Minggu, 21 Desember 2014

Tidur Bersama




Di balkon yang tadinya penuh hiruk-pikuk dan ingar-bingar tawa mabuk, perlahan sepi merayap dan mengipas-ngipas sosok-sosok fana: Purnama menjelma menjadi ibu-ibu keriput; tangannya kisut.

Dalam senyap kita bersitatap
Dan kala kelopak-kelopak mata yang sok tabah itu mulai menutup,
tinggalkan cerutu dan asap yang lelamat siup
kita merayap. 

---

Sesungguhnya bila kau pinta aku ceritakan kembali 180 menit yang rasanya terlalu singkat untuk kita
Jemariku terlalu bingung untuk merantai kata, dan memutar memori yang penuh harsa gempita

Aduhai, waktu itu sempat pula tidak kau dengarkan detak jantungku?
Ia bertalu, tahu, saat kurebahkan di samping milikmu

—Tapi kau tak tahu saja


Aduhai, waktu itu sempat pula tidak kau lihat mataku yang perlahan terbenam?
Ia tenggelam, tahu, kala kau tatapku dengan pandang Samuderamu

—Tapi kau tak tahu saja


Sesungguhnya bila kau pinta aku ingat kembali 180 menit yang rasanya terlalu mimpi untuk jadi realita
Jiwaku terlalu rindu untuk dibaringkan berdampingan…

Kita tidur bersama (ya, kan, waktu itu?)
Tak sisakan serentang jalan bagi bayu untuk berjingkat
Atau mungkin ingar-bingar yang pekat
Karena kita terlalu rapat
Rengkuh, kecup, napas, tatap

— entah berapa ya yang kita tempa?


Kita tidur bersama
Dan aku melihat Semesta
Tak ada jarak
Tak ada waktu
Tak ada aku
Tak ada kamu
Hanya kita, ya, kita, dalam tidur kita bersama


Senin, 24 November 2014

Dialog: Hujan dan Gadis (I)

EXT. PADANG RUMPUT - SENJA                                                                                                         

Kaki telanjang itu melangkah perlahan, membelah ilalang berembun, hingga sampailah ia ke tengah padang, di bawah pohon oak. Matanya nyalang menatap embun yang menggores.

GADIS I
(tersenyum kecil)
Saya suka hujan.

Hujan bergumam senang. Makin deras saja ia meraja.

GADIS I
(senyumnya luntur)
Tapi, saya benci hujan.

Hujan berhenti berelegi sejenak. Aduh biyung, ia jadi bingung.

GADIS I
Kamu tau, hujan? Hati tak pernah bohong.
Kala hujan turun, ia bermetamorfosa
 menjadi wadah tadah hujan.
Jujurku terbukaku, Aibku ia paku.

Hujan mendengarkan.

GADIS I
Tapi, hati yang jujur adalah hati
yang melukai hati yang lain. (Dan 
ketika hujan turun dan belah jiwaku
menjadi jujur, aku baru tau
tadahnya menyerong bukan padaku
pada jujurku terbukaku.)

Hujan masih pasang telinga. Tapi tak ada suara yang berirama. Ia pasang mata di rintiknya yang jatuh ke bumi, mengintip dahan-dahan pohon oak yang menyembunyikan si gadis.

Hujan terpana. Hanya ada kaki yang tak menapak, tergantung terayun rinai-rinai dari bareksanya.

FADE TO POHON OAK, PULL FOCUS GADIS TERGANTUNG

FADE TO BLACK 





Rabu, 22 Oktober 2014

suci

apakah hamba masih perawan,
pabila kancing baju terbuka tampakkan tubuhnya- dadanya- buah dadanya- pahanya- bokongnya dan semua kelembutan wanita yang sama-sama dipunyai,
(yang mungkin tersingkap) tapi kelembutan itu belum pernah terjamah di luar waktunya?

apakah temanku mutlak perawan,
pabila jilbab lengan panjang dan baju gombrong sasatkan tubuhnya- dadanya- buah dadanya- pahanya- bokongnya dan semua kelembutan yang sama-sama kami punyai,
 (yang belum terungkap) tapi kelembutan itu sudah tercemari tangan-tangan dalam paruh waktu?

mana yang lebih baik?

kita manusia.
kita punya nafsu.
kita punya hasrat.
kita punya nafsu, hasrat, penghakiman.
kita punya nafsu, hasrat, penghakiman, jiwa, jati diri, asa, rasa.

aku tak pernah bilang: yang terbuka tapi tak terjamah, akan lebih baik dari yang tertutup tapi terjamah. baik bagaimanapun, yang tertutup dan tak terjamah haruslah selalu diperjuangkan.

aku tak pernah bilang, yang membaca Kamasutra, lalu berpikiran tabu tapi tak melakukannya akan selalu lebih baik daripada yang membaca Kamasutra kemudian mempraktikannya dalam kehidupan nyata (tentu saja, sebelum waktu yang tepat).

aku hanya sedikit buka kata:

yang tersembunyi
bukanlah yang terbaik
yang tertutup
bukan berarti bebas dari asas hipokrit

dont judge a book by its cover. (and sadly, people keep doing and implementing this metaphorical phrase, even when they have never tried to read and view the deepest page of that book .)