Minggu, 03 Agustus 2014

Apresiasi Kepada Sahabat-ku yang Pujangga



Halo!

Sebelumnya saya ingin mengatakan, satu entri ini saya dedikasikan khusus untuk dua orang spesial yang berpanggilan dengan huruf depan sama, yaitu alfabetika ‘S’: Samantha Samsuddin dan Smita Tanaya. Boleh jadi kalian berdua adalah para pujangga-pujangga berusia ranum (yang mana artinya kita bertiga adalah remaja penuh kegamangan, hihi) yang pertama, yang saya muat puisinya di sini.

Ada kalanya saya jahil meminta orang-orang untuk membuatkan sesuatu untuk saya: sesuatu yang membuat keduabelah pihak senang, entah saya sebagai tokoh tak tahu diri: sang pengemis, atau mereka yang senang karena saya percaya: sang dermawan.

Oke. Kita sudah berbicara soal pemberian. Nggak usah berverbose, ya, sahabat-sahabatku. Saya hanya bisa tersenyum ketika mengetik ulang apa yang Samantha (yang tengah terik tadi menemui saya di koridor dengan dua lembar kertas) tuliskan untuk mengobati gulana tengik ini. Dan inilah frasa-frasa yang ia tujukan pada saya:

JANGAN MENCINTA
Jangan mencinta jika hati tak minta
Jangan memberi hati yang rapuh
Semuanya akan sia-sia
Hanya itu harapannya

Jangan mencinta, Dayang, jangan
Buat apa serahkan hati untuk dikembalikan
Bukankah sudah dikatakan semuanya akan jadi salah

Maka jangan mencinta
Mencinta buta
Buta termakan hati
Hati yang tidak meminta

S.S, 12:10, dengan beberapa revisi dari S.N.A

(Membacanya membuat saya merenung. Mungkin kamu sedang menegur saya (sebagai seorang pecinta), tentang memikirkan baik-baik dan tidak termakan konsep ambivalen dari satu morfem universal itu: cinta. Bahwa cinta tak sekedar: saya ketemu doi, nyaman sama doi, buta sama doi, pe de k ate, pacaran, dan voila! Tatkala saya sudah buta bak pengidap miopi kena katarak, saya sadar yang saya cinta hanya Pangeran menganggap saya Dayang. Pffft. Jadi jangan mencinta, daripada mencinta tapi menjadi pajangan, bukan begitu, Sam?)

Hanya Harus Percaya, Shabia (wih ada namaku!)
Kamu tahu, bahwa kadang semua hal tidak seperti yang kamu inginkan
Kamu tahu dan kamu sadar penuh, hanya saja kamu tidak mau mempercayainya
Ada kalanya dan karena kamu manusia, kamu  akan bersedih
Mungkin juga menetaskan air mata
Tidak apa-apa, sungguh.
Semuanya akan baik-baik saja.
Yang harus kamu lakukan hanya satu: percaya

Hidupmu terlalu indah untuk dipungkiri
Kamu dengan segala yang ada padamu adalah kesempurnaan estetika
Tak perlu kamu masuk ke kamar dan menguncinya
Dan mulai melangkahkan kakimu ke atas Kasur untuk meringkuk
Di bawah selimut dan ya, meratapi nasib
Tidak perlu … sungguh itu tidak perlu
Yang harus kamu lakukan: kembali percaya

Matahari masih terbit dari timur, dan langit masih berwarna biru
Selama juwita masih begemerlapan di langit malam,
Hatimu akan baik-baik saja
Sentuh dadamu, masih berdetak bukan?
Itu artinya kamu baik-baik saja
Mengyangkalnya hanya akan membuatnya bertambah buruk
Semua hal yang tak enak itu akan tetap datang
Itu akan menyakiti hatimu: merobek setiap inci dari harapan
Jika itu datang, maka yang harus kamu lakukan:
Percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja

{dan benar semuanya akan baik.
Kamu hanya harus … ya percaya.}

r.6 | 12:45 \ 23.07.14
S.S, lagi-lagi dengan revisi kecil oleh S.N.A

Yang di atas tadi mungkin semacam surat penutup ya, Sam? Siang hari tatkala institusi kita rehat dari pelajaran, saya melihatmu dan minta dibuatkan puisi. Dan kamu bertanya, “Mau tema apa?” HE HE HE, sudah seperti milih menu saja, ya? Dan saya jawab. “Cinta saja. Eeeh jangan, kasih sayang aja. Eeeh! Sakit hati. Apa sajalah, Sam.” Seperti seseorang yang galau, padahal detik itu saja saya sedang tidak memikirkan konflik percintaan saya (saya sedang memikirkan uang jajan dan makanan yang harganya tidak sebanding, bahkan. Saya memang kadang suka tolol.).

Lalu kamu muncul, Sam! Membawa dua lembar kertas file, dua halaman yang terisi penuh, dan empat buah puisi yang manis teruntai. Dan keempat-empatnya, saya baca dalam pelita remang-remang dalam angkutan umum, diiringi sebuah senyum.

Terima kasih, pujangga Samantha. Untuk puisinya yang sederhana namun meliuk (puisimu mengingatkan saya pada buah kata karya Rendra dicampur Sutardji Calzoum, lalu disederhanakan dalam potret kata-kata remaja), dan untuk dua lembar kertas file yang sudah melebihi rikues, HAHA! Semoga kita berdua semakin mampu menyiasati kata dan berkontemplasi, uhuk.

(oh ya, puisi ini indah, beberapa di antaranya benar, tetapi apa yang terjadi bukan yang sebenarnya terjadi, Sam. Kalo kamu udah baca entri ini, chat saya dan besok saya curhat, ya, di sekolah. :p )

Lalu ini balasan atas puisi kamu. Kamu buat empat, maka saya juga buat empat. Nanti saya kutip ini ke kertas antik, lalu saya kirim ke kamu. Semoga kamu menikmatinya J

Debu Embun
Ini ceritera tentang seonggok debu
Yang melapis membaring di etalase jendela
Boleh jadi si debu ialah seorang pengagum bisu
Yang direksi netranya selalu tatap butala

Ini ceritera tentang setetes embun
Yang menitik di belantika hijau rerumputan
Sangka siapa si embun simpan asmara
Tatkala atensi beningnya tatap cakrawala

Dan ini ceritera tentang debu embun
Yang pada realita saling taruh hati dalam senyap
Beda purwarupa cegah mereka tuk melebur
Hanya sedetik pandang yang tertukar menghablur
Aku tak mau melarutnya, pikir sang embun bila mereka bersatu
Aku tak mau cemarinya, pikir sang debu bila mereka bersatu

Maka dari itu, ini ceritera tentang debu embun
Yang ajarkan kita berdua:
Tentang kesahayaan parabawa.
{ada cinta yang hadir karena sanggama
Dan ada yang tercukupi hanya dengan tatap asmara}

Puisi denotasi. (mengapa kusebut denotasi? Penyair jelaskan maknanya di akhir)
S. N. A. \\ 9:08 PM

CUKUP SUDAH
Sudah! .
, . . aku bilang sudah! ,
Berhenti. , , , .
, . , Aku bilang berhenti! ,
Baik kalau ini yang kamu mau,
Aku sudah minta cukup sudah . ,
Kini kugantung kamu , ?

Puisi mbeling. (yang di atas bukan kesalahan tanda baca atau saya mabok. Ini namanya puisi mbeling, saya banyak belajar dari Jeihan.)
S. N. A // 9: 12 PM

KESALAHAN KEMBAR
Aku hanya bisa tertawa
Ketika ia langkahkan tungkainya
Adalah alasan tak pasti
Satu-satunya yang ia miliki
Aku tak bisa
Padahal siang itu matari tengah teriknya
Lalu semua berubah
Ini semua salah
Ternyata semua yang sebelum adalah salah, katanya
Aku ingin merubah keadaan
Ia berkata semua adalah sebuah kesalahan
Semua itu dikatakannya kala purnama
Ternyata aku mencintaimu
Ia memang enigma gila yang berbahaya
Aku hanya bisa tertawa.

Puisi ambi. (saya lupa namanya, tapi kamu bisa membacanya dari awal ke akhir, akhir ke awal. Silakan dicoba. Pusing? Saya juga. Saya masih belajar membuat puisi yang satu ini, Sam. Mohon maaf.)

MALAM

Dalam jerit kelelawar
Tapak-tapak itu masih setia membelah kelam
Belantara ia terjang
Bareksa yang memuntir ia hadang
Juwita malam ia pandang
Sembari berdoa hingga tenteram

Jarinya mengetuk
Pintu jati itu berbunyi seakan mengangguk
Sempurna sudah rongga pintu terbuka
Di baliknya sesosok gadis mengerjap tak percaya

Pemuda itu terengah
“Ada yang salah,” katanya
Ia baru sadar malam jadi gelap sekali!
Ketika kekasihnya tak lagi menginap: sepi!
Puisi jenaka. (saya gak tau jenakanya dimana, Sam. Tapi boleh tolong ketawa? Bayangin aja suatu hari kamu nginep di rumah pacarmu selama tiga hari berturut-turut, terus hari keempat kamu pulang, dan ia khusus dateng ke rumahmu malam-malam hanya ingin bilang ia kehilangan kamu dalam cara yang bodoh. Ya. Lucu kan? Lucu dong.)

Empat sajak sudah tercipta. Pujangga lahir dari pujangga. Dan saya; saya lahir dari kalian, sesama teman pujangga! Hidup perempuan perkasa penoktah tersina! :p

(oya puisi Smita Tanaya masih ongoing katanya. Jadi nanti diedit setelah si Tuan Putri selesai yah. Sampai bersua lagi!)

Minggu, 27 Juli 2014

Renungan (Menjelang Aidil Fitri)


Ratus kali hamba lupa
Padahal rizki-Mu limpah segala
Tiada habis ia mewarta
Tak juga ku tadahkan tangan

Juta kali hamba berserapah
Tak sikit pun ucap hamdalah
Atas netra yang masih mampu berproyeksi
Atas wicara yang masih bisa bermelodi
Malah keluh kesah yang hamba rajang:
“Aduh Gusti, ini masih kurang!”

Hikmah-Mu datang perlahan
Saat yang limpah segala kini remang tak bersisa
Saat gemuruh cobaan hempas raga hamba
Menuju samudera tanpa harsa—
Yang ada hanya sengsara

Hikmah-Mu datang perlahan
Tatkala paras hamba tundukkan
Menelangsa sesal tiada guna
Malah kau buka kelopak yang selama ini menutup
Malah kau tengadahkan telapak yang selama ini telungkup
Katamu: “Masih ada jalan”

Lalu sesederhana itu
Aku muntab

S.N.A // 4:23 // sudut ungu selepas Ashar

.
.
.

Apa yang tertulis di atas bukanlah keseluruhan yang aku rasakan Ramadhan ini.

.
.
.
 
Malam ini aku tepekur. Sendirian di dalam kegelapan kamar, meminta izin kepada saudara-saudara di ruang depan sana—Bia ingin merenung, kataku. Biar saja mereka tertawa. Tapi toh tak ada yang melarang.

Saat sudah sendiri, kulakukan kilas balik ke 30 hari yang sudah kulewati dalam rangkulan Ramadhan ini.

Aku berefleksi.

Ya Khalik, apa yang telah aku lakukan, ya, selama sebulan ini?

Jawaban kosong menyahuti. Memang tak ada yang perlu dijawab, karena nurani telah tahu di dalam sanubari. Ramadhan ini, seperti yang sudah-sudah—masih sama. Dalam banyak hal. Tapi ada satu hal, satu hal yang umpama bara api yang menempel di sudut-sudut rerantingan; memang mungil rupanya, tapi hanya dalam satu sengatan ia bisa membuat ranting itu terbakar.

Pada Ramadhan ini, aku ditampar.

Tidak. Adalah sebuah wacana munafik apabila aku berkata: YA TEMAN-TEMAN! LEBARAN INI AKU TERLAHIR KEMBALI! MARI SEMUANYA MULAI DARI NOL LAGI!

Aku tidak sehipokrit itu. Ditambah, aku tidak sesuci itu. Mereka yang reinkarnasi dan lepas dari samsara tentulah mereka yang bukan hanya mengalami tamparan layaknya aku, tetapi ditendang. Benar-benar ditendang sampai terjungkang, sudah itu masih terguling dan mengonggok di jurang. Namun nyawanya enggan merenggang. Kesengsaraan abadi.

Mari beralih ke topik utama, aku tak akan membuang kata. jadi, ini ceritanya:

Malam itu adalah malam yang biasa. Namun sejak Maghrib menjelang, dorongan hatiku untuk menunaikan Tarawih (yang memang belum kulakukan sejak awal puasa) terasa sangat kuat. Sempat terselip rasa segan karena tak ada teman yang mengiringiku. Tapi kupikir, untuk apa ditemani. Alasanku klise sekali.

Maka aku berangkat. Shalat. Bersama jamaah lainnya. Hari itu hujan, gerimis, seakan Allah menjahili hamba-Nya yang sering tergoda oleh nafsu duniawi ini. Tapi tidak, aku menggeleng ketika tetes pertama membuat wajahku tercoreng. Aku harus tarawih, setidaknya sekali.

Lalu, ya, sampai juga aku di surau yang sepi. Dan setelah beberapa jamaah telah memadati saf, aku mendengar keresak mik dibetulkan oleh imam.

(OH ya, aku tarawih sehabis membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sebuah karya Tere Liye ttg kehidupan, indah sekali. Nanti akan kuceritakan.)

Kemudian azan Isya berkumandang.

… apa yang terjadi setelahnya benar-benar membuatku malu. Aku menggigil. Seperti layaknya Umar bin Khatab membaca naskah yang ia kira surat—ternyata penggalan ayat Al-Quran. Aku menggigil mendengar azan itu.

Ya Khalik, kapan terakhir kali aku shalat jamaah dan merasa sendiri?

Tetes air mata pertamaku jatuh ke mukena. (sumpah, aku tidak bermajas hiperbola. Aku sungguh, sungguh, sungguh, mengalami hal ini.) aku menahan isakan. INI YANG AKU CARI! Ini. Tetes air mata kedua, ketiga, keempat menyusul. Kuusap tak kentara, lalu aku menoleh kepada barisan saf di kanan-kiri mereka.

Mereka semua—adalah saudaraku. Mereka adalah muslimin dan muslimah, yang, sedang menabung kebaikan kala itu di surau, sepertiku.

Hari itu aku ditampar. Tuhan menjawab rinduku yang selama ini aku tak tahu harus lampiaskan ke siapa.

Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah, Irji’ I ila Rabbiki radiyatam mardiyyah.
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan ridha dan diridhai. (QS Al Fajr: 27 – 28)

(Aku ridha, Ya Allah, dan semoga aku juga diridhai Mu.)

Malam itu, aku bertahan hingga Imam mengucap tahlil.
.
.
.

Lalu, kini.

30/30. Syawal yang lain. Ramadhan-ku belum sempurna. Tapi ia telah pergi. Aku tak mau munafik: aku masih bau kencur. Kejadian di atas hanya sentilan sentilun, aku masih butuh yang banyak yang seperti itu. Bisa jadi, sehabis aku menulis ini aku kembali lupa, lalu berubah menjadi manusia merugi—lagi.

(Tapi aku mau bersyukur.)

Malam ini aku tepekur.

Setelah setengah jam yang lalu baru saja kukayuh sepeda keliling kampung. Khusus untuk melihat bocah-bocah main petasan. Menabuh gendang takbiran, bersuara keras meneriakkan takbir seakan Tuhan tak mendengar yang pelan. Lalu  Mendengar gema itu tergaung di mana-mana, lafadz kebesaran Allah.

Malam ini aku tepekur. Masih banyak yang harus kuperbaiki. Shalat tak boleh bolong. Al-Quran harus khatam. Ramadhan yang akan datang, harus kujemput Lailatur Qadar. Dan masih banyak lagi, dan masih banyak lagi.

Sehabis ini, aku akan menyalakan lampu. Kembali bercanda bersama saudara-saudaraku, bermain letupan bersama-sama (oh ya, itu euforia yang lain lagi).

Satu kesimpulan: Ramadhan ini, memang aku belum dalam tahap reinkarnasi. Aku masih kotor. Tapi Allah, Allah telah membuka mataku atas apa yang selama ini kucari: Islam itu indah, Shabia. Kamu tidak perlu merasa kesepian. Pergilah ke masjid, shalatlah, lalu selesai shalat tengok kanan dan kiri. Salami mereka dengan tulus. Mereka saudara saudarimu. Aku tak perlu reinkarnasi. Aku hanya meminta kepada Allah, sering-seringlah menamparku seperti ini.

10:13. Aku masih duduk tepekur. Takbir masih tertutur di luar sana.

(Kubaca ulang dari awal. Ah, lagi-lagi, apa yang kutulis memang tidak mewakili apa yang kurasakan secara menyeluruh. Biar saja lah. Waktuku sudah habis tepekur di sini.)

Akan kunyalakan lampu, dan semoga esok hari ketika kubaca kembali entri berikut, diriku yang ‘ini’ masih terpatri. (karena memang tujuannya aku mempublikasi ini)

Sampai berjumpa lagi. Dan Oh, mohon maaf apabila selama ini hamba terlalu melankonli dan banyak omong kosong :)

.
.
.

(PHET! Lampu nyala.)
Minal Aidin Wal Faizin.
(Semoga kisah ini bisa menginspirasi)




SELAMAT LEBARAN, TEMAN-TEMAN!!! :D