afeksi,
afeksi dimana-mana.
di mana-mana,
orang menunjukkan afeksi
untuk aku:
afeksi di dalam sepi
(hanya berdua)
sepi sekali...
afeksi,
afeksi dimana-mana.
di mana-mana,
orang menunjukkan afeksi
untuk aku:
afeksi di dalam sepi
(hanya berdua)
sepi sekali...
25 September kemarin aku ulangtahun. Usiaku genap 22 tahun. Belum sampai seminggu aku menikmati usia baruku, aku sudah jatuh sakit lagi; kali ini asam lambung lagi dan beberapa hari kemudian, hipertiroid. Diketahui kadar tiroidku berlebihan meski masih dalam batas yang tidak terlalu tinggi. Inilah yang menyebabkan aku kerap merasa lemas, tidak semangat kerja, dan berat badanku turun, di samping kombinasi rasa mual, muntah, perut tidak enak, dan brain fog.
Untuk orang yang suka kerja sepertiku, dua penyakit ini sangat menyiksa. Aku jadi tidak bisa "produktif" dan merasa putus asa karenanya. Untuk pertama kalinya, aku tahu rasanya hampir kehilangan harapan itu apa. Aku takut penyakit hipertiroidku tidak sembuh, asam lambung jadi penyakit langganan setiap bulan dan tak bisa kutanggulangi datangnya, dan yang paling parah: aku takut penyakit-penyakit ini akan menghalangi mimpiku untuk pergi sekolah keluar negeri, memperoleh karir yang bagus, membangun keluarga dan punya anak, dan yang paling parah: mati muda. Sebab kalau kambuh ketika aku kuliah di luar negeri, gimana? Kalau kambuh setiap aku stress, gimana? Apakah hidupku selamanya harus dihantui oleh penyakit ini, dan aku tak bisa benar-benar menjadi manusia yang sempurna sepenuhnya?
Seminggu terakhir ini seram sekali isi kepalaku. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta sejenak demi menyelamatkan diriku sendiri dari jurang stress atau yang lebih parah, depresi.
Rasanya, ucapan ulangtahun yang dituturkan teman-teman dan kekasihku kemarin menjadi sangat penting. Sehat. Panjang umur. Duapuluh dua tahun aku diucapkan ini, baru kusadari signifikansinya sekarang. "Ya, tolong," batinku menjawab harapan-harapan itu. Aku ingin panjang umur dan sehat selalu. Tak perlu ucapkan aku sukses dulu. Tanpa kesehatan yang memadai, tentu hal-hal lainnya menjadi tidak penting.
--
Saat ini aku di rumah, dan aku merasa kondisiku membaik. Aku tidak perlu pusing kalau makan, aku merasa tenang kalau tidur, aku merasa tidak banyak waktu kosong bagiku untuk melamun dan membiarkan kecemasanku membawa pikiranku kemana-mana, karena banyak yang mengajakku mengobrol. Yang paling penting: aku merasa punya harapan. Dua mala lalu tatkala aku menangis, mengatakan ketakutanku bahwa ini takkan sembuh, aku dipeluk Mama dan dinasehati: aku harus membantah semua pikiran burukku karena apa yang kualami itu masih bisa diselesaikan, meski perlahan-lahan. Mama bilang Shabia adalah gadis yang pantang menyerah bahkan dalam keadaan sulit sekalipun, dan semangat itu dilihatnya memudar dari kehidupanku. Aku harus tetap semangat. Masih banyak orang yang kondisinya lebih parah dariku tetapi masih terus berjuang. Seperti mereka; aku harus tetap berusaha.
--
Dalam situasi pandemi, kurasakan jadi lebih sulit untuk berkubang dalam stress, sebab pilihan kita untuk mengalihkan perhatian jadi terbatas. Ternyata aku pun juga tak sekuat yang kubayangkan; dan ini bukan sesuatu yang patut kusesalkan tetapi kuterima jadi bagian dari diriku. Sebab semua orang berbeda-beda, bukankah begitu? Rasanya pasti sedih harus mengidap penyakit-penyakit unik yang bisa berpengaruh pada tubuh kita di usia semuda ini, ketika teman-temanku dapat dengan bebas berlarian sana-sini tanpa melakukan pengobatan tertentu. Tapi kalau dibandingkan terus, ini tak hanya berdampak negatif pada psikis-ku, tetapi fisikku.
Sekarang, aku sedang belajar untuk perlahan-lahan sembuh dan lebih bersabar dalam prosesnya. Untuk menggunakan waktu yang ada dengan lebih bijak dan maksimal, sembari pintar-pintar memanajemen stress yang seringkali datang seiring kerja yang banyak, konflik dengan kekasih, dan kabar buruk yang tak terduga. Doakan aku ya teman-teman...
Salam,
Shabia
Tulisan hari ini singkat saja; karena aku mengetiknya via notes di kamar mandi hotel. Beberapa waktu ini aku sering jatuh sakit, dan macam-macam saja penyakitnya; usus buntu, tifes, kista, dan kini ambeien. Hampir semuanya berada di perut bawah, hal yang sebenarnya sangat kujaga untuk kesehatan reproduksiku kelak. Aku banyak berefleksi, apa salah tubuhku? Tampaknya banyak bergadang tidak juga, aku tahu waktu dan tidurku pun sudah jarang sekali mencapai angka kurang dari 6 jam. Makan buah dan sayur, meskipun tak melimpah ruah, juga masih bisa dikatakan banyak, dan demikian pula minum air putih--aku bisa ganti galon sampai seminggu-10 hari sekali, padahal ini untuk konsumsi satu orang. Aku tidak merokok, minum alkohol, apalagi narkoba. Aku bukan penggila junk food; dan pendapatanku tidak mampu membelinya setiap hari.
Kalau ada yang patut disalahkan, mungkinkah aku bisa menyalahkan waktu kerjaku yang berjam-jam di depan laptop, atau kesibukanku hingga tak sempat olahraga, atau stressku? Tapi untuk stress, aku merasa cukup bahagia, meskipun posibilitas masa depan kadang mengerdilkan harapanku dan aku sering menangis hampir di setiap malamnya. Atau karena aku kesepian, jauh dari orangtuaku dan punya kekasih yang kutahu hidupnya sudah cukup banyak urusan tanpa harus kujadikan tempat bergantung? Apakah hal itu cukup dahsyat utk menyebabkan malfungsi dalam tubuhku? Masih banyak orang yang gaya hidupnya lebih berantakan dari diriku, dan aku seringkali jadi merasa Semesta tidak adil untuk membiarkan aku jatuh sakit, di saat aku sudah berhati-hati. Konsekuensinya, suntik, obat, dan darah kini jadi hal biasa bagiku. Demikian pula rumah sakit. Demikian pula rasa sendiri yang menyergapku ketika aku menghadapi dokter dan konter obat sendirian.
Kini, setelah pernah mengecap beberapa penyakit yang membuatku lemah, aku begitu takut bila menerima gejala pusing, panas, atau nyeri tanpa sebab. Dan orang-orang masih bilang "Jangan terlalu cemas." Kubilang dalam hati, silakan gantikan posisiku dan lihat apakah kalian semua masih bisa mengantakan hal yang sama. Sakit membuat kita pesimis, dan hal itu benar adanya. Aku sampai ragu aku akan berusia panjang.
Aku hanya berdoa, semoga ini hanya terjadi pada tahun ini, dan begitu aku selesai mengatasi masalah sakitnya satu per satu, lantas bisa mengubah hal-hal dalam keseharianku, aku bisa kembali pulih dan tahun depan bisa terbebas dari kunjungan rumah sakit untuk berobat. Dan doaku yang lebih panjang, adalah apa yang memotivasiku selama ini untuk berhenti merokok, untuk tetap sehat, untuk menghentikan stressku: semoga tubuh ini akan cukup sehat untuk melahirkan keturunan yang juga sehat.
Teman-teman, doakan Shabia terus sehat, ya! (Dan doakan aku gak cepat mati, lol)