Minggu, 27 Juli 2014

Renungan (Menjelang Aidil Fitri)


Ratus kali hamba lupa
Padahal rizki-Mu limpah segala
Tiada habis ia mewarta
Tak juga ku tadahkan tangan

Juta kali hamba berserapah
Tak sikit pun ucap hamdalah
Atas netra yang masih mampu berproyeksi
Atas wicara yang masih bisa bermelodi
Malah keluh kesah yang hamba rajang:
“Aduh Gusti, ini masih kurang!”

Hikmah-Mu datang perlahan
Saat yang limpah segala kini remang tak bersisa
Saat gemuruh cobaan hempas raga hamba
Menuju samudera tanpa harsa—
Yang ada hanya sengsara

Hikmah-Mu datang perlahan
Tatkala paras hamba tundukkan
Menelangsa sesal tiada guna
Malah kau buka kelopak yang selama ini menutup
Malah kau tengadahkan telapak yang selama ini telungkup
Katamu: “Masih ada jalan”

Lalu sesederhana itu
Aku muntab

S.N.A // 4:23 // sudut ungu selepas Ashar

.
.
.

Apa yang tertulis di atas bukanlah keseluruhan yang aku rasakan Ramadhan ini.

.
.
.
 
Malam ini aku tepekur. Sendirian di dalam kegelapan kamar, meminta izin kepada saudara-saudara di ruang depan sana—Bia ingin merenung, kataku. Biar saja mereka tertawa. Tapi toh tak ada yang melarang.

Saat sudah sendiri, kulakukan kilas balik ke 30 hari yang sudah kulewati dalam rangkulan Ramadhan ini.

Aku berefleksi.

Ya Khalik, apa yang telah aku lakukan, ya, selama sebulan ini?

Jawaban kosong menyahuti. Memang tak ada yang perlu dijawab, karena nurani telah tahu di dalam sanubari. Ramadhan ini, seperti yang sudah-sudah—masih sama. Dalam banyak hal. Tapi ada satu hal, satu hal yang umpama bara api yang menempel di sudut-sudut rerantingan; memang mungil rupanya, tapi hanya dalam satu sengatan ia bisa membuat ranting itu terbakar.

Pada Ramadhan ini, aku ditampar.

Tidak. Adalah sebuah wacana munafik apabila aku berkata: YA TEMAN-TEMAN! LEBARAN INI AKU TERLAHIR KEMBALI! MARI SEMUANYA MULAI DARI NOL LAGI!

Aku tidak sehipokrit itu. Ditambah, aku tidak sesuci itu. Mereka yang reinkarnasi dan lepas dari samsara tentulah mereka yang bukan hanya mengalami tamparan layaknya aku, tetapi ditendang. Benar-benar ditendang sampai terjungkang, sudah itu masih terguling dan mengonggok di jurang. Namun nyawanya enggan merenggang. Kesengsaraan abadi.

Mari beralih ke topik utama, aku tak akan membuang kata. jadi, ini ceritanya:

Malam itu adalah malam yang biasa. Namun sejak Maghrib menjelang, dorongan hatiku untuk menunaikan Tarawih (yang memang belum kulakukan sejak awal puasa) terasa sangat kuat. Sempat terselip rasa segan karena tak ada teman yang mengiringiku. Tapi kupikir, untuk apa ditemani. Alasanku klise sekali.

Maka aku berangkat. Shalat. Bersama jamaah lainnya. Hari itu hujan, gerimis, seakan Allah menjahili hamba-Nya yang sering tergoda oleh nafsu duniawi ini. Tapi tidak, aku menggeleng ketika tetes pertama membuat wajahku tercoreng. Aku harus tarawih, setidaknya sekali.

Lalu, ya, sampai juga aku di surau yang sepi. Dan setelah beberapa jamaah telah memadati saf, aku mendengar keresak mik dibetulkan oleh imam.

(OH ya, aku tarawih sehabis membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sebuah karya Tere Liye ttg kehidupan, indah sekali. Nanti akan kuceritakan.)

Kemudian azan Isya berkumandang.

… apa yang terjadi setelahnya benar-benar membuatku malu. Aku menggigil. Seperti layaknya Umar bin Khatab membaca naskah yang ia kira surat—ternyata penggalan ayat Al-Quran. Aku menggigil mendengar azan itu.

Ya Khalik, kapan terakhir kali aku shalat jamaah dan merasa sendiri?

Tetes air mata pertamaku jatuh ke mukena. (sumpah, aku tidak bermajas hiperbola. Aku sungguh, sungguh, sungguh, mengalami hal ini.) aku menahan isakan. INI YANG AKU CARI! Ini. Tetes air mata kedua, ketiga, keempat menyusul. Kuusap tak kentara, lalu aku menoleh kepada barisan saf di kanan-kiri mereka.

Mereka semua—adalah saudaraku. Mereka adalah muslimin dan muslimah, yang, sedang menabung kebaikan kala itu di surau, sepertiku.

Hari itu aku ditampar. Tuhan menjawab rinduku yang selama ini aku tak tahu harus lampiaskan ke siapa.

Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah, Irji’ I ila Rabbiki radiyatam mardiyyah.
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan ridha dan diridhai. (QS Al Fajr: 27 – 28)

(Aku ridha, Ya Allah, dan semoga aku juga diridhai Mu.)

Malam itu, aku bertahan hingga Imam mengucap tahlil.
.
.
.

Lalu, kini.

30/30. Syawal yang lain. Ramadhan-ku belum sempurna. Tapi ia telah pergi. Aku tak mau munafik: aku masih bau kencur. Kejadian di atas hanya sentilan sentilun, aku masih butuh yang banyak yang seperti itu. Bisa jadi, sehabis aku menulis ini aku kembali lupa, lalu berubah menjadi manusia merugi—lagi.

(Tapi aku mau bersyukur.)

Malam ini aku tepekur.

Setelah setengah jam yang lalu baru saja kukayuh sepeda keliling kampung. Khusus untuk melihat bocah-bocah main petasan. Menabuh gendang takbiran, bersuara keras meneriakkan takbir seakan Tuhan tak mendengar yang pelan. Lalu  Mendengar gema itu tergaung di mana-mana, lafadz kebesaran Allah.

Malam ini aku tepekur. Masih banyak yang harus kuperbaiki. Shalat tak boleh bolong. Al-Quran harus khatam. Ramadhan yang akan datang, harus kujemput Lailatur Qadar. Dan masih banyak lagi, dan masih banyak lagi.

Sehabis ini, aku akan menyalakan lampu. Kembali bercanda bersama saudara-saudaraku, bermain letupan bersama-sama (oh ya, itu euforia yang lain lagi).

Satu kesimpulan: Ramadhan ini, memang aku belum dalam tahap reinkarnasi. Aku masih kotor. Tapi Allah, Allah telah membuka mataku atas apa yang selama ini kucari: Islam itu indah, Shabia. Kamu tidak perlu merasa kesepian. Pergilah ke masjid, shalatlah, lalu selesai shalat tengok kanan dan kiri. Salami mereka dengan tulus. Mereka saudara saudarimu. Aku tak perlu reinkarnasi. Aku hanya meminta kepada Allah, sering-seringlah menamparku seperti ini.

10:13. Aku masih duduk tepekur. Takbir masih tertutur di luar sana.

(Kubaca ulang dari awal. Ah, lagi-lagi, apa yang kutulis memang tidak mewakili apa yang kurasakan secara menyeluruh. Biar saja lah. Waktuku sudah habis tepekur di sini.)

Akan kunyalakan lampu, dan semoga esok hari ketika kubaca kembali entri berikut, diriku yang ‘ini’ masih terpatri. (karena memang tujuannya aku mempublikasi ini)

Sampai berjumpa lagi. Dan Oh, mohon maaf apabila selama ini hamba terlalu melankonli dan banyak omong kosong :)

.
.
.

(PHET! Lampu nyala.)
Minal Aidin Wal Faizin.
(Semoga kisah ini bisa menginspirasi)




SELAMAT LEBARAN, TEMAN-TEMAN!!! :D

Senin, 16 Juni 2014

The Ceweks - Newsies

HAI!

Pertama-tama gue mau curhat dulu.

TAU GAAAAAK GUE UDAH NULIS 12 HALAMAN TENTANG NEWSIES, se mu a nya dari awal kebersamaan kita sampe di tengah perjalanan pas momen-momen di KFC kemudian dokumen tersebut.......................lenyap. Entah karena keserang virus, entah karena keserang apa, ya lenyap (?)

Terus sekarang. Harus ngulang. dan... gue memutuskan lain kali aja deh nulis Newsiesnya, mungkin nanti, 8 Juli dirgahayu ke 2 bulanan pasca pentas :( gue bakalan belajar buat nyimpen semua di flashdisk atau email lain kali. Dulu kartul, sekarang Newsies. Virus memang ada di mana-mana (virus cinta juga #halah)

Okay, jadi, sebagai gantinya, gue akan menulis soal...............

* terore rore roret *

N E W S I E S! (tapi cewenya yeay)

Pertama-tama, mari kita kenalkan satu-satu.



 Okay, jadi nggak semua yang ada di atas itu anak-anak cewe Gonz yang ikut berpartisipasi di Newsies. Mari gue kenalkan, dari yang paling kiri foto, yang pake baju merah, ngacungin jempol itu gue, alias Shabia Nur Asla, panggil saja Bia. Jangan tanya kenapa gue ngacungin jempol ke atas, mungkin bawaan gonji hyehyehye. Dilanjutkan perempuan manis di bawah gue pake baju warna pink, ngacungin jempol juga, itu namanya Birgitta Alindi, panggil aja Lindi. Sebelahnya, yang cantik pake baju warna putih, siapalagi kalo bukaaan: Prudentia Rachel Damiana! panggil dia Prue, pake 'e' inget ya. Belakangnya Prue, ngacungin jempol juga pake baju warna biru muda, yang sok imut, yang ci*a (eak rasis) adalah Smita Tanaya, panggilannya Smita. Sebelahnya Smita ada perempuan manis penuh skandal bernama Ursula Toding, biasa dipanggil Urs/Sul/Ursula/Ula. Daaaan yang terakhir, satu-satunya yang gak ngeliat ke kamera dan sok candid, paling atas (di antara tangan lele yang teracung ke atas), itulah Olivia Romauli Kusumastuti, eh, Kusumadewi muehee :3 dia suka dipanggil Oliv, gangerti deh pake e Olive atau nggak.

Oke, jadi mari kita perkenalkan mereka satu-satu. (plus tanggapan gue pribadi HAHAHAHA hai guys (cmiw, lindai, pruw, urz, and yib) bagi kalian yang membaca ini)

1. Smita Tanaya Sitanggang



Biasa dipanggil Smita, Smith, Smitha (tidak direkomendasikan manggil dia yang ini karena doi bakal tereak2: "DIBILANGIN GAPAKE H NGERTI GAK SIH!" jadi jangan yah.).

Smita ini adalah seorang cewe jagger yang terperangkap di badan pendek mungil dan wajah yang baby face jadi jangan tertipu dengan penampilannya NYIEHEHEHEK. Kalau berdasarkan urutan perekrutan, Smita adalah orang terakhir yang gue ajak ke CC, last minute banget, bener-bener last minute, waktu itu gue baru keluar moderator mau berangkat pas dia nanya, "Mau kemane lo?" dan gue jawab, "Ke CC, ada project teater gitu." dan dia langsung  ngomong "HAH SERIUS? MAU IKUT!" dan dia ikut...........................kemudian menjadi salah satu dari 6 yang bertahan hingga kini :") eazek.

Posisi Smita itu, dalam 6 pilar Newsies kami adalah...... penghangat dan pengobar semangat. Smita adalah perempuan pertama yang bisa deket dengan mudah ke cowo-cowo CC yang cool kalem dengan sebuah cara yang sederhana sesuai dengan keturunannya: berdangang. dagang gelang tepatnya. (ini serius men). gue inget waktu itu gue dan beberapa anak lain hanya bisa menatap dengan iri ketika Smita dengan mudahnya berkomunikasi dengan anak-anak Kanisius sambil teriak-teriak "WOY beli gelang doooong!" dan sesederhana itu, dia langsung dekat dengan semua c0w0 ehehehe. Dia easygoing, jadi gampang nyatu ke semua orang, dan Smita kalo udah gabung sama Oliv jadi duo stalker dan duo gosipper, elf-nya Bang Gun langsung rame gosip from the oven kalo ada mereka berdua, dari mulai ask.fmnya Julian, Juan, Gerits, instagramnya Kenny, HAHAHAHAHAHA semuanya kita tau dari mereka berdua:")

Oh ya, Smita itu kayak cowo. Tapi dia banyak yang suka EHEHEEHEHEHE.

Di Newsies, Smita jadi Sarah, satu-satunya peran yang punya adegan ehm sama si tokoh utama, JULIAN SIHOMBING ahahahahahahaha nyenye. Mau post fotonya di sini boleh gak smit? eak. Smita sangat berusaha keras untuk perannya, sampe waktu itu tiga kali dimarahin Babeh dan mendapatkan mental breakdown


2. Birgitta Alindi Prathitakanya



Alindaaaai! boleh manggil dia apa aja karena dia pasti akan tetep jawab sambil senyum manis :)


Lindi adalah cewe Newsies yang paling baik hati dan keibuaaaaan. Ia gak neko-neko, paling jarang nongkrong karena memiliki tanggung jawab dalam bidang kehidupannya yang lainnn. Alindi nih orangnya jarang kunplik, selalu ada buat orang lain, mau dengerin, selalu jadi pihak netral bersama Ursula Toding, dia murah banget minjemin uang HAHAHAHAHAHA iya yah Alindi? Selalu minta struk katanya biar dicatet ke pengeluarannya............

Posisi Alindi di geng kita adalah Sang Mama dan penenang suasana. Alindi itu teduh, netral, keibuan, kalo kita lagi ada masalah dan butuh dukungan larinya ke Alindi. Alindi itu paling ribet soal masalah wangi-wangian, pasti selalu bawa deodoran, parfum, body spray apapun HAHAHAHAHA.


Oh ya, Alindi juga gampang nyatu ke Anak CC karena dia pernah ikut Simfoni Untuk Negeri :)

Alindi, seperti yang sudah kita duga, berperan sebagai Esther, mamanya Smita. kenapa dia bisa punya anak kayak Smita?! yah kita juga gak tau kenapa. Alindi termadre pokoknya yeay

3. Prudentia Rachel Damiana




Boleh dipanggil Prue, Pruw, Pruntul, Put--eh yang itu gak boleh ya hyehyehye.

Prue adalah saaaaanggg princess! Bukan dalam arti negatif ya. Prue adalah perempuan yang paling cantik, baday, dan gahoel di antara kita semuaaa. Dia manis dan bisa menceriakan suasana dengan jayusan-jayusannya yang kadang jayus (?) yah namanya juga jayusan. Prue bisa berkolaborasi dengan Oliv menjadi tukang catok pro kalo udah megang catokan. Tangannya terampil vroh. Prue juga asik, kalo nanya apa aja ke dia pasti jawabannya aneh-aneh, kadang kalem biar gak konflik, suka ngeheboh sendiri pfffddd.

Prue adalah perempuan terskandal. Dia juga termasuk stalker yang hebat, tapi bedanya sama Oliv dan Smita, prue ini kalo ngestalk diem-diem tapi dia tau semuanya jadi hati-hati sama perempuan yang satu ini HYEHYEHYE.

Posisi Prue di geng kita adalah penceria dan pemanis suasana. Dia gampang nyatu juga sama cowo, punya suara yang bagus, anak taxi juga lyk me (ya iyalah orang tiap hari gue pulang ke apartemen doi sampe boshan heeeee), selalu bisa diandalkan dalam masalah fashion dan konsultasi cowok. HAHAHAHA

tapi katanya belum bisa nuntasin masalah cowo sendiri ya, cyin. mueheh

Prue, perannya paling banyak di antara kita. Dia jadi Lady yang lewat di Market pas ketemu Sarah, jadi polisi, jadi Citizen juga, jadi dia kobam tiga kali ganti baju. Prue itu terdabest <3 p="">
4. Olivia Romauli Kusumadewi






Boleh panggil dia dengan segala macam panggilan karena............ sangat disayangkan (atau diuntungkan?) Oliv adalah korban bully jadi panggil dia sesuka hatimu. Oliv biasa dipanggil Oliv, Olive, Oyib, Olip, Kodok, dan lain-lain.

APA YANG BISA AKU KATAKAN DARI KAMUUUU LIV?

Pokoknya selain Bia, Oliv adalah teraib seangkatan geng kita HAHAHAHA. Kalo gue fenomenal dengan bibir, Oliv fenomenal dengan semua otot wajahnya. Oliv bisa menekuk seluruh mukanya dan menjadikannya foto aib. dia bisa single chin, double chin, dan triple chin (!!!) sungguh fenomena yang hebat. Oliv ratu aib, dan dia sering mewarnai hari kita dengan keaibannya!

Hah, susah mendeskripsikan manusia yang satu ini :") selain aib, oliv adalah stalker. Stalkernya parah banget nyet, ati-ati ajaaa terutama bagi kalian yang memiliki wajah di atas rata-rata dan karakter yang menarik hati oliv. Suatu hari kita pernah iseng buka galeri iPhonenya oliv dan udah banyak foto juan, kenny, julian di situ HAHAHAHA (gapapah ya liv kubuka ini kan udah jadi rahasia umum). Kalimat pembuka untuk hasil stalkernya adalah: "eh tau gak temen-temen...." dan biasanya dilanjutkan dengan penemuan hasil stalkingnya.

Biar begitu, Oliv humoris dan dewasa. Dia murah hati, murah duit juga, sampe detik ini gue masih ngutang sama dia tapi kayaknya dia lupa (iya nanti pas kita masuk kubayar kok liv #wacana) Oliv nih hampir sama pemikirannya kayak gue jadi kita sering bertukar keluh kesah, kalo gue ada apa-apa ceritanya juga sama dia, dan oliv ini bo cor bo cor tapi yah gimana ya emang seru sih anaknya jadi its okei :""")

Posisi Oliv di geng kita adalah Penceria Suasana dan Pengobar Canda Tawa. Kalo Prue menceriakan suasana dengan jayusan dan tingkah dodolnya, Oliv dengan segala keaibannya yang kadang bikin kita mikir, "Liv................ kamu ntar ga punya pacar loh.........." Oliv bisa deket sama banyak anak CC karena dia gak jaim, asik, mau aib, mau susah, wah calon istri yang baik deh oliv ini #promosi

Tapi gini-gini, oliv bisa menggaet hati si tokoh utama, bor. hati-hati saja. #ehehe

OLIV TERSAYANG BANGET YAH i love you.
 
5. Ursula Toding Allorante




ew males nulis kamu urs aku ditikung terus. hoho bohong denK :p

URSULA! boleh panggil dia urs, ulla, sul, sulley, ursula, tik... yea nggadeng bebas mah sama dia, paling kalo panggilannya kurang sesuai dia cuman ngomong ala logat ursula "iyah gapapa kok gapapa panggil aja kayak gitu" nyiehehe

Ursula adalah............ wujud kebadayan dari geng kita wush wush wush. Ini anak bisa dibilang paling muda tapi kadang bisa mengkicepkan kita dengan kata-katanya (anak senat susah sih). Ursula adalah pihak Netral, gak pernah memihak ke salah satu pihak pun dan bisa menjaga rahasia. Punya skandal sama Pebe. Punya skandal sama siapa juga Urs yang satu lagi? Di.... Dirinya ya, urs? EHEHEHEHE. Ursula selalu menyempatkan datang latihan di sela-sela jadwal kepanitiaan yang padat dan Senat yang padat, dan dia dewasa dengan caranya sendiri luv

Rumahnya adalah basecamp bagi kita semua. Kita pernah nginep rame-rame di rumahnya dan ngeberantakin seisi kamarnya tapi.................dia cuman bilang "iyah gapapa kok gapapa berantakin ajaa nanti juga beres sendiri" HAHAHAHA syid :( Ursula itu murah hati, murah senyum, murah duit juga, aku juga masih ngutang sama kamu urs :( Shabia sering curhat ke Ursula karena kita adalah satu hati yang terpisah menjadi dua

Ursula boleh dibilang adalah perempuan tercantik juga, karena dia emang cantik dan badai. badannya so kurus, poninya juga, jalannya juga, jadi kita bisa mengidentifikasi ini Ursula dari kejauhan (?)

Posisi Ursula di geng Newsies adalah: Penetrasi dan Pelurus Keadaan. Ursula emang suka konflik tapi dia luruuuuuus banget lurus. Waktu itu gue pernah berantem sama Smita dan gue sama Smita sama-sama minta advice sama Ursula sampe dia pusing tapi dia gak mihak siapa-siapa yeay. Ursula bisa menimbang yang mana yang baik dan yang mana yang buruk dan gak mencoba untuk menghakimi kedua sisi. I dont care i luph it urs kalo kata anak cc yehey

Hidup Ursula penuh tikung-tikungan dan konflik dan marahabaya dan badai cakrawala jumantara ashakafbkaqebfwofjACd yea lebay. TAPI WALAUPUN BEGITU AKU SAYANG URSULA KENDATI KAMU *********** yea disensor. apalah arti persahabatan dengan putus cinta ya kan urs

6. Gusti Nur Asla Shabia





(...............................)

YEA GUE NULIS APA NIH TEMEN-TEMEN?!!!!!!! HEHEHE.

Pokoknya, intinya, gue bahagia banget bisa mempertemukan kita semua, meski gue sering ditumbalin, pas disuruh maju buat tes nyanyi gue duluan, pas masuk Aula Lantai 4 gue duluan, paling sering ditelpon Pater Buddy, ngomong serius sama Ci Ali sampe waktu itu dipedesin shhhaaaahhh tapi kalian selalu ada di samping gue. aih. Gue gatau posisi gue di Newsies apaa.................... tapi w chayank banged cama kaliand ehe.

----


Seakan sudah diciptakan untuk bersama-sama, kita masing-masing pulang ke rumah ada temennya. Gue dan Prue yang notabene anak Selatan (hore Ansel!) sering pulang berdua naik taksi, jadi kami adalah duo taksi #hedon. Smita dan Lindi yang bergerak ke Timur biasa make kereta, kereta malam. Dan Oliv sama Ursula yang sering maenan ke Kokas selalu bergerak berdua menggunakan mobil Oliv ataupun mobil Ursula ke arah Tenggara, tepatnya daerah Kasablanka dan Cipinang ke sono lagi.

Kita udah pernah ngelewatin semuanya bareng. Bener-bener semuanya.

Dari mulai ngegosipin betapa sombongnya anak-anak Kanisius (hahaha hai anak CC!).

Ngegosipin yang ganteng yang mana, prediksi siapa yang bakal jadian sesudah ini (iya smit, waktu itu lo prediksiin yang bakal jadian itu Oliv, Gue, Prue dan semuanya salah bwek :p).

Kita udah pernah saling sirik-sirikan dan berantem. (Yang paling sering berantem sih gue sama elo ya Smit hvvvvvfffft) dan pada akhirnya sadar kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ngebully satu sama lain. Minjem-minjeman duit. Remed bareng, susulan bareng, dihujat bareng, sampe kita ketinggalan pelajaran, nilai turun, ketinggalan gosip yang lagi in di Gonz, capek-capek an bareng, pulang sekolah pada tepar di elfnya Bang Gun dan tidur siang di sana, makan KFC bareng-bareng.

Terus udah pada gak jaim lagi! Dari mulai nginep di rumah Ursula dan mandi dengan pintu kamar mandi kebuka, keluar kamar mandi cuman pake B* (iya belakangnya H), ataupun hanya dengan *D (iya huruf depannya C) HAHAHAHAH. umplek-umplekan bareng, aib bareng.

Tapi yang bikin kita semua menyatu adalah kita susah dan seneng sama-sama. Waktu kita mojok di tepi lapangan dan nangis-nangisan bareng terus ujung-ujungnya pelukan? Itu adalah awal dari kebersamaan kita :) yeay.

Pokoknya, bersama kalian hidup jadi lebih indah deh. Newsies bukan sekedar pengumpul kita doang, tapi perekat kita mungkin ya, Gue bahkan sudah tidak mengenal batasan umur lagi (Eee ya iyalah orang umur kita sama ya). Maksud gue, bahkan batas antar angkatan di sini udah gaada lagi :")


minus alindi :(

UDAH AH GAMAU MELLOW22. jari w pegel ngetik ini satu jam sabi gak? sabi ya #krik

Yang penting: kalian semua hebat, cantik, perkasa, mewarnai Elf Bang Gun dengan karakteristik masing-masing, dan aku cinta kalian semua! sebuah kehormatan bisa kenal kalian.

katakan iya untuk cewe-cewe Gonjagaz :}


 

Selasa, 27 Mei 2014

Saya hanyalah Setapak yang Mengantar



Saya ini hanyalah setapak yang mengantar.

            Saya tidak bisa menjanjikan kamu jalan yang mewah dan penuh dengan kemudahan, karena saya, sekali lagi, hanyalah setapak yang mengantar.

Dahulu kala, pernah ada periode di mana pengembara kerap kali menapak tungkai di atas raga saya. Mereka berbisik, mereka takkan jera mengarung melintas tubuh saya, karena saya adalah satu-satunya opsi yang mereka miliki.

Saya sudah pernah mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Saya berkata, “Aku tidak dapat melindungimu dari bias sinar kalacakra tatkala Kemarau bertakhta. Aku juga tidak dapat melindungimu dari jarum-jarum likuid yang menyerangmu ketika Penghujan berkuasa. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

satu detik.

… Kemudian mereka menyahut, “Tak apa, kami masih memiliki tudung untuk menutup ubun-ubun kami tanpa perlu merasa panas dan penat, juga menghindari basah dari hujan gerimis.”

Maka saya biarkan mereka berjalan beberapa kilo.

Hingga kembali saya mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Saya berkata, “Aku akan merentang melalui belantara, saat di mana siang hari bisa menjadi waktu kamu semua bereksplorasi, namun ketika kresnapaksa menyorot dari jumantara—marahabaya akan mengintai kalian semua dari sesemakan. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

dua detik, satu detik.

… Kemudian mereka menyahut, “Tak apa, kami masih memiliki pedang untuk membutakan mata-mata itu dan kekuatan untuk bertarung.”

Maka saya biarkan mereka berjalan beberapa kilo.

Hingga kembali saya mengingatkan mereka—

—saya hanyalah setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)
Saya berkata, “Aku masih akan mengantarmu lebih jauh. Sehabis ini, kontur dan tekstur di atas ragaku akan bertambah menguji. Ketika bermandikan banyu, tanahku bisa mengikat tungkai-tungkai kuatmu dan membuatmu berjalan lebih lambat, dan ketika kering menghembus bayu, tanahku akan membuat atensimu mengerjap karena debu. Kamu bisa kembali dan memutuskan untuk tidak menapak dalam setapakku.”

Hening sejenak, …

tiga detik, dua detik, satu detik.

… Kemudian mereka menyahut. “Tak apa, kami memiliki alas kaki yang resisten dengan lumpur coklat itu, kami juga bisa memejamkan mata kami ketika debu itu mengangkasa.”

Maka saya biarkan mereka berjalan, untuk kali ini, berkilo-kilo.

Saya tidak pernah mengingatkan mereka lagi, karena harsa menguasai akal sehat saya. Saya begitu ria karena mereka sudah melangkah sejauh ini, walaupun terkadang mereka berbisik penuh keluh ketika menyangka saya sudah terlelap. Walaupun mereka menendangi saya ketika mereka frustasi dan putus asa. Walaupun begitu, saya tetap mengarahkan mereka ke mata air dimana mereka dapat memuaskan dahaga mereka, ke petak-petak dimana pohon buah dapat memuaskan lapar mereka—intinya, saya memberikan mereka sebagaimana setapak memberikan seluruh kelebihannya. Dan tujuan mereka semakin saya dekatkan.

Lalu, terhembuslah kabar angin itu.

Ketika saya tersadar dari tidur saya, saya merasa sepi berjengkuh raga saya. Tak ada bisik-bisik semangat yang biasanya termelodi di subuh yang dingin. Tak ada entitas yang menancap di atas raga saya. Kosong—

Kemudian dirgantara berbisik prihatin di atas sana, “Mereka sudah pergi, Setapak. Ketika kau lelap, bayu bertiup melintas, berkata jalan aspal di ujung sana sudah dibangun. Jalan aspal itu menyajikan tudung kaca untuk melindungi mereka dari gejala cuaca, dan jalanan licin yang tak sebanding dengan keropeng-keropeng tanahmu. Mereka terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan—jadi selepas subuh mereka telah meninggalkan jalanmu.”

Saya hanya bisa terdiam.

Saya ingin murka, saya ingin marah, saya ingin muntab—

—tapi sekali lagi, saya hanya setapak yang mengantar.

Hanya dibutuhkan dua hari hingga negeri di ujung sana terbentang di depan pengembara yang saya antar. Hanya dibutuhkan kesabaran menghadang gerimis, terik, becekan, debu, teror, dan rintangan lain selama beberapa kilo, karena medan di depan sana tidak seekstrim ini.

Katanya mereka takkan jera?

Padahal, saya bukanlah setapak yang ingkar. Di jalan di mana kelok saya pun berakhir, gerbang yang paling indah yang didambakan para pengembara itu akan menyongsong mereka.

Tahun-tahun berlalu, dan siklus ini terjadi berulang.

Saya akan memperingatkan mereka dengan larik-larik yang sama, dan Para Pengembara menjanjikan kalimat yang sama. “Aku takkan jera”, katanya.

Tapi di tengah jalan, mereka akan raib.

Mereka, tentu saja, lebih memilih opsi di mana jalan aspal akan mengantar mereka penuh kenyamanan. setapak saya pun bertambah sepi. Saya mati.

Bahkan di beberapa paruh waktu, mereka menghancurkan raga saya—membuang limbah, mengeksploitasi tanah yang menyelimuti raga. setapak saya pun bertambah sepi. Saya terluka. 

Saya masuk ke dalam diri lebih dalam.

Di gerbang di mana setapak saya mengawali jalan, saya biarkan dedaunan dan tanaman jalar merambatinya, agar tak ada Pengembara yang melirik saya dan melukai setapak saya jauh lebih buruk lagi. Di gerbang di mana setapak saya mengawali jalan, saya biarkan mereka memasang palang tanda “berbahaya” agar tak ada Pengembara yang masuk dan melukai setapak saya jauh lebih buruk lagi.

Saya, sejujurnya, agak lelah.
.
.
Sekali lagi, saya hanyalah setapak yang mengantar.

Jangan salah, saya merindukan sesosok Pengembara di atas raga saya. Saya mendambakan kehadiran mereka, tetapi sekaligus saya takut.

Mereka tidak bisa menerima saya apa adanya.

Katakan saya naif, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya butuh gerimis dan sengatan mentari agar saya lebih merasa hidup ketika berjalan di atasmu.”

Katakan saya bebal, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya butuh kresnapaksa menyorot saya sehingga saya dihinggapi teror, dengan begitu saya dibiasakan untuk menghadapi kerasnya buana.”

Dan katakan saya irasionalis, karena saya ingin mereka menjawab, “Tak apa, saya bisa terbiasa melangkah dengan kuat agar tak ada yang menghalangi saya, dan saya bisa melatih mata saya awas, dengan debu-debu yang beterbangan itu.”

Saya hanya setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Dengarkan ini, Pengembara. Maafkan saya bila saya tak memberi kesempatan untukmu. Maafkan saya karena saya menguji, maafkan saya karena setapak saya buruk rupanya. Maafkan saya apabila saya menutup jalan ini begitu lama dan seakan tidak percaya.

Tapi tidak.

Saya masih memercayai kamu. Sibaklah gerbang saya dengan pedang yang kamu miliki dan lengkapilah dirimu dengan perbekalan, lalu mulailah memulai perjalananmu melintas saya.

Kuperingatkan kamu.

Saya hanya setapak yang mengantar. (yang penuh derita dan kekurangan.)

Dan ada si jalanan aspal yang juga mengantar. (yang penuh sukacita dan kelebihan.)

Tidaklah mudah untuk mengarung di atas saya. Itu saja. Tetapi saya berjanji, jika kamu tabah, begitu pula saya. Setapak saya akan mengantar kamu ke gerbang yang terindah, tetapi akan banyak cobaan yang kamu hadapi dalam jalanmu bersama saya.

            Jadi,

            Saya harap kamu adalah Pengembara yang takkan jera.

            Karena saya hanya setapak yang mengantar, yang sudah terluka namun tulus dan penuh harap.
            
             Saya menantikan Pengembara yang berkata, "Saya takkan menyerah, karena walaupun setapak ini menguji, kamu yang akan mengantar saya ke kebahagiaan hidup saya."

Jakarta
Dari kamar ungu
27/5/2014