Tampilkan postingan dengan label #MimpiSenja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MimpiSenja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2016

Maka, HUSH, Pergilah Jauh-Jauh!

[Terinspirasi dari Chicken Soup For The Soul, Pintu yang Tak Pernah Terkunci]
.
.
.

Tak pernah ada yang tinggal lama, maka pemuda itu pergi, setelah sebelumnya ia pernah angkat kaki dan sempat kembali. Membawa semua kepenuhan dan kebahagiaan yang pernah mengisi hari-hari di ruangan itu, hingga rumah itu gelap bermalam-malam karena lilin tak pernah dinyalakan. Dingin juga kian merasuk, karena pendiangan tidak pernah dikobarkan hingga membusuk.

Gadis itu diam saja di sana, menunggu di depan pintu, seperti anjing yang patuh, memasang telinga,  sekaligus harapan, kalau-kalau ada tapak-tapak yang menghantar di setapaknya. Ia bertanya-tanya, apa salahnya hingga pemuda itu pergi dan tetap diam seribu bahasa? Pemuda itu akan kemana? Untuk berapa lama? Ia bertanya-tanya dan tetap memasang telinga.

Tapi berhari-hari – berminggu-minggu – tak pernah ada sosoknya. Hanya kekosongan belaka, hingga musim berganti, hatinya semakin dingin, wajahnya semakin kuyup karena air mata, dan tubuhnya semakin layu karena ia hanya bergerak jika urgensi perut merajalela.

Hingga akhirnya, di malam yang sangat dingin, ia tergopoh-gopoh menyalakan pendiangan dan lilin, kemudian menyadari, ia cukup kuat untuk berdiri sendiri. Ia paksa tungkainya melangkah ke sofa di ujung ruangan tempat pemuda itu biasa duduk dan menatapnya dengan lembut, tempat ia menjanjikan Kota Kincir Angin nun jauh di Negeri Dahlia yang akan mereka datangi dan tempat ia menulis puisi-puisi. Ia hempas sofa itu hingga terbalik, merasa tetiba gusar, lalu ia dorong ke gudang. Ia tak mau melihat sofa itu untuk sementara.

Lalu ia tertegun.

Di balik sofa itu, ia melihat sebuah ransel dan amunisi yang dulu ia pakai untuk pergi jauh, ketika rumah ini masih ia tempati sendiri dan ia tak punya alasan untuk ama-lama menyendiri. Ia tersenyum kecil. Gadis itu menyadari kepergian seseorang bukanlah sarana untuk melupakan dan pergi, tetapi mengingat mereka pernah baik, lalu pergi untuk kembali. Entah ada seseorang yang menunggunya, sama atau berbeda, tapi ia akan kembali dengan bentuk yang berbeda. Maka malam itu ia bereskan ransel dan ia pak beberapa buah baju serta bekal makanan.

Subuh-subuh ia berangkat dengan mantap, setelah terlebih dahulu melempar pandangnya ke bingkai foto di mana ia dan pemudanya tengah memeluk. Ia akan mencoba untuk tidak mengingat pemuda itu. Untuk sementara. Atau selamanya. Entahlah, tak apa. Waktu yang akan menuntunnya.

Kemudian ia pergi. Ke arah yang berbeda dari pemuda itu raib. Memutuskan ia akan mengembangkan dirinya dahulu – bertemu banyak orang, banyak cinta, kemudian letih dan biarkan itu lagi: Waktu yang akan menuntunnya.

[FINISH]
.
.
.
[PLOT TWIST]
Sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun—ia tak ingat—tapi ini setapak yang dulu mengarah ke rumahnya, bukan? Ia tersenyum. Ia rindu rumah. Betisnya kini hampir berotot dan kulitnya bertambah coklat sejak pertama kali ia pergi.

Namun ada yang aneh. Jalan itu seperti bersih dari kotoran dan ilalangnya seperti sehabis diinjak, padahal ia sudah pergi lama.

Gadis itu menyiagakan diri dengan waswas, pergi ke teras, lalu membuka pintu yang tidak terkunci. Pintu membuka dengan lambat dan ia bersiap-siap dengan kuda-kuda untuk melawan  (siapa tau di dalam itu maling!).

Ia membeku. Orang itu juga membeku.

Di depan pendiangan ada pemuda-nya yang telah lama ia lupakan, sedikit lebih jelek dan acakadut dari pertama kali ia pergi, tapi sinar mata dan sikap tubuh yang diam-diam ia rindukan masih sama. Canggung tetapi mantap. Sepi tetapi kuat. Tapi, pemuda itu sedang marah.

“Kamu kemana saja?!”

“Pintu tidak dikunci! Barang-barang berharga masih di sini! Bagaimana kalau dicuri?! Rumah kosong, tetangga tidak tahu kamu kemana, katanya kamu pergi diam-diam! Dan semua orang berpikir kamu cuek saja karena kamu tidak akan kembali ke sini!”

Gadis itu tetap diam terpana.

Pemuda itu menghembuskan napas. “Kalau bukan aku yang kembali tetapi orang jahat, mungkin kamu sudah mati. Kamu masih saja teledor seperti bia—”

“Aku tidak lupa.”

Ia diam sejenak, ragu-ragu.

“Aku memang membiarkan pintunya tak terkunci ...” jawab gadis itu pelan-pelan tersenyum. “Aku akan mengambil resiko kalau itu adalah orang jahat. Sejak kamu pergi, aku tak pernah menguncinya. Aku tahu kamu akan kembali.”

Gadis itu memegang pipi pemudanya, berbisik. “Demikian pula aku.”

[END]

Mereka tetap diam di sana.

“Kalau aku tidak kembali, apa yang akan kamu lakukan?”


“Akan ada plot twist yang lain. Dan kita akan baik-baik saja. Aku pergi untuk mempersiapkan segala kemungkinan. Tapi untuk saat ini, aku selalu memikirkan plot twist itu walaupun peluang nyata dan tidak nyata-nya sama-sama besar. Tapi ini dongeng sudut, kuambil konsekuensinya. Jangan khawatir. Apapun yang terjadi, hidup akan bekerja untuk kita."

Yang ini untuk marcel, teri ma ka sih, Marcel!
(you can visit him here)


Rabu, 14 Oktober 2015

Rumah

Kita akan membangun sebuah rumah, Sayang.

Yang berteras dan berhalaman luas, ada halaman depan dan belakang. Yang ketika pertama kali membelinya, aku akan dengan bersemangat belanja bibit-bibit pohon yang akan menjadi tua, kisut dan keriput. Yang terasnya berlantaikan semacam ubin batu, tempat segala embun dan sisa hujan semalam membuatnya jadi lembab. Yang berpagar dengan rapat yang nihil, jadi semua pejalan kaki bisa melihat rumah dan keharmonisan keluarga kita.



Rumah kita akan berarsitektur peninggalan Belanda. Dengan warna putih dan abu tiada cela, karena aku menolak biru muda atau warna pastel yang terlalu pop. Aku akan menyuburkan dandelion untukku, bunga matahari untuk anak pertama kita, dan mawar untukmu, jadi rumah kita akan selalu wangi. Rumah kita akan memuat pekarangan belakang yang cukup untuk tenda yang akan dibangunmu dan anak lelaki kita, tenda yang akan menaungi kita tatkala kita ingin melihat malam terbingkai angkasa.



Halaman belakang akan memiliki sebuah pohon yang kuat, mungkin trembesi, mungkin oak, yang di atasnya terdapat rumah pohon. Kau tahu, rumah pohon sudah menjadi impianku sejak aku masih di taman kanak-kanak.

Kamar tidur kita adalah tempat kita rebah. Tempat kita pertama kali bercinta, tetapi bukan satu-satunya tempat untuk bercinta (kita akan menyadari, di malam yang dingin saat kita menonton televisi di ruang keluarga, tetiba hangat bukan bersuar dari gelombang sana, tetapi dari apa yang harus kita tukarkan: lalu kita terkikik.) Benar, kan, kita tak hanya bercinta di sana?



Kamu tahu aku suka kayu, jadi lantai kamar kita harus kayu yang kuat! Akan ada sebuah karpet tempat debu enggan membuang lesu, juga sebuah sofa. Kamar kita akan dimuati satu rak buku dan ruang almari. Lukisanku adalah satu yang terpajang di dalam kamar itu, berdampingan dengan foto-foto kita, dengan atau tanpa anak-anak kita. Seprai ranjang kita haruslah putih! Namun khusus untukmu aku akan belajar merajut, menjahit kain-kain perca agar bisa menyelimutimu sebagai sarung atau selimut atau keduanya; agar kau tak rindu aku ketika aku pergi jauh dan demikian sebaliknya. Belikan aku kasur yang besar, Sayang, agar anak kita bisa numpang menginap, agar kita bisa melakukan tujuan lain selain tidur dengan leluasa: yaitu bermain kartu, tentu. Hihi.

Sedang untuk kamar mandi, aku tidak berharap yang muluk-muluk. WC tentu saja adalah sebuah kewajiban, wastafel cukup berbahan kaca, cerminnya harus besar agar aku bisa menatap tubuhku dengan leluasa. (Hehe). Aku mau ada bathtube, lalu ada busa, karena kamu harus mengetahui aku terobsesi mandi busa karena aku tidak pernah mandi busa seumur hidupku. Dinding kamar mandi kita lagi-lagi adalah batu-batuan agar aku merasa terbuka di alam. Biarkan atapnya adalah atap rumbia.



Lalu Dapur, Dapur kita cukup sederhana namun tergolong luas agar anak perempuan kita bisa membantuku memasak. Aku akan membeli banyak bahan untuk meramu makanan untukmu, anak lelaki kita, dan anak perempuan kita. Semoga di dapur aku semakin bisa menabula rasa.



Ruang keluarga kita adalah ruangan yang paling hidup. Ada sebuah TV di sana, karpet yang lembut untuk bersendagurau bersama keluarga kecil kita yang humanis, tempat dimana aku akan merepotkanmu untuk mletakkan meja kayu panjang: di atasnya ada hasil kriyaku, foto-foto keluarga kita, potongan-potongan puisi, dan vas bunga. Oh ya, di depan TV akan ada sebuah sofa tempat aku akan ketiduran menunggumu lembur di tempat kerja. Di depan sofa ada meja kecil di mana di atasnya akan selalu ada koran serta buku bacaan. (Keluarga kita akan menjadi keluarga kutubuku, catat itu.)



Yang terakhir, aku ingin rumah kita penuh dengan jendela. Jendela yang menghadap ke Timur, agar berkas-berkas mentari pagi bisa menempel di rambut anak lelaki kita. Agar suatu waktu kau bisa menjumpai aku melamun di sudut jendela, menulis prosa dan puisi. Agar anak kita lebih sering menatap ke luar dibanding menunduk menatap gadgetnya. Agar kita bisa membuat bangau-bangau kertas kita terbang selayaknya burung yang nyata, dan agar giring-giring kita berbunyi dengan denting surga.
.
.
.
.
Yang terpenting, aku ingin rumahku bisa menyajikan rumah yang lebih absolut dari sekedar bangunan. Rumah yang selalu dibawa dalam kehangatanmu, Abhipraya, dan Aksara. Tidak apa-apa bila rumah kita hanyalah bangunan kecil.

Tiga jagoan utama yang akan kuperjuangkan cukuplah menjadi tempat aku pulang. :)

padang akan kau sambut,
benua akan kau rabut,
perjalanan akan membawamu ke dalam kebahagiaan,
dan puncak akan menjadi kebanggan,
tapi rumah akan selalu menjadi pondok singgah dalam kabut,
berisikan seselip peluk dalam kehangatan.
I'll take you home someday.