Hati hanya diberikan kepada satu orang, demikian ia pernah berkata.
Tetapi Daun bisa tercabik jadi belasan fragmen, mengapa hati hanya terbelah dua, satu untuk diriku dan dirinya? Tetapi Porselen bisa gugur dan pecah menjadi ratusan keping tajam, mengapa hati hanya terbelah dua, satu untuk dirinya dan diriku?
Pernah ada sebuah suara masuk ke dalam indranya dan menggetarkan jiwa-jiwanya dan ketika ia mengangkat muka untuk melihat sebuah berkas yang ia kira matahari pagi yang biasa membangunkannya dari tidur lelap, ia malah terpana.
Bukan.
Di luar bukan Sang Surya.
Ia melihat sebuah kejora, tidak seterang matahari,
namun hangat. Hangat yang membuai, yang pernah membuat angan berjulai:
"Suatu hari aku akan memiliki pendamping dengan hangat seperti ini."
Sang kejora berpendar dan ia menyadari sinar itu bukanlah sebuah mentari.
bukan pula sebuah bintang gemintang.
Ia seribu kunang-kunang, hinggap pada sebuah dahan yang melayang.
Di baliknya ialah seorang lelaki, membawa kepadanya sebuah pohon seribu kunang-kunang itu.
Tapi ia tak lantas meraihnya
karena ia tahu dahan dan lelaki itu bukan haknya.
Hati hanya diberikan kepada satu orang, demikian ia pernah berkata.
Tapi Daun--
(ia tak menyelesaikan kalimatnya.. bibirnya kelu.)
Ia, Bulan, sudah berpasangan dengan Mentari dan tegakah ia memilih Pepohonan Kunang?
Ia, gelap, sudah dipilih terang dan tegakah ia menjatuhkan diri pada Pepohonan Kunang?
Hati hanya diberikan kepada satu orang,
dan sebuah garis memiliki dua ujung. Ia juga tak pernah menyukai persimpangan.
Maka ia menangis, menyesali hatinya yang pernah berpikir untuk beralih akhir-akhir ini, dan ia tambah menangis ketika menyadari hatinya memang tak kuasa untuk mengkhianati.
Ia gebah Pepohonan Kunang, dan ia kembali tidur, menyongsong Mentari walau terkadang ia tahu sinar Mentari kadang menyakitinya juga. Tapi tak apa, hati pun hanya bisa diberikan kepada satu orang.
Jikalau hati bisa terfragmen dua, akankah ia berani untuk memeluk pepohonan kunang?
Minggu, 15 November 2015
Rabu, 14 Oktober 2015
Rumah
Kita akan membangun sebuah rumah, Sayang.
Yang berteras dan berhalaman luas, ada halaman depan dan belakang. Yang ketika pertama kali membelinya, aku akan dengan bersemangat belanja bibit-bibit pohon yang akan menjadi tua, kisut dan keriput. Yang terasnya berlantaikan semacam ubin batu, tempat segala embun dan sisa hujan semalam membuatnya jadi lembab. Yang berpagar dengan rapat yang nihil, jadi semua pejalan kaki bisa melihat rumah dan keharmonisan keluarga kita.
Rumah kita akan berarsitektur peninggalan Belanda. Dengan warna putih dan abu tiada cela, karena aku menolak biru muda atau warna pastel yang terlalu pop. Aku akan menyuburkan dandelion untukku, bunga matahari untuk anak pertama kita, dan mawar untukmu, jadi rumah kita akan selalu wangi. Rumah kita akan memuat pekarangan belakang yang cukup untuk tenda yang akan dibangunmu dan anak lelaki kita, tenda yang akan menaungi kita tatkala kita ingin melihat malam terbingkai angkasa.
Halaman belakang akan memiliki sebuah pohon yang kuat, mungkin trembesi, mungkin oak, yang di atasnya terdapat rumah pohon. Kau tahu, rumah pohon sudah menjadi impianku sejak aku masih di taman kanak-kanak.
Kamar tidur kita adalah tempat kita rebah. Tempat kita pertama kali bercinta, tetapi bukan satu-satunya tempat untuk bercinta (kita akan menyadari, di malam yang dingin saat kita menonton televisi di ruang keluarga, tetiba hangat bukan bersuar dari gelombang sana, tetapi dari apa yang harus kita tukarkan: lalu kita terkikik.) Benar, kan, kita tak hanya bercinta di sana?
Kamu tahu aku suka kayu, jadi lantai kamar kita harus kayu yang kuat! Akan ada sebuah karpet tempat debu enggan membuang lesu, juga sebuah sofa. Kamar kita akan dimuati satu rak buku dan ruang almari. Lukisanku adalah satu yang terpajang di dalam kamar itu, berdampingan dengan foto-foto kita, dengan atau tanpa anak-anak kita. Seprai ranjang kita haruslah putih! Namun khusus untukmu aku akan belajar merajut, menjahit kain-kain perca agar bisa menyelimutimu sebagai sarung atau selimut atau keduanya; agar kau tak rindu aku ketika aku pergi jauh dan demikian sebaliknya. Belikan aku kasur yang besar, Sayang, agar anak kita bisa numpang menginap, agar kita bisa melakukan tujuan lain selain tidur dengan leluasa: yaitu bermain kartu, tentu. Hihi.
Sedang untuk kamar mandi, aku tidak berharap yang muluk-muluk. WC tentu saja adalah sebuah kewajiban, wastafel cukup berbahan kaca, cerminnya harus besar agar aku bisa menatap tubuhku dengan leluasa. (Hehe). Aku mau ada bathtube, lalu ada busa, karena kamu harus mengetahui aku terobsesi mandi busa karena aku tidak pernah mandi busa seumur hidupku. Dinding kamar mandi kita lagi-lagi adalah batu-batuan agar aku merasa terbuka di alam. Biarkan atapnya adalah atap rumbia.
Lalu Dapur, Dapur kita cukup sederhana namun tergolong luas agar anak perempuan kita bisa membantuku memasak. Aku akan membeli banyak bahan untuk meramu makanan untukmu, anak lelaki kita, dan anak perempuan kita. Semoga di dapur aku semakin bisa menabula rasa.
Ruang keluarga kita adalah ruangan yang paling hidup. Ada sebuah TV di sana, karpet yang lembut untuk bersendagurau bersama keluarga kecil kita yang humanis, tempat dimana aku akan merepotkanmu untuk mletakkan meja kayu panjang: di atasnya ada hasil kriyaku, foto-foto keluarga kita, potongan-potongan puisi, dan vas bunga. Oh ya, di depan TV akan ada sebuah sofa tempat aku akan ketiduran menunggumu lembur di tempat kerja. Di depan sofa ada meja kecil di mana di atasnya akan selalu ada koran serta buku bacaan. (Keluarga kita akan menjadi keluarga kutubuku, catat itu.)
Yang terakhir, aku ingin rumah kita penuh dengan jendela. Jendela yang menghadap ke Timur, agar berkas-berkas mentari pagi bisa menempel di rambut anak lelaki kita. Agar suatu waktu kau bisa menjumpai aku melamun di sudut jendela, menulis prosa dan puisi. Agar anak kita lebih sering menatap ke luar dibanding menunduk menatap gadgetnya. Agar kita bisa membuat bangau-bangau kertas kita terbang selayaknya burung yang nyata, dan agar giring-giring kita berbunyi dengan denting surga.
.
.
.
.
Yang terpenting, aku ingin rumahku bisa menyajikan rumah yang lebih absolut dari sekedar bangunan. Rumah yang selalu dibawa dalam kehangatanmu, Abhipraya, dan Aksara. Tidak apa-apa bila rumah kita hanyalah bangunan kecil.
Tiga jagoan utama yang akan kuperjuangkan cukuplah menjadi tempat aku pulang. :)
Yang berteras dan berhalaman luas, ada halaman depan dan belakang. Yang ketika pertama kali membelinya, aku akan dengan bersemangat belanja bibit-bibit pohon yang akan menjadi tua, kisut dan keriput. Yang terasnya berlantaikan semacam ubin batu, tempat segala embun dan sisa hujan semalam membuatnya jadi lembab. Yang berpagar dengan rapat yang nihil, jadi semua pejalan kaki bisa melihat rumah dan keharmonisan keluarga kita.
Rumah kita akan berarsitektur peninggalan Belanda. Dengan warna putih dan abu tiada cela, karena aku menolak biru muda atau warna pastel yang terlalu pop. Aku akan menyuburkan dandelion untukku, bunga matahari untuk anak pertama kita, dan mawar untukmu, jadi rumah kita akan selalu wangi. Rumah kita akan memuat pekarangan belakang yang cukup untuk tenda yang akan dibangunmu dan anak lelaki kita, tenda yang akan menaungi kita tatkala kita ingin melihat malam terbingkai angkasa.
Halaman belakang akan memiliki sebuah pohon yang kuat, mungkin trembesi, mungkin oak, yang di atasnya terdapat rumah pohon. Kau tahu, rumah pohon sudah menjadi impianku sejak aku masih di taman kanak-kanak.
Kamar tidur kita adalah tempat kita rebah. Tempat kita pertama kali bercinta, tetapi bukan satu-satunya tempat untuk bercinta (kita akan menyadari, di malam yang dingin saat kita menonton televisi di ruang keluarga, tetiba hangat bukan bersuar dari gelombang sana, tetapi dari apa yang harus kita tukarkan: lalu kita terkikik.) Benar, kan, kita tak hanya bercinta di sana?
Kamu tahu aku suka kayu, jadi lantai kamar kita harus kayu yang kuat! Akan ada sebuah karpet tempat debu enggan membuang lesu, juga sebuah sofa. Kamar kita akan dimuati satu rak buku dan ruang almari. Lukisanku adalah satu yang terpajang di dalam kamar itu, berdampingan dengan foto-foto kita, dengan atau tanpa anak-anak kita. Seprai ranjang kita haruslah putih! Namun khusus untukmu aku akan belajar merajut, menjahit kain-kain perca agar bisa menyelimutimu sebagai sarung atau selimut atau keduanya; agar kau tak rindu aku ketika aku pergi jauh dan demikian sebaliknya. Belikan aku kasur yang besar, Sayang, agar anak kita bisa numpang menginap, agar kita bisa melakukan tujuan lain selain tidur dengan leluasa: yaitu bermain kartu, tentu. Hihi.
Sedang untuk kamar mandi, aku tidak berharap yang muluk-muluk. WC tentu saja adalah sebuah kewajiban, wastafel cukup berbahan kaca, cerminnya harus besar agar aku bisa menatap tubuhku dengan leluasa. (Hehe). Aku mau ada bathtube, lalu ada busa, karena kamu harus mengetahui aku terobsesi mandi busa karena aku tidak pernah mandi busa seumur hidupku. Dinding kamar mandi kita lagi-lagi adalah batu-batuan agar aku merasa terbuka di alam. Biarkan atapnya adalah atap rumbia.
Lalu Dapur, Dapur kita cukup sederhana namun tergolong luas agar anak perempuan kita bisa membantuku memasak. Aku akan membeli banyak bahan untuk meramu makanan untukmu, anak lelaki kita, dan anak perempuan kita. Semoga di dapur aku semakin bisa menabula rasa.
Ruang keluarga kita adalah ruangan yang paling hidup. Ada sebuah TV di sana, karpet yang lembut untuk bersendagurau bersama keluarga kecil kita yang humanis, tempat dimana aku akan merepotkanmu untuk mletakkan meja kayu panjang: di atasnya ada hasil kriyaku, foto-foto keluarga kita, potongan-potongan puisi, dan vas bunga. Oh ya, di depan TV akan ada sebuah sofa tempat aku akan ketiduran menunggumu lembur di tempat kerja. Di depan sofa ada meja kecil di mana di atasnya akan selalu ada koran serta buku bacaan. (Keluarga kita akan menjadi keluarga kutubuku, catat itu.)
Yang terakhir, aku ingin rumah kita penuh dengan jendela. Jendela yang menghadap ke Timur, agar berkas-berkas mentari pagi bisa menempel di rambut anak lelaki kita. Agar suatu waktu kau bisa menjumpai aku melamun di sudut jendela, menulis prosa dan puisi. Agar anak kita lebih sering menatap ke luar dibanding menunduk menatap gadgetnya. Agar kita bisa membuat bangau-bangau kertas kita terbang selayaknya burung yang nyata, dan agar giring-giring kita berbunyi dengan denting surga.
.
.
.
.
Yang terpenting, aku ingin rumahku bisa menyajikan rumah yang lebih absolut dari sekedar bangunan. Rumah yang selalu dibawa dalam kehangatanmu, Abhipraya, dan Aksara. Tidak apa-apa bila rumah kita hanyalah bangunan kecil.
Tiga jagoan utama yang akan kuperjuangkan cukuplah menjadi tempat aku pulang. :)
I'll take you home someday.
Label:
#MimpiSenja,
#SuratCinta,
kamu,
romantika,
secuplik sastra
Selasa, 11 Agustus 2015
Menapaki Jogja (Part 2 - finale)
Akhirnya saya nulis lagi.
Padahal. cuman gabut di rumah. (Gak deng gak gabut, tapi rasanya tuh gabut gimana gitu ya... tapi weh kok jadi curhat?!) pokoknya, saya berada di situasi di mana saya gak gabut tapi ngerasa gabut, namun akhir-akhir ini saya ngerasa gak gabut karena Tugas PPSMB, wahai Jagadhita, sudah turun dari bumantara dan membuat jari saya agak pegel ngetik jawabannya. Ehe.
Ok. Maaf ya sempet curhat ga penting di atas kayak gituh. (O iya, saya nulis ini jam 2:12 AM tanggal 26 Juli................... tentu saja karena habis MENGERJAKAN TUGAS PPSMB. #nguap) (note: dan sekarang udah 3 September LOL HAHA)
Mumpung lagi numpang wifi
Ok. Here we go... I present my endless journey in Jogja, Menapaki Jogja Part 2, BAGIAN SENI-SENI! (dan bukan air seni. catat itu. hmph.)
1. Jogja Art Weeks
(now playing: Mountains by Hans Zimmer)
Cerita ini bermula di suatu hari yang cerah, tatkala saya baru saja menyelesaikan Tes TPA dan saya melihat siluet seorang lelaki. Nampa'nya mirip dengan seseorang yang waktu itu chat saya dan salah satu penghuni pertama Grup Line Antropologi UGM 2015.
Karena saya gak tau diri, dan gak tau malu. Akhirnya pula saya tegur orang itu. Ternyata benar! Dia adalah orang yang sama dengan yang waktu itu ceting sama saya! (Saya memang hebat, padahal dpnya waktu itu pake masker diving. Coba kalo waktu itu pake masker yang dipake nenek-nenek pengusir setan di Insidious, (Radiation Mask btw namanya) saya pasti gak akan mengenalinya #lha #hubungannya #apa?)
OKE FOKUS, SHABIA!
Pokoknyaaa, saya dan dia sempat ngobrol dikit, bersama temannya yang juga lelaki. Tapi saya ngobrol berempat kok, sama teman saya yang satu lagi, namanya Sekar
S: "HEYO WTF!"
A: "YO MY SUPER NIGGA!"
ea ngelawak. nih deh yang bener:
A: "Di PKKH (nyebutin nama tempat yang saya gaada bayangan dimana) juga ada pameran lho. Nanti malem openingnya."
S: *lemot* "Haa? Pameran apa? Seni juga?"
A: "Iya seni." (note: semua cowo kalo jawab irit banget. ) "Aku sama Adi *nunjuk temennya* mau ke situ"
S: "OOOO"
A: "....."
S: "PKKH itu dimana? Emang kamu panitia?"
A: *gak inget jawabannya* "Ituu dekett.. PKKH deket Graha Sabha Pramana itu loh."
Lalu saya terdiam. Kemageran saya membuat saya berpikir, PKKH yang nama tempat itu huruf konsonan semua itu pasti bagaikan di luar planet (jing gue lebay banget. maksudnya jauh) dan akhirnya saya memutuskan buat pulang................ setelah Alwan kasih Art Map.
DAN SAYA TOLOL. HARI ITU SAYA GAK KE OPENING JOGJA ART WEEKS, YANG JELAS JELAS ADA MBAK FRAU. DAN ADA ANOTHER TRIP TO THE MOON-NYA MAS MAEL. BESOKNYA SAYA JUGA BARU NYADAR.........................
..................PKKH UGM itu depan Grha Sabha Pramana. Persis. Kalo jalan gak nyampe 15 menit, kalik. Hati saya bagaikan tertohok. (Kalo ini beneran geregetan sama diri sendiri, karena saya oon banget heu emang. Hilang sudah kesempatan saya bertemu mbak Frau)
Akhirnya di suatu malam yang cerah itu saya bilang Sekar saya minta ditemenin keesokan harinya ke PKKH UGM ;__; beruntung, Sekar mau menemaninya. Dan besoknya, ternyata banyak ugha yang mau ke PKKH. Ada Sekar atau Echa, ada Yaya, dan ada Iin.
![]() |
| INI NEH PKKH mas bro #masihgondok |
![]() |
| Give us more space!!! |
![]() |
| teman baru yang Insa Oloh sejiwa, Aliyah Sekar! |
![]() |
| RI-SAIKEL (recycle) |
![]() |
| kisah tentang seorang supir angkote |
![]() |
| have we see our truest reflection? |
![]() |
| kisah si gundul |
![]() |
| #okelah |
![]() |
| bagaimana melukis keluarga yang Alhamdulille, Sakinah Mawaddah Warohmah! |
![]() |
| focus on your subconsciousness and hear the voices that ears cannot fathom |
![]() |
| Ojo Mlaku Mlaku |
(now playing: Sevenchords - Lagu Tidur
Daaan, itu baru JAW! Ada lagi Art Jog, dan karena saya gak mau berlama-lama ngetik, saya langsung pamerin foto aja yah. Intinya saya waktu itu nemenin si kucrit Smita Tanaya ke Art Jog berdua doang kek lesbong padahal lusanya dia Utul :)) untungnya sekarang ia udah menjadi #MabaCantiqueJPPUGM2015, #YokGANdiFOLLOW!
![]() |
| kepada congklak, yang lobangnya sudah jarang dimainkan (eh lha kok terdengar salah ya...) |
![]() |
| #SalonGRATIScyin Rocking Shave. |
![]() |
| ayo bekerja keras, mengayuh asa, juga mimpi Saksikan lentera cita-cita nyala, juga mati Tidak ada Tidur Untuk Hari Ini: No Bed Rest for The "Wicked" |
![]() |
| kepada Padi dan Agrikultur Endonesa~ |
![]() |
| The Tree of Hope, Yoko Ono. |
![]() |
| Meditative Space kamu bisa shalat di dalam sini, dengan diiringi sarkasme tentang Spiritualisme. |
![]() |
| The Hidden Life of Things, untuk melihat kepala Sang Wayang dan melihat latarnya. |
![]() |
| selamatkan situs boedaja. History N Destiny. J A S M E R A H |
![]() |
| PIPO BOCOR! negeri ini subur dan kita hidup di atas air. Namun mengapa air diprivatkan? |
![]() |
| untuk kekreatipan, rangqai idemoe di zini. |
![]() |
| aTAS NaMA gRAMMar, atas representasi. |
![]() |
| no more boundaries |
![]() |
| sebuah proyek, dimulai dari Titik Nol Jogja, untuk memaknai sebuah perjalanan. |
![]() |
| orang terbalik sama dengan agitator. anjing ialah perlambang loyalitas, namun sirnanya individualitas. "Stempel agama, ras, politik, budaya, terus melekat pada kita." Memorial Landscape #2 |
![]() |
| ko-d e. |
![]() |
| Atas Nama Daun (Ganja), mari memuliakannya. Bukan sebagai kriminalitas, tapi sebagai sebuah pemaafan atas nama Hak Asasi. |
![]() |
| moeterrrr moeterrrr |
![]() |
| Para Pencari Kehebatan tidak lagi mencari info dan referensi di dunia realitas, tapi dunia virtual. Fermentation of Nose, hidung P I NO K I O. |
![]() |
| Atas Nama Agrikultur Endonesa, sebua paradok'z |
![]() |
| ATAS NAMAAA GANJHAAA |
![]() |
| perspektif monoton? |
![]() |
| menginjeksi berbagai warna kepada wadah: kita. |
![]() |
| i..... .........C....... ....u |
![]() |
| sALAM DarI PluTO! esensi sebuah karaoke, mengevaluasi kedekatan. |
![]() |
| jalasveva jayamahe, kepada jaring jejaring maritimue |
![]() |
| sistem binokular? |
![]() |
| untuk selalu bermimpi, yang bergerak dan takkan alami stagnansi |
Saya suka Art Jog. Banget. Kalau dipikir-pikir, pameran lain yang juga turut mengendap di hati saya, Aku Diponegoro tidak semasif ini, meski telah mencengangkan saya juga. Kedua pameran ini menyentuh saya dengan cara mereka sendiri.
Art Jog, karena diciptakan begitu dekat dan interaktif dengan pengunjung: menawarkan semacam hubungan yang tercipta antara karya seni dan pengunjung, agar menikmati. Dari mulai No Bed Rest for The Wicked yang bisa dikayuh, Pipa Bocor yang kalo pipanya diteken airnya muncrat entah dari mana, History N Destiny yang punya bunyi Gong yang gaungnya menembus batas-batas spiritual saya yang hipokrit dan tamak, untuk lebih peka mencermati budaya yang nyaris punah.
Bergerak dari hati saya yang tersentuh oleh karya-karya di sini, saya tak menyesal ngunjungin Art Jog dua kali. Untunglah saya akan tinggal di Jogja, kota seratus pameran seni :))
baik.
sudah final.
Intinya, terima kasih Allah karena saya kini sudah menetap di Jogja.
Terima kasih juga untuk pembaca mau membaca entri, walaupun saya tidak akan pernah tahu siapa saja yang mengarah direksi ke sini.
Saya sayang kalian!
Label:
#CatatanPerjalanan,
buddhayah lokatara,
jawa,
seni seni
Langganan:
Postingan (Atom)


















































