Seiring saya hidup bersama laki-laki: ayah saya, mantan-mantan saya, teman-teman, dan sahabat-sahabat lelaki saya, mereka berkata:
Tidak enak jadi lelaki.
Apalagi yang ada di bawah kungkungan budaya patriarki
Kamu dituntut untuk berdikari
Tidak boleh menangis berlebih
Menafkahi keluarga
Terlihat baik-baik saja padahal hanya ingin mewek saja
Terlalu sering memikirkan masa depan hingga kepala mau pecah
Terlalu banyak dituntut untuk membuktikan diri
dan dikucilkan jika gagal
atau menerima ejekan jika kelewat flamboyan.
Saya bahagia menjadi seorang perempuan;
yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan
yang bangga dan hebat menjadi seorang perempuan
Pada akhirnya saya setuju,
di setiap personalita pasti ada elemen feminin dan maskulin
yang mana yang mau kau munculkan dan tetapkan
tapi, masa bodohlah,
saya memilih menjadi perempuan
dan saya bangga dilahirkan dan akan menjadi seorang:
perempuan.
Senin, 01 Februari 2016
Tales Told By -
P A R T 1
---------------------
((she-self))
[ Musholla Al-Fitrah, Sagan, Yogyakarta. ]
[ Tempat Lokakarya Perak, somewhere in Kotagede, Yogyakarta ]
| she loved to spend her time walking without any purpose. she walks solemnly because she wants to find the meaning of walk itself. she scared, yet ebullience, lonely within, so full without. |
[ Etalase Buah, somewhere in Kotagede, Yogyakarta. ]
P A R T 2
------------------
another soul-self
| an old man, eyes in despair and a tired bike, sits as if solitaire, long long ago, there was a big, old, shabby road but now it's evanescing into memory untold. |
[ Perempatan Pasar Kotagede, Kotagede, Yogyakarta. ]
| (not) an ingenue teenage girl, drifting to the town
not) a sudden beauty appear, but a lilt enchanting spark shown.
p.s: thank you for letting me borrow your camera & also take me to here.
|
[ Toko Tua, Somewhere near Pasar Kotagede, Yogyakarta ]
[ Jalan Pemandian Raja Kotagede, Kotagede, Yogyakarta ]
![]() |
| here comes the purpose, rejoinder which makes rejoice. a sanctuary; as well as shelter, I've found my house, I've made my choice. |
[ Makam Raja-Raja Mataram, Kotagede, Yogyakarta ]
T A L E S T O L D B Y
( she-self, another soul-self )
-------------------------------------------------------------------
f i n a l e
T A L E S T O L D B Y
( she-self, another soul-self )
-------------------------------------------------------------------
f i n a l e
Rabu, 18 Maret 2015
ra.suk
Padamu ada sebuah jiwa yang matang
tapi ada seselip kanak-kanak, bukankah ia juga meraja?
kamu tak tahu apa atau siapa yang kamu lawan
jauh di dalam diri. berwujudkah?
atau ia hablur dan sekedar ilusi semata
kamu
tombak
ujung tombak.
pertama impian insan harapan
kamu
ditakdirkan untuk mengalah.
dan memang harus mengalah
tapi kadang kamu merasa kalah
(atau memang selalu kalah)
sebab padamu ada sebuah kanak-kanak, kan?
tapi bukankah
b u k a n k a h
di setiap kanak-kanak
ada sebuah lugu yang imbang
lagu yang sumbang
(tapi nyata. pun tulus.)
yang kamu bisa hidupi sebesar rimba
dalam hadapi belantara
kamu.
tombak.
yang me.ra.suk.
ke jiwa-jiwa tersayang yang seolah busuk.
(bagimu. b u s u k.)
tapi ada seselip kanak-kanak, bukankah ia juga meraja?
kamu tak tahu apa atau siapa yang kamu lawan
jauh di dalam diri. berwujudkah?
atau ia hablur dan sekedar ilusi semata
kamu
tombak
ujung tombak.
pertama impian insan harapan
kamu
ditakdirkan untuk mengalah.
dan memang harus mengalah
tapi kadang kamu merasa kalah
(atau memang selalu kalah)
sebab padamu ada sebuah kanak-kanak, kan?
tapi bukankah
b u k a n k a h
di setiap kanak-kanak
ada sebuah lugu yang imbang
lagu yang sumbang
(tapi nyata. pun tulus.)
yang kamu bisa hidupi sebesar rimba
dalam hadapi belantara
kamu.
tombak.
yang me.ra.suk.
ke jiwa-jiwa tersayang yang seolah busuk.
(bagimu. b u s u k.)
Label:
#pointlesspoetry,
kamu,
puisi pinggiran,
secuplik sastra
Langganan:
Postingan (Atom)

