Selasa, 27 Mei 2014

Saya hanyalah Setapak yang Mengantar



Saya ini hanyalah setapak yang mengantar.

            Saya tidak bisa menjanjikan kamu jalan yang mewah dan penuh dengan kemudahan, karena saya, sekali lagi, hanyalah setapak yang mengantar.

Dahulu kala, pernah ada periode di mana pengembara kerap kali menapak tungkai di atas raga saya. Mereka berbisik, mereka takkan jera mengarung melintas tubuh saya, karena saya adalah satu-satunya opsi yang mereka miliki.

Saya sudah pernah mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Saya berkata, “Aku tidak dapat melindungimu dari bias sinar kalacakra tatkala Kemarau bertakhta. Aku juga tidak dapat melindungimu dari jarum-jarum likuid yang menyerangmu ketika Penghujan berkuasa. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

satu detik.

… Kemudian mereka menyahut, “Tak apa, kami masih memiliki tudung untuk menutup ubun-ubun kami tanpa perlu merasa panas dan penat, juga menghindari basah dari hujan gerimis.”

Maka saya biarkan mereka berjalan beberapa kilo.

Hingga kembali saya mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Saya berkata, “Aku akan merentang melalui belantara, saat di mana siang hari bisa menjadi waktu kamu semua bereksplorasi, namun ketika kresnapaksa menyorot dari jumantara—marahabaya akan mengintai kalian semua dari sesemakan. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

dua detik, satu detik.

… Kemudian mereka menyahut, “Tak apa, kami masih memiliki pedang untuk membutakan mata-mata itu dan kekuatan untuk bertarung.”

Maka saya biarkan mereka berjalan beberapa kilo.

Hingga kembali saya mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)
Saya berkata, “Aku masih akan mengantarmu lebih jauh. Sehabis ini, kontur dan tekstur di atas ragaku akan bertambah menguji. Ketika bermandikan banyu, tanahku bisa mengikat tungkai-tungkai kuatmu dan membuatmu berjalan lebih lambat, dan ketika kering menghembus bayu, tanahku akan membuat atensimu mengerjap karena debu. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

tiga detik, dua detik, satu detik.

… Kemudian mereka menyahut. “Tak apa, kami memiliki alas kaki yang resisten dengan lumpur coklat itu, kami juga bisa memejamkan mata kami ketika debu itu mengangkasa.”

Maka saya biarkan mereka berjalan, untuk kali ini, berkilo-kilo.

Saya tidak pernah mengingatkan mereka lagi, karena harsa menguasai akal sehat saya. Saya begitu ria karena mereka sudah melangkah sejauh ini, walaupun terkadang mereka berbisik penuh keluh ketika menyangka saya sudah terlelap. Walaupun mereka menendangi saya ketika mereka frustasi dan putus asa. Walaupun begitu, saya tetap mengarahkan mereka ke mata air dimana mereka dapat memuaskan dahaga mereka, ke petak-petak dimana pohon buah dapat memuaskan lapar mereka—intinya, saya memberikan mereka sebagaimana setapak memberikan seluruh kelebihannya. Dan tujuan mereka semakin saya dekatkan.

Lalu, terhembuslah kabar angin itu.

Ketika saya tersadar dari tidur saya, saya merasa sepi berjengkuh raga saya. Tak ada bisik-bisik semangat yang biasanya termelodi di subuh yang dingin. Tak ada entitas yang menancap di atas raga saya. Kosong—

Kemudian dirgantara berbisik prihatin di atas sana, “Mereka sudah pergi, Setapak. Ketika kau lelap, bayu bertiup melintas, berkata jalan aspal di ujung sana sudah dibangun. Jalan aspal itu menyajikan tudung kaca untuk melindungi mereka dari gejala cuaca, dan jalanan licin yang tak sebanding dengan keropeng-keropeng tanahmu. Mereka terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan—jadi selepas subuh mereka telah meninggalkan jalanmu.”

Saya hanya bisa terdiam.

Saya ingin murka, saya ingin marah, saya ingin muntab—

—tapi sekali lagi, saya hanya setapak yang mengantar.

Hanya dibutuhkan dua hari hingga negeri di ujung sana terbentang di depan pengembara yang saya antar. Hanya dibutuhkan kesabaran menghadang gerimis, terik, becekan, debu, teror, dan rintangan lain selama beberapa kilo, karena medan di depan sana tidak seekstrim ini.

Katanya mereka takkan jera?

Padahal, saya bukanlah setapak yang ingkar. Di jalan di mana kelok saya pun berakhir, gerbang yang paling indah yang didambakan para pengembara itu akan menyongsong mereka.

Tahun-tahun berlalu, dan siklus ini terjadi berulang.

Saya akan memperingatkan mereka dengan larik-larik yang sama, dan Para Pengembara menjanjikan kalimat yang sama. “Aku takkan jera”, katanya.

Tapi di tengah jalan, mereka akan raib.

Mereka, tentu saja, lebih memilih opsi di mana jalan aspal akan mengantar mereka penuh kenyamanan. setapak saya pun bertambah sepi. Saya mati.

Bahkan di beberapa paruh waktu, mereka menghancurkan raga saya—membuang limbah, mengeksploitasi tanah yang menyelimuti raga. setapak saya pun bertambah sepi. Saya terluka. 

Saya masuk ke dalam diri lebih dalam.

Di gerbang di mana setapak saya mengawali jalan, saya biarkan dedaunan dan tanaman jalar merambatinya, agar tak ada Pengembara yang melirik saya dan melukai setapak saya jauh lebih buruk lagi. Di gerbang di mana setapak saya mengawali jalan, saya biarkan mereka memasang palang tanda “berbahaya” agar tak ada Pengembara yang masuk dan melukai setapak saya jauh lebih buruk lagi.

Saya, sejujurnya, agak lelah.
.
.
Sekali lagi, saya hanyalah setapak yang mengantar.

Jangan salah, saya merindukan sesosok Pengembara di atas raga saya. Saya mendambakan kehadiran mereka, tetapi sekaligus saya takut.

Mereka tidak bisa menerima saya apa adanya.

Katakan saya naif, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya butuh gerimis dan sengatan mentari agar saya lebih merasa hidup ketika berjalan di atasmu.”

Katakan saya bebal, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya butuh kresnapaksa menyorot saya sehingga saya dihinggapi teror, dengan begitu saya dibiasakan untuk menghadapi kerasnya buana.”

Dan katakan saya irasionalis, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya bisa terbiasa melangkah dengan kuat agar tak ada yang menghalangi saya, dan saya bisa melatih mata saya awas, dengan debu-debu yang beterbangan itu.”

Saya hanya setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Dengarkan ini, Pengembara. Maafkan saya bila saya tak memberi kesempatan untukmu. Maafkan saya karena saya menguji, maafkan saya karena setapak saya buruk rupanya. Maafkan saya apabila saya menutup jalan ini begitu lama dan seakan tidak percaya.

Tapi tidak.

Saya masih memercayai kamu. Sibaklah gerbang saya dengan pedang yang kamu miliki dan lengkapilah dirimu dengan perbekalan, lalu mulailah memulai perjalananmu melintas saya.

Kuperingatkan kamu.

Saya hanya setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Dan ada si jalanan aspal yang juga mengantar. (yang penuh sukacita dan kelebihan.)

Tidaklah mudah untuk mengarung di atas saya. Itu saja. Tetapi saya berjanji, jika kamu tabah, begitu pula saya. Setapak saya akan mengantar kamu ke gerbang yang terindah, tetapi akan banyak cobaan yang kamu hadapi dalam jalanmu bersama saya.

            Jadi,

            Saya harap kamu adalah Pengembara yang takkan jera.

            Karena saya hanya setapak yang mengantar, yang sudah terluka namun tulus dan penuh harap.
            
             Saya menantikan Pengembara yang berkata, "Saya takkan menyerah, karena walaupun setapak ini menguji, kamu yang akan mengantar saya ke kebahagiaan hidup saya."

Jakarta
Dari kamar ungu
27/5/2014

Kamis, 03 April 2014

Sebab Itu Dimana

Kalau kelak kamu pergi
jangan kau padamkan bara api
atau kau tiup kerlip cahaya lilin
sebab itu di mana diriku berpilin

Kalau kelak kamu lupa
jangan kau sapu daun kering berguguran
atau kau petik rimbun termekar bunga
sebab itu dimana aku berangan

Kalau kamu pergi,
aku kan bertahan
Kalau kamu lupa,
aku kan mengingat
dan kalau kamu tak mencintai aku lagi,
aku akan tetap mencintaimu segenap hati.
– Sebab itu di mana hatiku terbelenggu.

discredit: found this pic on googlepics.
kelas pkn,
3 April 2014.
di balik etalase menuju lapangan seminari,

S H A B I A

Lagu Terteduh Terfavorit (Indonesia)

Hai! :) kali ini gue pengen merekomendasikan lagu-lagu Indonesia yang super teduh buat didengarkan. Mostly sih lagu galau ya, tapi gue juga merekomendasikan lagu yang enak buat memberikan harapan, membangkitkan semangat, dan yang fluffy gitu. Karena lagi malash nulish, ayo langsung diliat ajaa!

(by the way, gue buatnya per penyanyinyaa, and don't be so curious if you realize most of these songs are indies. (YEAY ALL HAIL INDIE!) hehehehehehe.)

1. Indah Jemawa ciptaan Banda Neira.




Best Tracks:

a. Hujan di Mimpi

O P I N I O N: Agak subjektif ya, lagu ini sebenarnya adalah lagu yang meaningful dan penuh kenangan buat gue pribadi =) tapi, Hujan di Mimpi emang lagu yang enak banget. Acousticnya enak, gak ribet, kalo kata puitisnya nih, permainan gitarnya si ananda badudu kayak harpanya peri. hahahaha. liriknya juga sederhana tapi melambangkan sebuah cinta - pertanyaan akankah seseorang yang selalu ada di samping pasangannya tatkala semesta bergulir tak kenal arah, akan tetap bertahan dan selalu jujur akan cintanya. 

A F T E R T A S T E : tersenyum dan berpendapat sakit hati tidak seburuk kelihatannya.

b. Di Beranda

O P I N I O N : kali ini, bukan tentang cinta seorang Hawa kepada Adam atau sebaliknya. ini adalah kerinduan orangtua akan anaknya. setelah gue mendengarkan lagu ini, kebayang rasanya perasaan yang akan Nyokap gue rasakan ketika (Amin, Insya Allah) nantinya gue akan kuliah di UGM, di Jogja, jauh dari Jakarta. Jadi, Di Beranda mengisahkan orang tua yang merindukan buah hatinya di rumah mereka, karena si buah hati sudah lepas (entah pergi karena kuliah, menikah, atau apa). tapi, nantinya, anak mereka akan kembali ke pelukan sang orang tua. kesan 'buah hatinya' itu tambah kerasa pas Rara Sekar main kolintang. hihihi

A F T E R T A S T E : pengen meluk nyokap. atau bokap. 

Another Best Tracks:

a. Ke Entah Berantah
b. Senja di Jakarta


2. Galau Berkualitas ala Payung Teduh


Best Tracks:

a. Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan

O P I N I O N : agak susah untuk memilih 2 Best Tracks dari indie favorit gue berikut ini. Tapi, gue memilih Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan. Honestly, lagu ini lebih terdedikasi untuk para lelaki. Karena oh karena, UPYSDP (disingkat ya guys pegel nih jari w) bercerita tentang seorang lelaki yang masih menunggu untuk mantannya, yang rupanya sudah mendapatkan pacar baru yang memeluknya. tapi kayaknya (yang gue tangkep) si ceweknya ini juga masih terjebak sama mantannya kali ya, karena dia masih sering memalingkan muka kalo ketemu mantannya.

A F T E R T A S T E : inget mantan, atau seseorang yang tak tergapai oleh tangan kita. (perlu gak gue ketawa miris? yea.)

b. Resah

O P I N I O N : hm! how to tell about this soooongg? okay, jadi sebenernya Resah ini adalah lagu ter-gloomy (menurut beberapa orang temen gue) yang pernah diciptain Payung Teduh. kayaknya. bikaaaazzz pertama, dengarkan musiknya. desperately horror. kedua, dengarkan liriknya. desperately serem. (ah udahlah ya gue gak peduli sama grammatical errors gue lagi bye) yang paling klimaks tuh lirik ini: "....aku menunggu dengan sabar, di atas sini, melayang-layang(?), tergoyang(?) angin, menantikan tubuh itu..." hayolo. rumors say this song created based on suicide at Universitas Indonesia years ago. Benarkah? Gak tau. Agak masuk akal juga kalo ngeliat liriknya dan Payung Teduh itu band asal UI. (HIIIII!) tapi no prob ya. terlepas dari itu, lagunya enak. gue banget, waktu gue masih pacaran dan gue gak bisa ngeliat isi hati cowok gue. yea kenapa jadi curhat?! pokoknya lesson learn dari lagu ini: jangan membuat pasangan lo menunggu tanpa kepastian. HAHA!

A F T E R T A S T E : pengen bunuh diri atau minimal, bergelung di selimut mikirin doi.

Another Best Tracks:

1. Tidurlah
2. Angin Pujaan Hujan
3. Rahasia
4. Kita adalah Sisa Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan

3. Mesin Waktu karya White Shoes and The Couples Company


Best Tracks:

1. Kisah dari Selatan Jakarta

O P I N I O N : serasa dibawa ke tahun 80-an atau 90-an. Musiknya itu loh. Dan suara sang vokalis, Aprilia Apsari, yang sungguh-sungguh nyeni, bulat, halus, retro, yaaaah pokoknya begitu lah! enak banget guys :") arti dari lagunya sendiri sungguh ambigu. Jadi, lagu ini gak bercerita apa-apa. diceritakan ada seorang hamba yang pengen ngasih tau suatu cerita, bukan cerita tentang cinta, atau cerita soal pemerintahan dan tetek bengek lainnya, tapi ia juga gak bisa nyeritain kisah itu. SI Hamba itu cuman pengen si Tuan memahami maknanya, dan ia gak bakal nyeritain secara utuh. itu yang gue tangkep sih.

A F T E R T A S T E : jadi penasaran situasi Jakarta Tempo Doeloe

2. Tam-Tam Buku

O P I N I O N: remake lagu daerah yang sangat bagus! kalo gak salah tam-tam buku ini lagu daerah asal Jakarta... ya? dikemas dengan apik ada suara gendangnya dulu, intronya bikin semangat, terus muncul suara sahut bersahutan vokalis cowo-cewe-cowo-cewe dst

A F T E R T A S T E : kangen masa kecil. jadi pengen main congklak dan dam das

Another Best Tracks:
1. Windu Defrina
2. Kampus Kemarau
3. Bersandar
4. Vakansi


FIUUUUH!

Capek juga ya. Sebenernya masih banyak lagu asyik lagi. Sebentar, gue list dulu:

1. Tulus - Jangan Cintai Aku Apa Adanya
2. Tulus - Sepatu
3. Sore - Etalase
4. Mocca - Bundle of Joy
5. Mocca - Secret Admirer
6. Dialog Dini Hari - Pergi Belajar
7. Dialog Dini Hari - Jalan dalam Diam
8. Mocca - Hanya Satu
......dll. gue lupa!!! :(

Yah, cintailah musik-musik Indonesia. kalo kita pinter nyari, kita bakal dipertemukan dengan lagu-lagu yang membuat kita bangga sama taste dan warna musik Indonesia :)


see you s o o n!

Selasa, 25 Maret 2014

setitik asa dari rasa sakit

Air Mata

        Dimanakah cinta?
Kamu bertanya dengan bibir lugu terbuka
Jemarimu menyentuh denyut jantungku,
bertanya, "Apa cinta itu di sini?"

         Kau tarik lagi jemarimu
Lalu kau pindahkan meraba denyut pelipisku,
bertanya, "Atau di sini?"

         Kini,
Kau pindahkan lagi membelai pelupuk mataku,
bertanya, "Atau bahkan di sini?"

Aku menggeleng,
Menegakkan kepalamu yang terteleng.

"Cinta itu di sini,"
.....bisikku.
Lalu kuteteskan air mata ke jarimu

{ cinta itu lahir dari air mata. air mata duka. kebahagiaan. karena air mata selalu tulus. hadirnya tidak pernah sia-sia; ia datang untuk rasa sukacita, tapi ia juga datang untuk rasa sakit. dan terkadang, air mata datang sebagai reaksi untuk orang yang kita cintai. }


...aku bahagia kalau kamu bahagia. jadi, bangkitlah, cahaya Lilin-ku :)



Finally comeback: recommended book for this month!

HAAAAAI!

I'm glad to see u, people! (padahal gak ada siapa-siapa ataupun apa-apa di seberang sana). Sepertinya sudah seabad sebulan gue bermuram durja dan saatnya gue bangkit dan mencoba move on dari segala hectic yang bikin bibir gue tertekuk ke bawah.

dimulai dari arti mimpi gue yang sangat meaningful (nah loh, udah sangat, meaningful pula. biarin lah ya.) yang gue cari iseng-iseng di google. jadi malam tadi gue tuh mimpi pergi ke sekolah, bertemu si ... dengan si ... (yayayaya silakan menginterpretasika tiga titik itu dengan thoughts kalian) dan gue inget banget di mimpi itu gue akan naik ke tanga yang deket gudang deket Asem, dan sempet ada momen senyap. gue ngeliatin tangga itu sampe ke atas....... mau melangkah.... lalu gue terbangun.

and i felt some promiscous.

pasti ada sesuatu nih.

eh bener kan. arti dari mimpi itu, gue kutip dari dream moods:

STAIRCASE: to see a staircase in your dream symbolizes change and transformation. to dream of an incomplete staircase or steps missing from the staircase implies that you are trying to move on to the next phase or stage w/o accomplishing all the necessary steps. you need to make some move.

:))

oke! all I want to saaaaay isssss:

no more galau. salam mu alim. no more tear, no more fat (karena makin stress cemilan gue makin banyak), no more tiba-tiba-mandek-di-tengah-pelajaran-gegara-mikirin-orang. no more and no more wasted time.

yah. itu pendahuluannya. sekaraaaang, gue pengen merekomendasikan pacar-pacar gue yang baru a.k.a buku-buku unyu yang sudah menanti di rak gue untuk dibaca :) ini dia, ada 3:


1. Divergent

Buku ini karya Veronica Roth, seperti yang sudah tertera di atas. Pasti udah pada tau lah ya soal buku ini, secara sebentar lagi mau ada filmnya. (malah sekarang udah now showing ya)
Gue sih baru baca buku pertama, nanti ada lanjutannya yaitu Insurgent. 

Jadi ceritanya tokoh pertama itu berpusat pada seorang gadis bernama Beatrice Prior. Nah si Tris ini tinggal di sebuah dunia yang pembagian penduduknya itu didasarkan atas faksi. Faksi itu ada Abnegation (Kebijaksanaan; mengutamakan orang lain), Erudite (kecerdasan), Dauntless (keberanian; keliaran), Amity (kasih sayang ya kalo gasalah? atau damai2 gitu.) dan Candor (kejujuran). nah, pokoknya si Beatrice ini adalah Divergent, pikirannya tuh gabisa dimanipulasi. dan dia bisa milih faksi sebenernya, karena dia kepilih antara Abnegation, Dauntless, atau Erudite.

Akhirnya, Beatrice milih Dauntless dan menyerahkan jati dirinya sepenuhnya ke faksi ini. Dia harus jalanin inisiasi, dan di sinilah ia mulai menjumpai hal - hal penting dalam hidupnya. Dari mulai ketemu Tobias, ngerasain kasih sayang dan kebebasan, mempertahankan dirinya, dapet sahabat, menjadi kuat, dan paling penting, nemuin suatu fakta antara Abnegation dan Erudite yang bakal mempengaruhi kesatuan 5 faksi di dunianya.

Buku ini selesai dibaca pada: Tiga hari (diselingi belajar untuk PR & ulangan).

2. Karena Kita Tidak Kenal

Banyak yang nggak mengenal buku ini, tapi gue sangat merekomendasikan buku ini untuk mereka yang suka cerpen, dengan bahasa menengah ke atas yang tetap mengalir dan enak untuk dibaca, dan berkonflik ringan tapi menarik.

Buku ini terdiri dari kumpulan cerpen, dan semuanya memiliki relasi dengan orang asing. Personally, gue suka banget sama Joker, Tuhan, Alice in Wonderless Land.

Joker bercerita tentang seorang gadis bermasalah yang gak pernah diterima di lingkungan mana pun oleh teman-temannya, sehingga ia menjadi seseorang yang munafik dan asing. Hingga ia bertemu seorang gadis yang bersedia menjadi sahabatnya, nggak peduli seperti apa si 'Joker' ini aslinya.

Tuhan bercerita tentang, ya, sesuai judulnya... Tuhan. Tentang seorang Atheist yang mau jadi ketua organisasi di kampusnya, tapi jadi golongan minoritas karena dia atheis. Dia bertanya, di manakah Tuhan? Mengapa ia selalu merasa Tuhan itu orang asing yang ga pernah menunjukkan identitasnya?

Terakhir, Alice in Wonderless Land. Seorang istri muda yang merasa bosan dengan kehidupannya, karena terlalu statis. Lalu ia mengikuti sebuah acara bernama Wonderland, yang menawarkan sebuah ritual untuk mengubah hidup menjadi berwarna. Dan si istri muda ini, merasakan sebuah acara yang akan merubah hidupnya.

Selamat membaca ya! 

Buku ini habis dibaca dalam waktu: Empat jam (tanpa ngelakuin apa-apa).

3. Empat Kumpulan Sajak

Siapa sih yang nggak tau soal seorang pujangga bernama W. S. Rendra? Setelah membaca karya Joko Pinurbo, Chairul Anwar, dan Sapardi Djoko Damono, gue memutuskan untuk membaca karya Rendra.

Maaf, ini bukan buku. hehehe. Judul menjelaskan semuanya, bukan begitu? Isinya kumpulan sajak. ada sajak soal cinta yang terbangun, cinta yang pupus, konflik dalam hidup, dan perang. Gue secara pribadi suka banget soal puisinya yang Burung Hitam. bercerita soal kerinduan seorang pecinta yang merindukan mantan kekasihnya, dan ia mendendam karena itu. 

Gue suka puisinya Rendra karena puisinya sederhana. Tapi bermakna ganda, dan maknanya dalaaaaaaam sekali. Sampai tercenung dibuatnya: setelah kita membaca puisi itu dan menyadari maknanya. Misalkan, puisi tentang Mata Anjing. Burung Hitam. Recommended deh ya :)

----

Oke, mungkin buku ini bisa jadi referensi gue untuk kalian :) maaf abal. gue hanya bosan. besok ulangan matematika ulang, dan buku gue hilang. jadi gue pasrah. yak sekian, selamat menambah koleksi 'pacar' dalam rak Anda! :D





 

Selasa, 25 Februari 2014

k e n a n g a n ?

2014.

Awal tahun ini, seorang gadis biasa; berambut kusam agak mirip singa, pipi yang (kalau kata temannya) ditumbuhi stroberi-stroberi kecil hasil dari produktivitas hormonal, (sok) puitis, sering merenung dalam kelas, dan memperhatikan hal-hal kecil ini sudah dirundung duka.

tidak, bukan duka.

bagaimana bisa berduka kalau kamu tahu kamu takkan bisa merubah semuanya denganmeneteskan air mata? bagaimana bisa berduka kalau tak ada bahu yang bisa digunakan untuk bersandar?

gadis biasa ini kehilangan semuanya. seorang figur pencari nafkah yangkini lenyap ke antah berantah. nilai-nilai sempurna yang dahulu terpatri dalam setiap tugas dan ujian yang ia kerjakan dengan keras. dan yang terpenting, lilin yang ia jaga cahayanya selama ini ... seseorang.

semuanya, kini, hanya tinggal kenangan belaka.

tapi, bukankah kenangan diciptakan agar kita senantiasa -entah bagaimana- termotivasi untuk merasakan yang manis? dan menolak yang pahit? bukankah itu adalah fungsi kenangan?

kali ini, sang gadis menyerah pada kenangan, namun ia belum sepenuhnya menerima.

tetapi seperti Achilles yang tercebur di sungai Styx,

atau Dionysus yang memiliki relasi dengan sulur anggur,

mereka berdua memiliki sesuatu untuk berpegangan, dan demikian sang gadis, ia juga tengah mencari pegangan.

di antara lautan kenangan. :)


Minggu, 22 Desember 2013

11 :)

halo. entri ini dibuat dalam rangka iseng dan karena aku lagi kangen sama dia. hehehe.



11 itu adalah angka yang sakral :) kenapa? karena 11 adalah saat di mana ia membawa aku duduk berdua aja, kemudian........ dia membicarakan sesuatu soal perasaannya dan memintaku untuk menjadi pacarnya. waktu itu, 11 november, hari senin, saat istirahat, kita duduk berdua di aula seminari, baju batiknya sama warna hijau (fyi warna kesukaan kita berdua ya hijau), padahal kita sama sekali ga ngerencanain buat janjian warna kayak gini. hihihi.

lalu hari itu aku ngasih dia artwork yang aku buat dengan susah payah, gunting sana gunting sini dan curi-curi waktu di kala aktivitas seabrek. dan dia juga ngasih kertas dengan sketsa diriku di atasnya, padahal itu fitnah banget mukanya bersih mulus cantik like gue gapunya freckles AHAHAHA tapi hadiahnya precious banget. masih dipajang di samping ranjang sampe sekarang, dan gambar pertama yang kulihat kalo pagi-pagi. :)

kemudian.

sehabis tanggal 11 november hari-hariku lebih indah. hehehe. klise ya. tapi itu bener, walaupun banyak masalah tapi rasanya hangat kalo aku tau dia masih memberikan afeksinya ke aku. masih menawarkan pundaknya buat bersender, walaupun bau parfumnya laki banget (?) hahaha. dia juga yang senyumin aku supaya aku tertular senyumnya dan bikin aku semangat lagi!!!

huft udah ah, dampak kangen tapi gak bisa ngomong ya kayak gini nih. lagi sedih karena aku dan dia bakalan disconnect selama 2 minggu bcs hapenya rusak dan kita berdua gak di Jakarta :( semoga miskomunikasi gak berdampak ke hubungan kita ya hehehe.

hm...

aku minta maaf kalo aku judes, suka mukul kalo kamu random, suka nyuekkin kamu, gabisa jadi cantik untuk kamu dan gabisa jadi yang terbaik untuk kamu, tapi aku sayang kamu.

yeay.


melodramatis banget ya heheh.