Dengar, Jagadhita!
Saya bangga terlahir menjadi seorang perempuan.
Saya bahagia terlahir sebagai seorang perempuan.
Yang dikonstruksikan secara sosial untuk menghayati "keperempuanan"
Yang dikonstruksikan secara biologis dengan rahim, vagina, payudara, dan kumpulan hormon: estrogen hingga progrestron.
Saya dengan senang menantikan peran-peran perempuan,
yang akan dan sudah
Menanti diri saya menjadi seorang ibu (di masa mendatang)
Menanti diri menjadi seorang istri (masih di masa mendatang)
Mengamati perkembangan diri saya kini yang diwarnai rasa
Menghadapi proses-proses perkembangan yang lebih banyak diwarnai jatuh dan terkapar
(tapi dengar, saya bangkit lagi)
Kadang saya berpikir,
enak ya jadi lelaki?
Secara permukaan lebih santai.
Lebih menggunakan logika dibanding rasa.
Lebih memiliki tekanan pertemanan yang ringan, beban yang tidak signifikan,
peran yang lebih menjanjikan--
tapi saya salah.
Seiring saya hidup bersama laki-laki: ayah saya, mantan-mantan saya, teman-teman, dan sahabat-sahabat lelaki saya, mereka berkata:
Tidak enak jadi lelaki.
Apalagi yang ada di bawah kungkungan budaya patriarki
Kamu dituntut untuk berdikari
Tidak boleh menangis berlebih
Menafkahi keluarga
Terlihat baik-baik saja padahal hanya ingin mewek saja
Terlalu sering memikirkan masa depan hingga kepala mau pecah
Terlalu banyak dituntut untuk membuktikan diri
dan dikucilkan jika gagal
atau menerima ejekan jika kelewat flamboyan.
Saya bahagia menjadi seorang perempuan;
yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan
yang bangga dan hebat menjadi seorang perempuan
Pada akhirnya saya setuju,
di setiap personalita pasti ada elemen feminin dan maskulin
yang mana yang mau kau munculkan dan tetapkan
tapi, masa bodohlah,
saya memilih menjadi perempuan
dan saya bangga dilahirkan dan akan menjadi seorang:
perempuan.
Minggu, 02 Oktober 2016
Rabu, 28 September 2016
Maungkai
uma ai!
ikam kada kawa barasai,
belum tuntung banar rindu bahari.tapi ikam tulakan saja na,
kada kawa melihati
rasa apa yang bujur banar ada di hati
ulun di sini ja saurangan
nini ulun bepandir,
kena:
mun ikam lawan ulun
saling jadi binian lawan lakian,
kena jua kita bulikan ke jalan yang sama
ngalih banar, lah
sampai abah sariki ulun jadi lelah
ampih kah rasa ikam lawan ulun?
semalam sebalum baguringan ulun baranai-ranai
manjulung sunyi andai-andai
gugur 'lo, gugur ja lah,
mun ikam lawan ulun
saling jadi binian lawan lakian,
kena jua kita bulikan ke jalan yang sama
sekarang ni na,
bejauhan ja dulu lah,
kadada yang tau tu na,
masa depan sisakan ja saurangan
Senin, 26 September 2016
Tentang Ultah yang Buruk dan Sebuah Pengukuhan: Gunung Andong, 1726 mdpl
Halo! Saya bikin cerita perjalanan lagi! Kali ini, saya akan
menceritakan perjalanan saya mendaki gunung yang tak terlalu tinggi, setelah
sekian lama saya belom pernah naik gunung lagi.
.
.
.
Sekitar dua hari
yang lalu, tepatnya tanggal 24 September, saya dan beberapa orang teman: Mas
Aziz, Wisnu, dan Mas Lanang memulai pendakian ke Gunung Andong yang berdiri
kukuh di Magelang. Andong rendah saja, tingginya 1726 mdpl, dan waktu tempuh ke
atasnya nggak terlalu lama. Kurang lebih sekitar
1,5 - 2 jam lamanya.
Lucunya, motivasi
naik gunung ini agak miris (dan di sisi lain puitis HA). Sejak dua tahun yang
lalu, saya pengen banget ngerayain ultah saya di atas gunung, dan waktu itu
pengennya Semeru. Tapi karena medan Semeru berat dan saya gak cukup kuat,
akhirnya saya mikir: ya udah gunung apa aja juga boleh. Lalu muncul masalah
lain. Saya punya firasat ultah ini akan jadi ultah terburuk saya. HEHEHE. Tidak
ada keluarga (untuk pertama kalinya: tahun lalu saya bahkan sampe pulang ke
Jakarta) karena kedua orangtua saya sedang sibuk, saya baru putus dari lelaki
terakhir saya, dan teman-teman saya juga sibuk dengan urusannya masing-masing.
Saya juga sedang galau (lol saya gak malu mengakuinya) dan dulu saya pernah
membuka kegalauan ini dengan gunung, saya juga ingin mengakhiri dengan gunung.
Jadi sejak seminggu sebelumnya saya minta ke Mas Aziz yang memang sudah
menguasai gunung di Jateng buat nemenin saya. Gak sangka dia mau! Lalu menyusul
anak-anak lainnya yang pengen ikut, yang ternyata motivasinya juga lagi galau.
WGWG.
![]() |
| Hujan Deras, Ponco Hijau, Wisnu bengong. |
Kami berangkat
dari Jogja pukul 14.30-an yang sebenarnya sudah sangat telat karena hujan
mengguyur Kota Jogja. Kami sempat kering di perbatasan Magelang-Jogja, lalu
diguyur hujan yang kali ini diiringi angin sesampainya di daerah Kopeng.
Alhasil celana kami kuyup semua, Voye (motor saya) juga becek :( kami sampai di
Pos Gogik sekitar pukul 17.30-an, padahal awalnya kami gak berencana mendaki
malam. Di sini kami mengurus tiket, istirahat dan mengeringkan diri, lalu minum
teh dan makan bakso. Oh ya, Pos Gogik ini bisa dicapai melalui Kopeng kemudian
ambil arah ke Dusun Ngablak. Pos Gogik ini merupakan jalur yang paling mudah
dan cepat untuk menuju ke atas, tapi emang muaranya Puncak Alap-Alap, bukan
Puncak Andong (ada dua puncak, paling tinggi Puncak Andong).
![]() |
| Peta Jalur di Base Camp Gogik |
![]() |
| Siap-siap di Base Camp Gogik |
KAMI MENDAKI
MALAM, sudah gitu harus pakai ponco karena hujan gerimis. Bisa dibayangkan
ribetnya kayak apa, apalagi saya. Sudah gitu ketika mendaki, tubuh saya yang
memang butuh proses aklimatisasi lama (sekitar 1.5 jam tubuh saya baru bisa
adaptasi sama tekanan dan suhu sekitar. Huft.) dan emang karena badan saya tuh
lemah, saya pun sering meminta untuk istirahat setiap 15-30 menit sekali.
Ketika kami istirahat, kami mendapat pemandangan Gunung Telomoyo yang gelap dan
Merbabu nun jauh di sana. Kota Magelang dan Salatiga juga sayup-sayup terlihat.
Sekadar mengingatkan, medan mendaki Andong tidak memiliki bonus (jalur datar)
walaupun relatif pendek. Jadi, memang sedikit susah. Apalagi medannya
tanah-rumput, jadi juga agak licin.
Pukul 21.00 kurang
akhirnya kami sampai di bawah Puncak Alap-Alap dan memutuskan nge-camp di bawah puncak saja karena angin
gunung cukup berbahaya: frame tenda bisa terbang dan kami bisa menggigil di
atas. Kami berempat langsung mendirikan tenda, mengganti pakaian yang basah
(bahkan kaos Wisnu bisa diperes ewww), naruh barang-barang, mengeluarkan
amunisi memasak, lalu siap-siap makan malam. Hehehe asyik!
Kami baru bersiap
untuk tidur pukul 23.00, dan saya sudah malas banget berpikir untuk
membangunkan diri saya jam 00.00 karena apa yang harus dirayakan? Ditambah,
kaki saya pegel. Ugh. BTW ini lucu banget, saya ngerasa canggung soalnya ini
pertama kalinya saya ngedaki sama cowo semua. Tapi ternyata mereka
santai-santai aja, malah antusias kalo saya bilang maaf kalo malem-malem saya
reflek meluk karena ngira mereka guling :( tapi ternyata saya berhasil ga meluk
siapa-siapa HAKHAKHAK.
Kagetnya, pukul
00.20, Emak Bapak saya nelpon saya, ngucapin ultah. Hehe, ternyata sinyal Telkomsel
masih kuat sampe puncak, bro! Saya yang ngantuk ini ngangkat dan bilang
makasih-makasih aja, lalu tepar lagi. Eh, jam 3.15an saya dibangunin Mas Aziz,
ternyata dia bakarin saya roti bakar (ya iyalah) lengkap dengan meises dan
lilin yang nyala, lalu ngucapin selamat ultah:"""") Mas
Aziz memang kakak yang baik (kita sering dikira kembar kalau di Antro). Yey,
saya tiup lilin deh di dalem tenda.
![]() |
| "Selamat ulang tahun, Dek." |
Pagi-pagi, setelah
saya tewas lagi sehabis dikasih kue, saya bangun karena suara ribut-ribut Mas
Aziz yang sudah bangun karena lagi beresin alat-alat masak. Karena saya
ngantuk, saya tidur lagi, ngantuk, tidur lagi, sampe Mas Aziz geli sendiri
ngeliatnya. Soalnya saya agak sedih! Saya kan punya obsesi (bukan obsesi sih,
apa ya ... semacam kecintaan) terhadap matahari terbit, dan ternyata walaupun
siluet mentari pagi cukup keliatan di ufuk timur ... ia gak terlalu bersinar
karena ada kabut di kaki cakrawala :( sedih deh. Untung pas mataharinya agak
naik dan kabut menipis, baru terlihat deh bagusnya.
![]() |
| Puncak Gunung Telomoyo, pas di samping tenda. |
![]() |
| Matahari Pagi |
![]() |
| Pemandangan Tenda Tetangga dan hei, nun jauh di sana, ada Lawu! |
![]() |
| dari dalam tenda, pada suatu pagi |
![]() |
| PESTA MAKAN!: Yam Goyeng x Sayur Sop x Nasi |
Setelah puas-puas
ngeliat matahari terbit dan embun yang ngebuat rumput-rumput di sekitar tenda
kami jadi romantis, Wisnu dan Mas Lanang yang gak lama menyusul kebangunan (?)
kami, kami segera masak-masak. Saya bersikeras ngupas wortel, yang ternyata
caranya salah. HAHAHAH malu, ya, ketauan deh jarang di dapur. Tapi untungnya
sayur sop saya lumayan, lumayan hambar maksudnya. Kami pesta makan, lho. Siapa
lagi coba yang naik gunung masak ayam goreng dan sayur sop + sosis rebus?
:>
Habis makan, saya
dan Mas Aziz jalan ke arah puncak, kami pengen ke Puncak Alap-Alap, lalu ke
Jembatan Setan, dan terakhir ke Puncak Andong. Seperti biasa, saya membawa
jurnal saya yang selalu saya tulis sesuatu kalau naik gunung. Puncak bisa bawa
inspirasi, soalnya.
![]() |
| Membuat jurnal di sini, melayangkan pandang ke Jembatan Setan dan Puncak Andong di seberang. |
![]() |
| 1726 mdpl |
Kami cukup lama di
puncak dan angin menderu-deru di Jembatan Setan, tapi pemandangannya bagus
banget ... sampe di Puncak Andong, buset deh, rame! Kami sampai gak
punya kesempatan foto di tugu 1726 mdpl. Ya udah deh, saya moto orang, terus
turun lagi. Ternyata kabut tipis udah semakin turun. Semakin bergegaslah kami
ke tenda.
![]() |
| Cie beberes nih ye |
Pukul 11.00, kami
mengepak barang-barang kami untuk turun, melipat tenda, dan bersiap-siap
memulai perjalanan kembali. Nih yang paling saya gak suka. Sejujurnya saya
lebih menguasai teknik mendaki daripada teknik turun gunung. SAYA KEPLESET
TERUS :""""( pantat sama paha saya sampe gemetar. Karena
Andong bermedan tanah dan batu-batu, makin stress lah saya! Ada satu part di
mana saya akhirnya putus asa terus meluncur pake sepatu, alhasil kaki ke bawah
penuh tanah coklat. Huft (sampe sekarang kaki saya juga masih pegel banget
haaaaa).
![]() |
| kakak ajij |
![]() |
| Anthropos Terjang Hujan! HEHEHEHE |
![]() |
| TUH MEDANNYA. lalu mas lanang ngetawain saya mulu tiap denger suara "syuut" di belakang: maksudnya saya kepeleset. |
Dan pukul 12.35-an
setelah gerimis di kawasan hutan, AKHIRNYA SAMPE BASECAMP GOGIK LAGIII... saya
langsung ngegelesor minum teh manis hangat, merasa senang sekaligus kesel. Kaki
saya sengklek....
Pukul 13.10,
akhirnya kami bersiap-siap untuk pulang. Naasnya, baru keluar dari Kecamatan
Ngablak, hujan angin lagi! Kami pergi dengan kuyup, pulang dengan kuyup. Tapi,
pemandangan di kiri kanan sangat indah (walau diselingi rintik) karena kami
lewat Ketep Pass dan persawahan warga. Kami sampai di kosan saya pada pukul
15.30, dan saya langsung tepar.
Pada akhirnya,
apa? Andong, seperti Merbabu, membawa saya terhadap kesadaran yang pernah saya
tulis di suatu post atau di satu surat dua tahun yang lalu. Gunung tidak pernah
memberikan jawaban. Ia hanya mengukuhkan. Ia cuma memberikan pertanda kalau
kita terlalu buta. Dan ya, turun gunung, hati saya masih kosong. Tapi ada yang
baru di sana—pengukuhan. Saya sudah setinggi ini! Masa saya gak mempelajari
sesuatu?
![]() |
| sendirian dan kedinginan, tapi toh merekah sempurna. latar belakang: Gunung Merapi dan Merbabu. |
Dan mengutip
jurnal saya:
Awal bisa
menjadi apa saja.
Dan, laut
memang berisi hal-hal yang tak pasti. Debur ombak akan pergi dan kembali. Kau
mau menunggu? Silakan. Tapi untuk saat ini, beralihlah ke gunung. Masih ada
mimpi-mimpi yang patut diwujudkan. Masih ada puncak yang menunggu sebuah
harapan untuk direalisasikan. Masih ada lereng yang membawamu dari titik
terendah menuju titik tertinggi.
Dengar ini:
Laut bisa
menunggu.
![]() |
| Gadis 18 tahun :) |
Selamat ulang
tahun, Shabia, dan saya mengirim berkah Semesta untuk kalian semua! :)
Kamis, 22 September 2016
di laut
"Jangan pergi!"
— katanya pada ombak yang berdebur pergi dan kembali
"Kembalilah!"
— katanya pada butir pasir yang meluruh dari genggamannya
Ia menggapai-gapai, lupa caranya bernapas.
"Aku masih di sini ..."
— bisiknya pada sisa-sisa buih terakhir
Jumat, 16 September 2016
Hidoop Sehat (Jilid Satu)
[Hidup Sehat – Part 1]
Hellooo, apakabar!
Sesuai janji, saya menulis post ini! Masih related sama 2 post sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk nulis
cerita perjalanan lagi, nih. Bukan cerita perjalanan sih, lebih kepada ke
pengalaman seru mamam dan mimik akhir-akhir ini. Hoho!
Jadi, seperti yang sudah
sempat saya omongin di post sebelumnya, saya lagi meniti hidup sehat. Mungkin ini
telat dibandingin teman-teman saya yang sekarang udah jadi raw-vegan, vegetarian, makan makanan organik, diet sehat, dan
lain-lain sebagainya, tapi at least saya
gak cukup telat untuk mengubah sel-sel saya menjadi lebih baik lagi ke depannya
lah ya!
Mungkin ada baiknya dulu
saya ceritain kenapa saya banting setir dari seseorang yang nggak terlalu
merhatiin makanannya dan menganggap makanan sehat itu mahal-mahal, jadi
benar-benar niat untuk mengubah hidup saya. Tadinya saya benar-benar setiap
hari mengonsumsi makanan-makanan yang banyak mengandung micin. Bahkan, saya tidak mewajibkan diri saya makan buah. Not even mesan jus dan selalu minum
serta makan yang instan-instan.
Saya gak pernah sadar ada
benjolan yang hidup di dekat kelenjar gondok saya. Sekitar bulan April lalu,
saya memeriksakan benjolan itu dan mendapati itu adalah sejenis struma (tumor). Sebenarnya diagnosa awal
itu cuman tumor jinak (tadinya). Jadi saya dikasihtau dokter bahwa benjolan itu
bukan benjolan biasa, tapi mengindikasikan tumor yang bertumbuh. Nah, maka dari
itu saya diboyong ke Jakarta buat diperiksa lebih lanjut. Singkat cerita,
kelenjar gondok saya harus dioperasi dan diambil untuk diperiksa. Dan
Alhamdulillah banget keputusan “ngambil” itu tepat, karena ternyata tumor itu
jenisnya uncertain malignant atau
ngarah ke ganas. Kalau gak diambil, akan lebih meluas. Dan sekarang ia telah
sirna diambil oleh dokter Em-Em-Si yang sangat tokcer.
Tapi oleh sebab tumor itu
disebabkan oleh pola makan, gaya hidup tidak sehat (alkohol, ngerokok, tidur
malam), dan genetik, maka saya harus ubah hidup saya. Saya gak boleh tidur
malam (makanya sekarang saya jarang tidur lewat dari jam 12 malam – yang mana
masih gak sehat) dan makanan saya harus diubah. Saya emang ga sering-sering
“minum” juga nggak pernah ngerokok, jadi dua hal itu gak berubah juga, sih.
Tapi pola makan sehari-hari saya masih jelek sekali.
Nah! Maka dimulailah healthy journey saya ini. Saya
pertama-tama tau Letusee YK, lalu Bumi Langit yang dulu udah sering saya
denger, terus Warung Kita, dilanjut Alterjiwo, Kebun Roti, dan Mimpi Lama
Sekali (Milas). Sebenarnya masih banyak. Tapi baru itu yang saya catat di
jurnal saya. Selain restoran, di Jogja sendiri cukup banyak pasar-pasar yang
menjual makanan sehat, bahkan ajang para penjual organik mempromosikan
“camilan” sehat mereka. Pasar-pasar itu antara lain Pasar Sagan (setiap Sabtu 2
minggu sekali terakhir minggu kemarin di Loka-Loka Bistro, IFI/LIP), Pasar
Kamisan (setiap Kamis, di Pasar Maguwoharjo), dan Pasar Demangan (setiap Jumat,
di Demangan dekat Pancake Factory). Dan, saya segera memotivasi diri saya untuk
mengunjungi tempat-tempat sehat ini. Tetapi dalam kurun waktu dua bulan ini,
baru tiga tempat yang berhasil saya kunjungi. Nah, jadi, ayo kita langsung
masuk ke subbab-subbab:
Letusee YK
–
spesialisasi daun selada yang hijau dan segar!
Saya pertama kali tau Letusee dari teman sehat saya, Rugun Sirait – yang
waktu itu ngajak saya ke Pasar Sehat Sagan, tapi naasnya kami ga menemukan
stand Letusee. Usut punya usut ternyata Letusee hari itu gak bisa jualan di
PSS. Akhirnya, Rugun langsung memberikan ide cemerlang untuk mengunjungi tempat
Letusee bersemayam—hitung-hitung biar kita gampang ke sana lagi buat
mamam-mamam sehat.
![]() |
| Letusee -- suasananya enaaa |
Dan beruntung banget kami decide kayak
gitu, karena Letusee asik banget tempatnya. Berlokasi di Pusat Studi Lingkungan
Hidup Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Gejayan (belokan ke kanan atau ke
Timur dari arah Jl. Colombo sehabis belokan Jembatan Merah), Letusee bertempat
di semacam bangunan terbuka di tengah-tengah hutan buatan. Bangunan ini cozy banget, kebuka, pintunya itu kombinasi
antara kayu dan kaca-kaca bening, lalu memiliki beberapa tempat duduk lesehan
yang ada bantalannya. Di sisi kiri juga ada lapak jualan makanan dan bumbu
sehat (ada produk Bumi Langit juga, loh), sementara di sebelah kanan, ada dapur
terbuka beserta kasir. Oh ya, untuk tempat masak dan makannya Letusee ada di
lantai 2, jadi jangan bingung ya teman-teman. Bangunannya asik banget – kalo
kata saya – lantai duanya cocok buat belajar yoga, sementara lantai satunya –
kalo kata Rugun – cocok untuk nyelenggarain gigs.
HEHE.
Ternyata Letusee pun sudah berdiri cukup lama. Berawal dari tahun 2011,
Letusee yang berdiri berkat Mbak Steffi dan Mbak Nuha yang memang meranjingi
makanan sehat, iseng membuka kedai kecil-kecilan. Pada tahun berapa saya lupa,
akhirnya Letusee membuka kedai sehatnya di daerah Mrican, Demangan, tepatnya di
Amelia Hotel lalu pindah ke Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma Soropadan,
Gejayan ini. Sampai sekarang, Letusee makin memvariasikan menunya dan akrab
bagi telinga-telinga pecinta makanan sehat.
Sesuai namanya, Letusee ini berspesialisasi dalam menyajikan selada hijau
segar (yang saking segarnya saya yang kurang demen selada bisa ngegadoin
selada tersebut. Hehehe.). Tapi, Letusee juga mengombinasikan selada tersebut
dengan makanan dan sayuran lainnya. Yang menarik nih, produk-produk makanan
yang Letusee pakai memang bebas GMO dan MSG, serta berafiliasi dengan
produk-produk organik dan sehat, seperti contohnya Mazaraat Artisan Cheese,
Bumi Langit, dst.
Sedihnya, foto menu sudah kehapus, padahal saya mau upload ke sini. Range
harganya gak terlalu mahal, kok, masih bisa affordable
buat kantong mahasiswa. Waktu
awal ke sini, saya pribadi pesan vegetarian
sandwich, di saat Rugun pesan Cassava Nachos sementara Fatin pesan Classic Potato Salad. Mereka berdua
mesan Teh Bunga Telang, sementara saya bawa botol air minum Chuggington
sendiri.
Tentu saja kami bertukar makanan, dan setuju: makanannya enak banget!
(objektif loh ini, kecuali kalo kamu pembenci sayuran stadium akut). Nachosnya
Rugun, yang pakai keju mozzarela dan ternyata dari singkong (bukan kentang
loh), serta ada kacang merah dan saos itu enak banget rasanya, menurut saya sih
paling enak dari hidangan kami yang lain. Lalu sandwich saya sendiri rotinya enak banget, renyah dan gak mletot (hayo kosakata apa itu), banyak
sayurnya tapi gak kerasa sayur yang bikin mahteh,
dan UKURAN SEPADAN HARGA, bahkan melebihi. Kombinasi mayonaisnya juga gak
berlebihan, daging yang diganti sama kedelai (karena makanan vegetarian, toh) tetap
kerasa enak dan mengenyangkan. Saya juga sempat rasain teh bunga telangnya
Rugun dan Fatin yang warnanya lucu, warna biru, dan kalau diteteskan jeruk
nipis akan berubah warna jadi ... ungu! Hehehe, menarik ya.
![]() |
| makanan Rugun. Nachos. (direpost sama ig letusee loh hehehe #prestise) |
Karena keranjingan, untuk kedua kalinya saya
kembali ke Letusee, kali ini bersama teman saya yang Vegan, Benedikta Sekar
(btw gadis ini penulis juga, silakan cek tulisan motivasionalnya di: Bene's. Ia pesan Veggie Burger yang enaknya ........ aslflsdnfpaef
mengalahkan Nachos yang saya nikmatin sama Rugun dan Fatin. Rempahnya kerasa
banget, dagingnya juga enak, padahal benar-benar olahan tumbuhan dan
kacang-kacangan aja :)) Bene juga pesan kombutcha,
minuman fermentasi yang seperti soda, dan rasanya juga gak kalah enak, apalagi
kalau disesap pelan-pelan. Di kali kedua saya mengunjungi Letusee saya juga
mendapat kesempatan buat ngobrol-ngobrol sama Mbak Nisa, yang cerita banyak
soal Letusee sama kami. Mbak Nisa ramah banget loh, dan saya kaget dia juga
lagi baca Dunia Sophie. Wekekek.
![]() |
| Makanan saya yang kedua: Classic Potato Salad & Minum: Teh Bunga Telang (yang belum dikimiakan) |
![]() |
| berkas sinar mentari dari balkon |
Singkatnya, Letusee menduduki peringkat kedai
sehat yang paling suitable sama
kantong dan pencernaan dan jarak tempuh saya, sih. Selain harganya yang sesuai
kantong mahasiswa dan rasanya yang super-sepadan, serta jaraknya yang tidak
terlalu jauh dari kosan saya, saya juga suka suasanannya. Alami dan jujur.
Kalau senja teman-teman ke sini, teman-teman bisa ngeliat sinar matahari di
antara rimbun pepohonan dan masuk lewat ventilasi gedung, terus kalau ada angin
pohonnya gerak-gerak syahdu gitu. Juru masak yang pakai celemek, mas-mas yang
jaga kasir yang hanya memakai pakaian rumah, dan kehadiran bayi yang selalu
digendong mbak-mbak yang duduk di dekat kasir juga membuat saya merasa ini
tempat homey banget, jujur dan
kekeluargaan. Jangan sungkan ya kalau mau datang ke sini! :)
2.
Mimpi Lama
Sekali
– yang memang membuat kita bermimpi
Saya. Suka. Banget. Konsep. Rumah makan. Milas. AAAAA!
OKE maaf pembukannya lebay. Tapi bener, lho. Berlokasi di Jl. Prawirotaman IV 127 B, yogayakarta 55153, Milas tak
hanya berupa restoran vegetarian yang menyajikan hidangan enak Indonesia dan barat yang bebas MSG, organik, dan ramah
produk lokal saja, tetapi turut mengusung konsep toko cinderamata dan
perpustakaan.
Pas masuk, teman-teman sudah akan disambut gerbang
bambu dan parkiran yang bernuansa bambu juga. Konsep Milas memang seperti rumah
makan, ada banyak gubug-gubug dan lesehan kayu tersebar di taman hijau,
sesekali ditemani suara gemericik air kolam. Suasananya tenang dan artsy. Milas sudah biasa disambangi
bule-bule yang memang banyak kita temukan di Prawiropark.
| Saya gak banyak moto, jadi saya ambil dari google ya. copyright: baltyra.com |
Saya ke sini sama Nida Irmanti, teman saya yang
pernah menjadi vegan, tapi karena
kecintaannya pada daging, ia jadi tobat kembali ke omnivorous diet, sama kayak saya.
Tapi Nida masih hidup sehat, masih mengurangi makan-makan sembarangan (kalian
harus coba spagetti Nida, ya, teman-teman, catat itu.). Ternyata Nida udah
beberapa kali sebelumnya datang ke sini.
Memesan sup jagung dan jamur, sementara Nida
memesan nasi kebuli, saya mencermati ada satu rak di dekat tempat duduk kami
yang memajang majalah-majalah Bobo, Girls, Femina, pokoknya majalah-majalah
yang udah jarang banget saya baca. Lalu, ada setumpuk kartu uno juga, dolanan
anak-anak, papan catur, dan bahkan halma. Lalu tepat di samping kami ada
toko-toko cinderamata yang lucu banget produk-produknya. Saya jadi penasaran.
Milas ini konsep keseluruhannya kayak apa, sih?
Milas berdiri dari tahun 1997. Kepanjangannya adalah "Mimpi Lama Sekali", dan cita-cita Milas sendiri adalah dunia yang lebih baik dengan memfokuskan diri pada pendidikan kesehatan, dan lingkungan (dikutip dari booklet Milas). Maka dari itu, seperti yang sudah saya bilang, selain restoran Milas juga menyelenggarakan Pasar Organik, Sanggar, Galeri Kerajinan, Perpustakaan, Pojok Organik, dan Playgroup.
Intinya, kalau teman-teman suka creative space
sambil makan sehat, datang lah ke Milas. Daftar lah jadi member
perpustakaannya. Milas punya beberapa buku sastra dan filsafat yang bagus. Beberapa masih pakai Bahasa Jerman. Saya
nemu buku Psikologi Imajinasinya Sartre dan sedang menimbang-nimbang untuk
nabung buat maem serta daftar jadi member dan ke sana lagi. Hiks. Tapi, karena
kekurangan Milas terletak pada harganya yang agak tidak ramah mahasiswa, nabung
dulu ya gais, ingat NABUNG dulu atau tunggu keluarga Anda ke sini dan seret
mereka ke Milas. Makanannya cukup worth it kok, walau variasi lauk dan
rempahnya memang kurang beragam :D
(but still, it’s still worthy to be visited.)
3.
Bumi Langit
Institute
– Membumi dan melangit tanpa harus kelewat batas
HYAAA!!
HEHEHEHE.
Saya suka Bumi Langit. Tempat terakhir yang saya kunjungi kemarin adalah
Bumi Langit, dapet kesempatan ke sana sama Nida Irmanti juga, peranakan Jawa yang
suka dibilang Bali dan INTP (dia udah baca Imagined Society sama buku-bukunya
Zizek dari SMA..... terserah.). Saya juga disambut sama Mbak Fatimah Meydina,
kenalanku dari acara Do Something Indonesia: Campaign Day Out yang pernah kerja
di Bumi Langit.
![]() |
| Ena yaaaa |
![]() |
| Ena yaaaa (2) |
Butuh sedikit perjuangan untuk mencapai Bumi Langit. Karena berlokasi di Imogiri, tepatnya di (cari alamatnya), maka saya dan Nida harus muter di Ringroad sampai ke Terminal Giwangan, ambil Jalan Imogiri Timur, lurus terus ke arah Makam Raja-Raja Imogiri (sampai ada jalan rusak kita hindarin dan kita malah nemu jalanan sawah tempat syuting-syuting film jadul Indo HAKHAKHAK). Lalu setelah nemu Makam Raja-Raja, ambil jalan ke arah Kebun Buah Mangunan, nemu Bukit Bego (iya namanya Bukit Bego, suka dipakai buat pacaran (APA ITU PACARAN HAH? *masih sensitif*)) lalu ada tanjakan. Di tanjakan ini, harap pelan-pelan dan perhatikan kiri ya, selain kiri itu jurang, nanti teman-teman juga akan nemuin plang sekecil menil bertuliskan: Bumi Langit. Dah tuh belok kiri yak! Nida sama saya sampe njot-njotan gara-gara ngatur gigi, soalnya tanjakannya parah bener, si.
Tapi worth it banget! Pas masuk kami langsung disambut dua pencabangan, satu nanjak ke arah Joglo yang di depannya ada plang “Warung Bumi”, dan satu nurun ke bawah ke jalan setapak yang ada rumah-rumah kecil kayak villa. Saya dan Nida mah langsung ke Warung Bumi.
Tempatnya enak. Kalau Letusee temanya di tengah hutan, Bumi Langit temanya di atas bukit. Lanskapnya langsung menatap Kota Jogja, meski tersaput awan. Karena tinggi di atas bukit, anginnya lebih semeriwing. Tempat makannya terbuka banget, meja-nya dari kayu, naik ke Joglo juga harus copot sepatu. Tidak bermaksud hiperbola, tapi kesan yang didapatkan duduk di Joglo ini kayak sedang makan di Bandung atau tempat-tempat di Puncak, deh.
![]() |
| Ntu dapurnya |
![]() |
| Makanan saya yang walaupun sederhana, tapi enak. |
Saya dan Nida langsung memesan. Oh ya, range harganya, seperti Milas, memang juga mahal bagi kantong mahasiswa, jadi bawa 50 ribu ke sini udah mepet ya saudara-saudara (karena nanti kalian juga harus isi bensin, ingat itu.). Saya pesan Nasi Campur Vegetarian, sementara Nida pesan Ikan Patin Kuah Asam. Tadinya Nida mau pesan Kombutcha, tapi uangnya ga cukup. Sementara saya senantiasa setia dengan botol Chuggington saya yang merah dan biru. Hanya butuh sekitar 10 atau 15 menit menunggu hidangan kami. Baunya juga sedap loh, soalnya jendela dapurnya langsung ngarah ke area makan. Yeay!
Karena Bumi Langit itu (deskripsiin Bumi Langit). Saya dan Nida sempat melihat-lihat produk Bumi Langit dan produk sehat serta lokal lainnya kayak Masker Kefir (ea yang diinget cuman itu karena saya jerawatan). Ada banyak produk menarik. Bumi Langit juga menjual produk-produk afiliasinya, loh, contohnya saya melihat deodoran alaminya Banyuripan.
Balik lagi ke hidangan kami,
ternyata makanannya enak banget! Nasi Campur Vegetarian saya yang terdiri dari terong balado, tumis labu, urap Bali, tempe, dan tahu memang terlihat sederhana. Namun, ketika saya ngegigit tempenya, rempahnya kerasa, gurihnya juga. Nasinya sendiri seperti merah, teksturnya nggak lembek tapi juga bukan keras. Gurih. Sayurannya juga enak banget, padahal semua makanan ini tidak mengandung MSG. hmm! Nida juga bilang, Ikan Patin yang ia makan juga tidak berasa amis sama sekali dan kuahnya enak, padahal biasanya ikan-ikan air tawar itu pasti amis (kalau kata Nida). Nah, di atas ini saya melampirkan menu Bumi Langit, mungkin teman-teman sudah tahu harus membawa berapa ribu kalau berkunjung ke sana.
![]() |
| Nida and her pussy, Imam Hambali. (lol that sounds wrong) |
![]() |
| me asking y i exist in this universe gadenq |
Tidak hanya makan saja, Mbak Dina
mengajak kami keliling Bumi Langit. Oh ya bagi teman-teman yang mau memutari
tempat menarik ini, jangan lupa spare 10-15ribu untuk pengelolaan Bumi Langit
yah! Karena tempatnya juga gak kalah asik sama Warung Bumi. Bumi Langit yang memang terkenal karena permakultur dan visinya sebagai sebuah sarana untuk menjadi khalifah dalam menjaga buminya, Bumi Langit ini hijau. Di mana-mana ada tanaman budidaya, tanaman buah, bunga, obat, juga ada peternakan dan pengolah biogas. Saya diajak ngeliat-ngeliat
tanaman dan ternyata Mbak Dina tahu banyak soal tanaman serta fungsinya, ada
bunga telang dan rosella yang bisa dijadiin teh, terus ada arbei yang sering diolah jadi
selai arbei (saya nyicipin loh. Enaaaak.). Ada juga kandang sapi dan biogas,
tempat budidaya eceng gondok, lalu ada Bunga Matahari! Aih senangnyaa.
Karena webnya sendiri udah populer dan berisi banyak informasi, teman-teman bisa langsung kunjungin websitenya di Bumi Langit, karena di sana benar-benar dijelaskan visi, misi, dan spesialisasi Bumi Langit. Hehe, ternyata Bumi Langit berlandaskan ajaran-ajaran Islam, loh. Keren banget deh pokoknya.
Karena webnya sendiri udah populer dan berisi banyak informasi, teman-teman bisa langsung kunjungin websitenya di Bumi Langit, karena di sana benar-benar dijelaskan visi, misi, dan spesialisasi Bumi Langit. Hehe, ternyata Bumi Langit berlandaskan ajaran-ajaran Islam, loh. Keren banget deh pokoknya.
![]() |
| Saya dan Nida, di depan plang Warung Bumi |
![]() |
| saya dan Mbak Dina dan buah arbei! |
![]() |
| Ini adalah jembatan menuju musholla kecil yang asik |
![]() |
| bagian dalam musholla yang saya panjat ke lotengnya lalu tiba-tiba muncul tawon |
Dan akhirnya, ketika beranjak sore dan kaki sudah mulai pegal-pegal, kami sama-sama setuju untuk pulang ke kota. Walaupun Bumi Langit jauh, teman-teman, menurut saya seru sekali sih, kalau teman-teman mau belajar dan mencicipi hidangan di sini. Saya sendiri masih berharap akan ke sini secepatnya untuk lebih serius mempelajari permakultur & nilai-nilai Islam dalam melihat lingkungan. Hohoho.
okei, sampai sini dulu yaaa!
Selamat berjumpa di Hidoop Sehat Jilid II. :)
okei, sampai sini dulu yaaa!
Selamat berjumpa di Hidoop Sehat Jilid II. :)
Selasa, 13 September 2016
Untuk:
untuk Smita, versi matahari yang lain. yang warnanya merah muda.
hai smit. terima kasih atas kesedian ngetuk pintu lalu masuk ke dalam kamarku ya kapan pun kamu mendengar suara-suara anehku di dalam, padahal udah kuredam. terima kasih untuk belaiannya siang bolong itu (ugh, you can be my lesbian friend u kno), terima kasih untuk things i remember from bia yang kamu tulis di note, untuk suratnya, untuk telinga yang bosen kali ya denger negativitasku terus huehue. terima kasih untuk 24/7-nya.
untuk Adey, versi aku satu tahun yang lalu, survivor, panutanku di masa depan.
thank you for your blog posts, dey. i mean it. terima kasi suda mengajarkan bahwa proses yang kualami ini indah ketika nanti aku melihatnya kembali. you've been in this process a year ago, and you survived. you taught me how to be honest with your feelings and avoiding denial even tho you really want it. thankyou buat balasan chat yang sangat antusias (14 balloons pas aku ngechat kamu lol) extrovert helps extrovert, right?
untuk Arum, sweetest palms i've ever met, another survivor.
terima kasi sesi ngupi malam yang bikin aku sakit perut. coklat yang gak kunjung datang itu HAHA. satu gambar yang kamu kirim lewat line aku pagi-pagi padahal aku lagi ga ngomongin apa-apa waktu itu (tp intuisimu benar. maaci sangat yey). untuk saran jujur. dan untuk post-post blogmu yang indah spt adey dengan cara yang beda.
untuk Ginan, Wednesday Addams-ku yang gelap tp deep inside penuh cinta,
don't teach me to not falling in love again, ya? aku masih pengen jatuh cinta keles! looool. terima kasi ginan untuk menyadarkanku bahwa anxiety yg sedang aku alami telah kamu alami semua (sampe kamu tau step abis ini. dan kamu pas cerita itu mukanya datar gitu kayak udah bosan) dan pada suatu hari yang baik nanti, akan berakhir. terima kasi untuk tawaran bobo bareng-nya yang gapernah expired dan tawaran untuk menjadi teman lesbi. hem. terima kasi untuk menyadarkanku arti penting keluarga dan ini gaada apa-apanya dibandingin kehilangan keluarga... :)
untuk Nida, my fellow broken-hearted / daddy issue / bitch instinct partner.
i know how INTP works when s/he met someone who need their advice ... so aku gapernah minta saran dari kamu kan HAHAHA. but thankyou for taking me to the places which could cheer me better ... restoran-restoran sehat, wihara, tempat buku, dan kamu janji akan nganter aku ke air terjun, ya. ingat lah untuk tidak sering-sering merancap, pakai n ya nida jangan gak pakai. you helped me with your unique ways kok.
untuk Sekar. pasak yang tumbuh kuat diterjang ombak,
aku kagum sama kamu. apa yang aku alami cuma seprintil dibandingkan apa yang kamu hadapi. dan kamu aja kuat, kenapa aku engga, ya, Sekar? terima kasih telah menjadi jiwa yang indah...
untuk Fatin. si jujur bulat yang menggemaskan.
EHEHEHEHE makasih web-web advide dan vsauce dan school of lifenya nya kamu emang keajaiban virtual deh heaaaaa.
Dan untuk para teman cowo yang tidak kusebutkan namanya demi kepentingan perasaan emosional, hasrat puisi tersembunyi, jiwa pujangga yang gak mau mereka tampilkan di muka publik, dan demi kepentingan kita bersama: THANKYOU YA GUYS.
without you all, i can't heal myself as fast as this.
i love you.
here i attach their beautiful pieces:
words can help. i mean it.
so are they.
Minggu, 11 September 2016
22:30
Have you ever been hurt? Or feel any wound on your body – when your hand
accidentally touched something sharp and you were start bleeding, when you got
fractured and you couldn't describe your pain? Have you ever thought you will not be so
afraid to feel pain until you have felt it over and over again and became 100 %-ly immune?
It sounds strange, but honestly, I really want to feel all pains until I feel
familiar with those feelings. The feeling inside and outside after you got hurt.
I want to feel it more and more until I no longer be scared with my imagination of
being hurt. Because, I inherently get hurt deep down there, and even my unconsciousness already
learn how to bear it and just say, “Oh hi. You again. Let's do this together.”
Probably you will say I am crazy. Stupid. Masochist. Or Pathetic. Or perhaps you will understand this is a part of my internal system preventing myself for having a desire to kill "myself" inside.
I want to get hurt. So I can prepare myself whenever I suddenly got another injury, another pain. For example, for my heart. I want to get hurt. Simply because I am a human who have a capability to feel -- and find all emotions are worth to be conceived.
(people will love you and leave you and they give you an open scar.
you can heal that wound, or you can learn how to ignore the pain until it abates.)
Langganan:
Postingan (Atom)








































