Jumat, 03 April 2015

Puisi dari Mereka (yang saya simpan)

Spasi
oleh Dee Lestari

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Jangan Lagi Engkau Berdiri
oleh Goenawan Muhammad

Jangan lagi Engkau berdiri
di jendela-jendela sunyi & kelam kali 
jangan lagi engkau tak mengerti
Sajak apakah yang tinggal sendiri

Sajak yang ada mendengar bumi, bumi yang letih
Sajak ada yang mendengar hidup, hidup yang menagih
Sajak ada yang melihat abad, abad yang bersih
Bagaikan bulan yang timbul: memutih putih

(1963)

Rupanya Kita
oleh Sapardi Djoko Damono

Rupanya kita yang harus menjawab
suara itu. Tetapi bukankah hanya suara dingin
yang bergoyang di bawah lindap langit
bukankah hanya selembar daun yang putus, ke bumi

Bukankah hanya nafas kita sendiri. Rupanya kita
yang masih harus menyebut sebuah nama
di suatu tempat pada suatu waktu
tetapi adakah kita kenal bahasa itu

(sebuah kutipan dari Salwa, kepada Amba)
oleh Laksmi Pamuntjak

Ada sesuatu padamu, pada wanita dewasa & kanak-kanak dalam dirimu, pada mata dan mulutmu, yang sedarimula kutahu cepat meradang tapi juga menyimpan keindahan. 
Kau membuatku merasa berguna. Dan karena itulah aku merasa aman bersamamu.

Kwatrin
oleh Sapardi Djoko Damono

Semalam suntuk suara nafasmu merayap di dinding lalu terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau bangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu.
Kau buka jendela
Cahaya matahari meloncat ke dalam dan nampak olehmu seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai menjelma semacam gas namun kau masih dengar engahnya mendaki
Berkas-berkas sinar matahari

(kutipan dari seorang malaikat kepada Rehan Raujana)
oleh Tere Liye

Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya. 



... puisi selalu menyajikan tempat untuk berefleksi, di saat kita butuh untuk mengubur diri, atau sekedar terbenam dalam hiburan sunyi. :)


Jumat, 27 Maret 2015

Teruntuk Pengunjung yang Suka Foto Cantik di Pameran Seni

Dearest visitors who really excited to take some photos at Galeri Nasional, could I throw something to your face or hit your camera with a heavy thing?

Oke, saya gak se hardcore itu. But still, I feel my exasperated running through my vein lagi pas nulis ini, mengingat pengalaman saya beberapa hari yang lalu yang diganggu sama anak-anak eek yang demen foto-foto di musiyum.

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya iseng ngunjungin Galeri Nasional lagi. Saya pernah bilang di Art Report saya tentang Aku Diponegoro yang saya belom post ke blog ini, bahwa Gal-Nas tidak seperawan dulu lagi. Maksud saya, sekarang sudah diminati banyak pengunjung. Oke, saya senang. Artinya sekarang museum memiliki daya tarik yang magnetis bagi khalayak. Namun, kebahagiaan saya berujung ke kejengkelan, karena eh karena SEBAGIAN BESAR PENGUNJUNG NGUNJUNGIN GALNAS CUMAN UNTUK FOTO-FOTO HITS.

Saya waktu itu ke pameran lukisan India. Saya lagi ngamatin karya, eh muncul suara-suara. Tadinya pelan, terus tambah keras, tambah keras, berdengung, tambah banyak, eh bahkan sampe teriak (!!?!!!?!), saya iseng nengok ternyata mereka lagi……

Foto-foto.

Dalam jumlah rombongan.

Ya udah saya iseng saya matiin lampu ruang pamer. Eh dijudesin.

Dan sebenarnya ini tidak terjadi sekali saja. Rata-rata pengunjung dengan “kategori” seperti ini berisik, bersuara toa, banyak omong, berfoto dalam rombongan, ngalangin saya dan beberapa teman buat melihat barang yang dipajang, dan berisik—oke, tadi udah disebut ya? Tapi mereka memang berisik banget, dan itu masalahnya :))

Hm, no offense, saya gak pernah bilang foto-foto di dalam museum itu sesuatu yang tabu, kok. Saya pun selalu menyempatkan foto di salah satu barang pamer, atau minimal foto karya-nya. Beberapa barang yang dipamerkan memang selalu jadi spot foto menarik yang perlu kita jadikan objek estetis komparatif di foto kita. Tapi, coy, berfoto-foto di museum kan tetap ada etikanyaaa??

Pertama, mengutip dari KBBI:
Museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan , dan kesenangan.

Oke, katakanlah Galeri Nasional bukanlah museum. Tapi, sebagian besar barang yang dipamerkan di Galeri Nasional adalah barang-barang pameran dan karya seni dan koleksi dari suatu lembaga yang mirip museum. Intinya, mengandung sesuatu untuk dipelajari. Dan memang, museum ada untuk memuaskan hasrat akan edukasi.

JADI, GAIIISSS, plis. Bagi teman-teman yang suka mengunjungi Galeri Nasional atau museum atau tempat pameran dan galeri seni lainnya untuk berfoto-foto, jangan datang ke museum deh. Minimal, bisa kan, selipin secuil tekad ke hati kalian buat belajar sesuatu? Sebelum berfoto-foto, coba deh tengok sebentar apa makna barang koleksi yang ini, apa pesan terselubung karya pamer yang itu, terus baru foto-foto. Karena yang pertama, kalian menghargai tujuan dari pameran, bahkan seniman yang memamerkan barang koleksinya. Yang kedua, dengan kayak gitu, kalian membawa pulang ilmu baru, bukan hanya foto baru yang bisa dipajang di medsos.

Plus, kalaupun memang pengen foto-foto, usahakanlah jangan mengganggu pengunjung lain yang memang bertujuan untuk melihat pameran dalam rangka memuaskan keingintahuan mereka akan karya seni dan ilmu pengetahuan. Jangan berisik. Jangan memblok pandangan orang yang sedang mengamati karya yang dipamerkan. Usahakan jangan foto pake flash. Kalau datang dalam jumlah rombongan, pilih waktu yang sepi, jadi orang-orang gak perlu risih minggir oleh jumlah kalian. Ketahuilah teman-teman, untuk menelaah karya seni, dibutuhkan semacam ketenangan biar bisa mencerna, dan mendapatkan estetika-nya. Jadi, tolong hargai.

Saya jadi kangen Galeri Nasional yang dulu, yang sepi, yang dingin, dimana saya bisa eksplorasi sepuasnya tanpa ada ketawa cekikikan atau “ulangin dong fotonya” atau “ihh gue masih kurang cantik” dll. Kesel gak sih lagi berusaha menemukan makna dari gambar tentang perbudakan, udah hampir nemu artinya secara keseluruhan, tiba-tiba buyar semua gara-gara ada suara cukup keras dan manja, “IHHH ULANGIN LAGI DONGGG, TADI GAK KECE POSE GUE” ya ampun… rasanya itu…

Maaf untuk memakai Galeri Nasional sebagai contoh, tapi karena saya sudah merasa Galeri Nasional sebagai rumah saya karena saya sering ke sini dan pamerannya selalu bagus-bagus, plus Galnas jauh dari rumah asli saya di Jakarta Selatan, saya merasa empet banget kalo gak bisa nikmatin pameran secara optimal karena pengunjung penggila foto yang kurang beretika, seperti contoh di paragraf lima.

ini aja gue take di TIM dan waktu itu gaada pengunjung sama sekali.


Jadi, siapa yang ngelarang foto-foto di galeri seni atau museum? Cuman ingat, sebelum foto, apa makna museum dan pameran sebenarnya, dan sadarlah bahwa ada pengunjung lain yang datang bukan untuk menikmati foto kalian, tapi pamerannya :) #saveRuangPublik





Rabu, 18 Maret 2015

ra.suk

Padamu ada sebuah jiwa yang matang
tapi ada seselip kanak-kanak, bukankah ia juga meraja?
kamu tak tahu apa atau siapa yang kamu lawan
jauh di dalam diri. berwujudkah?
atau ia hablur dan sekedar ilusi semata

kamu
tombak
ujung tombak.
pertama impian insan harapan
kamu
ditakdirkan untuk mengalah.
dan memang harus mengalah
tapi kadang kamu merasa kalah
(atau memang selalu kalah)

sebab padamu ada sebuah kanak-kanak, kan?
tapi bukankah
b u k a n k a h
di setiap kanak-kanak
ada sebuah lugu yang imbang
lagu yang sumbang
(tapi nyata. pun tulus.)
yang kamu bisa hidupi sebesar rimba
dalam hadapi belantara

kamu.
tombak.
yang me.ra.suk.
ke jiwa-jiwa tersayang yang seolah busuk.
(bagimu. b u s u k.)




Selasa, 17 Maret 2015

awallun


Al-Zalzalah 7 - 8

&

Al Insyirah

&

karena itulah yang saya yakini.

Rabu, 04 Maret 2015

Exhibition Report: EXTENSIVE – THE OTHER SIDE, Salihara

So one week ago, I was waiting S11 in front of my school after practical test that made my day became sucks, and I was searching some solution to refresh my mood.

Then suddenly this great idea came to me. I decided to bring my feet to Salihara, as I remember there is one exhibition and still available to visit. And I was right, Salihara seemed so lonely that afternoon; the display room was tedious and there’s no one but me (and also the caretaker) in that exhibition. But I like it tho, because I can enjoy and explore the masterpiece of the artist by myself alone.

(Okay. Enough for writing so much of English phrases right here. I was prepared for speaking examination when I wrote this article too.)

---

Jadi tepatnya hari Rabu, tanggal 26 Februari 2015 berdirilah saya di ruang pameran Salihara. Untuk yang belum tahu Salihara, Salihara adalah sebuah komunitas dimana sering diadakan pertemuan, pameran, pentas, konser, teater, workshop, dan lain-lainnya yang berbau-bau seni, filosofis, politik, pokoknya sesuatu yang for instance bisa dipelajarin sama orang-orang ‘kaya’. Bagi yang tertarik untuk mengunjungi, ini website resminya:


Dan ini keempat kalinya saya mengunjungi Salihara (yang hanya buat ambil brosur dan cuci-cuci mata gak termasuk, ya.) setelah melihat-lihat pameran Asian Pop Culture, terus nonton Australian Dance Theater, dan ngeliat pamerannya Mas Erik Prasetya yang Estetika Banal. Dan beruntungnya, meskipun pameran yang ini tergolong kecil dari jumlah materi pamerannya (hanya lukisan berupa layar hitam yang guede, 3D Arts, documentary film, dan philosophy thing yang akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah), saya cukup menikmatinya karena saya sukaaaa sekali dengan beberapa materi yang dipamerkan. Baik gimana pun, mau sejelek apapun, seni selalu memanjakan mata saya, sih. Hehe.

Dikutip dari handbook Salihara yang saya dapatkan secara cuma-cuma dari rak informasinya:



EXHIBITION OF WOMEN ARTIST’ WORKS: EXTENSIVE – THE OTHER SIDE
Seniman/Artist: Gitte Saetre, Mona Nordaas, Ingeborg Annie Lindahl, Annie Knutsen.
Kurator/Curator: KJeel-Erik Ruud
In Bahasa Indonesia:
Extensive – The Other Side menampilkan karya-karya empat seniman perempuan Norwegia kontemporer. Inilah karya-karya dari sebuah negeri yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan garis pantai yang panjang. Ada semacam “isolasi artistic” yang membuat karya-karya mereka menarik. Ada isu global, di samping soal-soal lokal yang diprotet dengan kepekaan artistic sang seminal yang khas.
            Ingeborg Annie Lindahl misalknya, lewat perspektif mata burung menampilkan lanskap gunung api dalam rupa goresan kapur tulis hitam. Sementara Mona Nordaas mengangkat kembali konsep “metamorphosis” dengan mendefinisikan kembali sampah dari kehidupan sehari-hari sebagai karya seni.
            Gitte Saetre menampilkan video performance tentang pekerjaan “membersihkan” yang memiliki pesan politik yang sangat kuat dan menantang keterlibatan pemirsa. Adapun Anne Knutsen berbicara tentang pertanian oleh perubahan iklim..
In English:
            Extensive – The Other Side exhibits artwork from four contemporary Norwegian women artist. These artworks come from a country surrounded by high mountains and long coastlines. There is a kind of “Artistic isolation” that makes their artworks very interesting. There are global issues, besides the local contents, portrayed with the distinctive artistic sensitivity of the artist.
            Ingeborg Annie Lindahl, for instance, through bird’s eye perspective, exhibits a volcanic mountain landscape using white chalk on blackboards. Meanwhile, Mona Nordaas re-highlights the concept of “metamorphosis” by redefining everyday rubbish as artworks.
            Gitta Saetre screens a performance video about a “cleaning” job that conveys a strong political message and challenges the viewers involvement. Meanwhile, Anne Knutsen reflects on how agriculture is under the threat of climate change.
(I disclaim for the content. Copyright belongs to Salihara.)

Karena pameran ini berlangsung dari 7 Februari hingga 28 Februari, saya termasuk datang di saat-saat terakhir, dan saya bersyukur karena menyempatkan diri untuk bertandang sejenak, karena pamerannya worth it!

Memasuki ruang pameran, mungkin karena saya selalu tertarik dengan benda-benda berwarna gelap atau karena pemandangan yang langsung menyita perhatian saya adalah dinding, hingga mata saya langsung tertuju ke layar hitam yang dibentangkan dari kanan ke kiri (ruang pameran Salihara berbentuk lingkaran) dengan lukisan kapur berwarna putih di atasnya. Apa istilah Indonesia untuk breathtaking? Oh, ya, kehabisan napas. Saya sempat nyesek ngeliat lukisannya (ini gak lebay, lho), karena keren, monokrom gitu!

(gambar letusan cuekin muka gue )
(cuekin muka gue lagi yha. pra letusan)

 Impresi pertama saya adalah: wah, mega sekali lukisannya, perspektifnya bagus banget untuk mengeksplor sisi filosofis gunung. Ternyata bener juga, saat saya baca keterangan lebih lanjut, ternyata lukisan gunung dari kapur itu memang punya arti filosofis dan dilihat dari sisi pandang burung sebagai makhluk “bebas”.  

Usut punya usut, lukisan ini adalah karya masterpiece dari: Ingeborg Annie Lindahl! Dari kiri ke kanan, lukisan pertama adalah lukisan gunung yang mungkin bertipe strato—seperti kebanyakan gunung di Indonesia. Kelihatan pasif. Lalu gunung kedua, yang kini gunung itu disandingi dengan gunung lain jadi mungkin bisa disebut pegunungan, bentuknya masih strato. Memasuki gunung ketiga, gunung yang masih terlihat pasif, tetapi bentuknya sudah perisai (seperti Gunung Bromo). Lalu gunung keempat, perspektif mulai berubah. Gunungnya menampakkan ciri-ciri aktif: asap yang pekat. Mungkin itu pra-erupsi atau ketika erupsi, karena tampak wedhus gembel yang bergumpal-gumpal. Gunung keempat, menampakkan semburan lahar ke atas langit. Gunung kelima, gunungnya sudah jinak kembali. Saya mendapatkan gambaran umum kalau gunung terakhir itu pemandangan di Norway, yaitu berupa kawah. Tapi Faris (yang pada hari kedua ikut sama saya), menyuarakan pikirannya bahwa lukisan itu terlihat seperti Danau Sagara Anakan di Rinjani, Lombok.

Keren sekali, ya, mbak Lindahl ini. Ia memaparkan, lukisan ciptaannya itu menekankan pada proses pelukisannya yang nggak permanen. ia memilih bentuk gunung sebagai metafora dari suatu hal yang sering dieksploitasi orang namun pada kenyataannya tidak permanen dan bisa meledak pada suatu saat. Setelah saya ngekepoin biografinya di internet pun, saya tahu Lindahl sudah berkutat dengan kapur dan layar hitam hampir lama, dan ia nyaris menggambar bentuk-bentuk pemandangan atau kontur alam untuk berfilosofi.

Dari persepsi saya sendiri, saya menganggap bahwa lukisan Annie Lindahl menggambarkan suatu proses. Bagaimana mulanya alam adalah sosok yang megah dan mudah dieksploitasi, dan terkadang terlihat seperti subjek yang dikontrol manusia, padahal pada kenyataannya adalah, mereka adalah objek yang mengontrol manusia. Fisis determinis. Lalu bagaimana sesuatu yang kelihatan permanen seperti gunung sebenarnya tidak permanen dan cenderung bisa menimbulkan letusan. Namun dari letusan itu, fenomena-fenomena kenampakan alam bisa terbentuk. Mungkin dari sudut pandang geografi, lukisan ini adalah penggambaran sempurna dari siklus vulkanisme—melahirkan danau, lahar, kawah, dll. Dari sudut pandang sosiologi, sebuah re-integrasi dari konflik. Sudut pandang filosofis, seperti yang saya paparkan di atas. Belum lagi sudut pandang ideologis dan politik. Seni adalah sebuah equivocal—saya telah belajar bahwa mereka mengapproach audience dan menimbulkan arti yang berbeda-beda.

tasnya berlalu sebagai pot btw

Kemudian setelah puas menikmati dinding, mata saya bergerak ke sayap tenggara, di mana ada sebuah backpack lusuh, isinya ada ranting tanaman yang meranggas. Ini adalah karya metaforik dari Anne Knutsen “A Traveler and His Tree”. Pesan yang saya tangkap dari sebuah representasi ini adalah: bagaimana seseorang harus membawa warisan “keluarga” (yang ternyata barulah saya tahu “keluarga” itu adalah negara) di beban di punggungnya dalam rangka melakukan perjalanan hidupnya. Jadi dia kayak semacam (saya pake istilah kasar) multitasking, sambil berusaha untuk menemukan hidup dirinya sendiri, dia juga membawa beban tanggung jawabnya. Gitu. He carry the duty with him on his shoulder; a backpack full of apples, parents, grandparents, great-grandparents, expectation, and tradition. It more like showing the metaphor of our duty as young generation to our ‘country’, ‘family’.



Terus, di samping backpack tersebut ada—lima I-Pad! Halah, mental kere saya langsung muncul berasa mau ngambil (nggak deng). I-Pad tersebut menampilkan video eksklusif karya Gitte Saetre, lima-limanya meaningful and contain politic aspects. Yang pertama, Woman Cleaning Final Destination. Kedua, Woman Cleaning a Tank took place at Israel, Woman Cleaning (lupa, tentang bersihin shameness, maybe? Ah.) Terus Woman Cleaning European History, dan terakhir Woman Cleaning Nation Identity. Mungkin karena basic saya menikmati karya seni yang tradisional dan saya gak terlalu dalemin dokumenter, saya jadi gak terlalu keambil hati yha. Tapi saya paling suka Woman Cleaning yang saya lupa namanya , isinya tentang dia gak nyambut kedatengan Dalai Lama, karena terlalu sibuk membersihkan negaranya. Keren ya :”) dia juga sempet bikin short film ini di Indonesia, tepatnya di TPA (prediksi saya Bantar Gebang) jyang udulnya Woman Cleaning Final Destination. Itu keren juga (lebih karena saya subjektif seneng negaranya dijadiin latar seni wuakaka).

Puas ngeliat film dokumenter, sebenernya saya langsung girang karena juga akan memfokuskan perhatian ke sesuatu yang sudah menarik perhatian saya sejak awal, hampir berbarengan dengan karya Lindahl, tapi saya memutuskan untuk menikmatinya terakhir. Dan karya itu adalah:



Nih dibold: Phyllotaxis, 2015 oleh Mona Nordaas! Keren. Banget.

Woke, jadi according to the term, Phyllotaxis adalah: “suatu susunan biologis yang sering didapati dari struktur daun, batang, atau sesuatu yang memiliki range yang pasti”.

Dan ya, karya Mona Nordaas ini berpola filotaksis. Setelah saya gugling, phyllotaxis pun sering didapati di tumbuh-tumbuhan dan selalu memiliki sudut yang sama dari berbagai angle, makanya dia disebut divergence angle. Phyllotaxis ini rumit, mengandung barisan Fibonacci, ribet HEHE.

ini yang berwarna biru!
ini yang berwarna merah: lihat! ada kartu, ada foto bekas pameran, terus tutup botol, stiker, koin, dll

nun jauh di sana, ada kuning. Kreatif kan, bahkan roda sama selang bekas AC saja bisa diolah! Ckck.


Yang menarik bagi saya adalah karya ini: WARNA-WARNI BANGET! Luchuk! Eye catching, dan blinky. Jadi seniman perempuan ini “memetamorfosiskan” barang-barang remeh temeh dan barang-barang bekas menjadi mahakarya 3D seperti ini. Mbak Nordaas cerdas loh, bukan hanya sembarang nyusun-nyusun barang, ia mengurutkannya jadi sebuah gambar lambang yang warna-warni, merah kuning hijau biru hitam putih coklat dll sbgnya. Semua barang bisa dipake, mulai dari koin, foto-foto bekas, hasil print, kartu (saya sampe pengen ngambil kartu tarot yang masih bagus banget hiks), dll sebagainya. Yang juga menarik, Mona Nordaas  ini dalam semua karya serupa menaruh semacam benda poros di tengah-tengah lambang. Seru ya :D saya jadi pengen nerapin ini di rumah, tapi pasti Mama saya langsung berubah jadi Eyang Sapu Jagad gatel pengen membenahi, hihi.

Agak susah berfilosofi dan menafsirkan arti karya 3D art ini, karena sang seniman sendiri juga mengartikan karya dia sebagai sesuatu yang sederhana, cuman “metamorfosa”. Tadinya saya mikir tiap fragmen beda warna ada artinya, tapi nggak juga. Selain nyeni, ternyata karya seperti ini bisa menjadi gerakan yang menyelamatkan lingkungan loh, yaitu Recycle. Wow. By putting together the most ordinary thing into something beautiful, to give the viewer of the artwork the opportunity to see things with a new look.

Maka sudah itu, habislah sudah hal-hal yang bisa saya eksplor lagi. Saya pun jalan ke pintu keluar untuk pulang, tapi perasaan yang sama selalu mendera saya di detik-detik terakhir. Kalau sehabis mengunjungi pameran seni, hati saya tuh gatal pengen berbagi pikiran sama orang biasa, orang ahli, atau bahkan mungkin senimannya sekalian mengenai interpretasi mereka terhadap karya seni yang dipamerkan. Tapi, hingga kini, setelah sepuluh (iya, Alhamdulilah, udah sampe angka 10 nih kunjungannya) saya ngunjungin pameran seni, saya belum bener-bener ketemu orang yang bisa jelasin apa makna seluruh karya yang dipamerkan, padahal saya pengen bangeeeet L

Satu hal, meskipun saya ngerasa gak terlalu pantes untuk komen, semoga buat pameran selanjutnya, Salihara agak ngasih pengaman untuk display materinya, karena karya 3D Arts itu gak ada pengaman, bok, gimana kalo yang ngunjungin itu pengunjung gak bertanggung jawab dan mau ngambil kartu tarot itu seperti hasrat klepto saya? HEHE. Sayang banget kalo sampai barang hilang. :)

Sukses deh Salihara buat ke depannya, semoga saya masih bisa terus meelanglangbuana di dalem galeri-nya!


(photos credit to A. Faris, one of amazing photographer and boyfie i've ever had, yeay!
Terima kasih, pobs.)

cheers,
Bia.


Kamis, 12 Februari 2015

Kepada: Perempuan Penyemai Senyum

Selamat malam, paramita!

Sejenak aku gugu. Aku bingung harus memulai darimana, karena kita berdua adalah dua sahabat yang biasanya tidak saling bertukar dalam metafora atau kata-kata kiasan ketika berkomunikasi satu sama lain. Bagiku kamu adalah realita, jadi untuk berbicara padamu hanya diperlukan sepatah dua patah kata yang modern padahal kini kita sama-sama tahu: sebenarnya kita telah begitu jauh diperdayakan keindahan puisi, dan tak bisa bangkit dari indahnya. Kamu yang mengajariku Jawa Kuna. Dan di dalam puisimu, aku menjumpai dirimu yang selalu sulit dipahami orang lain. (Sama seperti Kuna yang begitu kuno meletakkan dirinya dalam digdaya pemahaman orang awam. yang belum pernah belajar bahasa Jawa. :))

Nah, mari bertolak dari satu problema: kamu.sulit.dipahami.orang.lain. Bukankah problema selalu menjadi awal yang tepat untuk meletakkan batu pertama sebuah refleksi? Melalui problema kita diajarkan untuk revaluasi. Mengapa Archimedes bisa menemukan hukum massa jenis? Karena ia begitu tenggelam dalam masalahnya yang tak terpecahkan dan memutuskan untuk sejenak berendam, memikirkan masalahnya, kemudian: EUREKA! air dalam bakinya meluber kemana-mana, sebanyak beratnya. Dan, ya, kamu--aku, dua entitas yang sulit dipahami orang lain. Di dalam itu kita bisa berempati. Di dalam itu kita bisa saling berevaluasi.

Kamu masih ingat ketika kita kelas 10? Saat aku begitu kesal padamu yang pamer kemampuan, bergerak di sana-sini dengan menunjukan jurnalmu yang berisi coretan-coretan artsy-mu. Aku membatin, bah. pongah sekali gadis ini. Dan mungkin, secara tak sadar kamu menampikku.

Lalu dunia Sekolah Menengah Atas mulai membuka tabirnya yang berbeda dengan dunia sekolah menengah pertama, dan aku agak tertatih. Kelas 10, setahun lebih muda daripada individu di angkatan kita, aku mendapatkan perkara dalam ekstrakurikulerku. Dalam kepanitiaan. Dalam pertemanan. Aku benci sekolahku. Aku mau pindah. Aku tak punya sahabat. Tapi di dalam papa, aku malah semakin sering mengobrol denganmu, dimulai dari topik cuping yang tak penting, kemudian berlanjut hingga masalah-masalah kita yang serupa dan tak sama. Tunggu. Ada satu hal lagi. Ternyata di dalam problematika juga, kita selalu bisa menemukan zat-zat yang menolong kita untuk bangkit.

Sesederhana itu, kita menjadi dekat. Pembawaanmu yang ceria dan berpengetahuan luas membuat kita bisa leluasa berbicara. Kita sering bertengkar, sungguh, dan yang paling kuingat adalah saat kamu membeberkan warna pakaian dalamku di depan Seminaris (Sungguh, Tanaya, ini Seminaris. Dan mereka laki-laki. mereka akan, atau sepertinya akan, dikaruniai kaul hidup selibat. dan ini tentang pakaian dalamku yang kamu bicarakan. Aku perempuan. Wajar gak, kalau aku marah?! Hah.) dan aku meledak. Kamu kudiamkan sehari. Message-mu di Twitter kubalas dengan kata-kata yang agak lebai, dan kamu membalas "gue kira lo beda dari orang-orang yang nge-judge gue selama ini. cuma masalah kecil, bi, gue janji gak ngulangin." BAH. kemudian keesokan harinya, saat aku akan memulai sikap jutekku, aku luluh. Kita maafan. Dan aku berkata yang sejujurnya, kali ini lebih halus dan tertata, supaya kita tidak berantem-berantem lagi.

Kita belajar untuk mengingatkan satu sama lain. Aku, menjinakkan tingkahmu yang serampangan dan seenak pantat. Kamu, menjinakkan tingkahku yang bossy dan mudah lupa teman.

Kalau kujabarkan satu-satu, rasanya kisah kita akan panjang, bahkan lebih panjang dari kisahmu dengan kekasihmu (eh, maaf, udah punya belom ya?) atau kisahku dengan kekasih-kekasihku (perhatikan, itu kata benda yang ganda.). Intinya, satu hari menuju hari kasih sayang, aku mau menyampaikan padamu sesuatu.


Aku mau kamu tahu, saya selalu menganggap kamu gadis yang kuat. Gadis yang hebat. Telah banyak perjuanganmu melawan hambatan-hambatan di luar sana, telah banyak kamu bangkit dan mengolesi luka-lukamu sendiri tanpa bantuan orang lain. Kamu ingat saat pertama kali kamu membuka rahasia-mu? di situ yang menangis bukan kamu. Tapi aku. Aku malu selalu merasa lebih darimu, padahal kamu menyimpan sabar seluas entah-apa di dalam dirimu. Kamu yang selalu sayang keluargamu.


Kita pernah sama-sama berteori, rasanya lebih mudah menjadi orang yang fana dan tidak menganggap dunia itu susah, karena mereka tidak perlu repot-repot bersosialisasi. "Mengapa, sih, aku susah sekali diterima orang?" tanyamu waktu itu. Pertanyaan yang juga menghantuiku.

Aku tak punya pikiran filsuf. Tapi kamu harus yakin, kita dipersiapkan untuk sebuah dunia yang akan memahami dan menerima kita lebih daripada diri kita sendiri. Agamamu, Buddha, percaya hukum karma, dan aku sedikit sedikit juga mengadaptasi hukum karma. Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Entah ia akan agak tergopoh dalam prosesnya, yang penting ia bisa melahirkan sebuah pucuk yang mumpuni untuk berperan di semesta. Di dalam agamaku, ada sebuah surah: Al-Zalzalah. Ayat 7 dan 8:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang berbuat kejahatan seberat dzarrahpun niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. "

Yang harus kita lakukan sekarang cuma: sabar. berikan yang terbaik. fokus. integral--eh, integrasi dengan apa yang kita inginkan. Ujian adalah tamparan terbaik dalam proses menuju visi. Bila ada kegagalan (kamu mungkin tidak masuk ITB, atau nilaimu jelek, atau aku yang gagal dapat summa cum laude tahun ini), Tuhan telah membelokkan kita ke sebuah pencabangan yang brutal namun akan mengantar kita ke jalan utama dengan lebih dekat. Yang penting kita telah berusaha. Biar Tuhan yang bekerja melihat labirin nasib kita, kemudian memprogram apakah usaha kita sudah di tempatnya.


Smita, semangat ya. Aku tahu kamu akan jadi orang hebat. Dengan bakat melukismu, kecintaanmu pada humanisme, talenta-talentamu, kerianganmu, kekuatan fisik dan batin, bakat alamiah seorang Batak (HORAS!), kamu pasti bisa menjadi sesuatu. Kamu pasti akan menjadi orang yang ditaruh di dunia yang sudah dipersiapkan padamu. Yakin sama dirimu sendiri. Saya tau itu susah, tapi kita perlu percaya sama diri kita di saat Semesta sedang berpaling dari kita. (omong-omong, saya juga sedang berusaha percaya sama diri saya juga.)

Sukses untuk semuanya. Tetaplah menjadi Smita Tanaya, anak perempuan yang menyemai senyum. Jangan takut gagal. Kamu itu lebih.

Eh, dan Selamat hari kasih Sayang!
(Dan aku ogah lagi ya, menulis bahasa puitis ini untukmu, Bodat.)
Salam sayang,
Bia.

(our best photo! kita gak kayak lesbong, kok, nggak.)


Minggu, 01 Februari 2015

Yang Bikin Dingin Pas Ujan

1. https://soundcloud.com/nosstress/kita
aftertaste: pengen main becekan sama gebetan
2. https://www.youtube.com/watch?v=5jw8kPlaA2w
meliputi:
a. adithya sofyan: Adelaide Sky
aftertaste: "kamu lagi mikirin apa sih? pernah gak sesaaattt aja, aku singgah di pikiranmu?" eak galaw
b. agustin oendari: Selamat Pagi, Malam
aftertaste: kita gak sendiri, di balik ujan ada juga yang lagi ngeliat luar jendela nonton gerimis :)
3. https://soundcloud.com/aumdayu-1/la-vien-rose-ukulele-cover
aftertaste: mau bobok aja ah
4. https://soundcloud.com/wawankurni/efek-rumah-kaca-lagu-kesepian
aftertaste: yah ilah anjing sepi amat ni hati


selamat dengerin!