Sabtu, 25 April 2015

Gunung Papandayan 2661 mdpl (17-18 April)

            Papandayan telah mengajarkan saya banyak hal. Banyak sekali.

            Pertama-tama, halo teman! Udah lama gak post seputar pengalaman ya :)) Setelah berhibernasi dari udara ancala selama hampir … coba kita lihat, berapa bulan terentang antara Juli hingga April? Okay, 9 bulan—akhirnya saya kembali mencecap kemewahan udara bersih di gunung, dan gunung itu adala Papandayan :)

P A P A N D A Y A N

            Hari itu tanggal 17 April. Dua hari seusai UN. Saya, Dinta, Marissa, Kenny, Eka, Jose, Nono, Raka Hutomo, Raka Pranaya, dan Nono memang sudah merencanakan akan naik Papandayan sejak sebulan yang lalu. Dan, saya nekad. Walau Mama melarang saya naik gunung sebelum menunaikan SBMPTN dan Ujian Mandiri, saya sudah bandel menyiapkan segala hal untuk naik, dan baru mengabari di saat terakhir dengan surat singkat (yang mana, merupakan benang awal malapetaka nanti. Hehe)

            Maka berangkat lah kami ber-10 hari itu menggunakan Bus Primajasa dari Cililitan! Perjalanan cukup panjang sehingga bikin pantat saya pegel dan rada encok di bagian leher, belum lagi rasa laper karena lupa beli ganyeman, 5 Jam akhirnya mengantar kami ke Terminal Garut. Dan tanpa ba-bi-bu lagi (kecuali intermezzo kecil yang tolol: ada tukang dodol maksa nawarin dodol, nama dodolnya Dick. Nama. Dodolnya. Dick. DICK. Dodol kan panjang dan … oke, cukup lol.), kami segera turun, nyari charter-an angkot, dan yuhuuu! Kami meluncur menuju kaki Gunung Papandayan J

full cream in angkot


            Di kaki gunung, saya dan teman-teman yang lain sempet ke warteg untuk beli perbekalan dan makan siang yang sudah telat beberapa jam dari jam normal. Setelah re-packing, kami pun melanjutkan perjalanan dengan cara … NYARTER PICKUP! Wihi!

            Tapi, serius loh—saya paling suka naik pickup. Mungkin perasaan naik pickup akan tergantikan hanya dengan perasaan naik landrover HAHAHA. Mungkin rasanya 11 12 sama naik mobil hedona atap terbuka, dan waktu naik pickup saya bisa liat berbagai pemandangan, merasakan mountain breeze, sampe akhirnya saya berdiri khusus buat nyangklong di atep kabin (ceile kabin) depan, padahal jalannya ju gi ja gi jug.

            Singkat kata, setelah kita melewati gardu pendaftaran yang kayak pos satpam, dan membayar Rp 5000, kami pun dibawa pickup sebentar, terus berhenti, dan dari sana kami ke Camp David untuk pemanasan dan buang air.

            Nyampe Camp David, saya kaget.

            Kok…

            Rame banget …

Hehe, ternyata Papandayan sudah biasa ramai kalau hari Jumat. Tapi, menurut Eka, itu termasuk sepi, loh! Pengunjung Papandayan bisa membludak kalo emang lagi musimnya.

            Setelah pemanasan, akhirnya kami memutuskan untuk segera memulai perjalanan. Dan, wuoh, Bro, kita mulai jalan itu sekitar pukul 16.15 WIB. Tipis sekali waktu yang tersisa untuk mencapai tempat camping sebelum gelap meraja, tetapi saya toh mikir gak ada gunanya dipikirin dulu capeknya gimana, jadi ya sudah, jalani saja.

            Dan sekedar curhat sejenak, saya tuh benciiii banget sama kapasitas jasmani saya yang lemah banget kalau disuruh adaptasi.

            Jadi begini. Saya gak tau apa hukum dan teori ini berlaku di gunung dengan ketinggian yang tidak berlebihan seperti Papandayan, tapi sejak saya mendaki di Merbabu, lalu Papandayan, saya sudah menemukan kelemahan saya: yaitu menyesuaikan diri untuk pertama kali. Entah beradaptasi dengan kontur, suhu, ataupun sekedar keletihan yang leluasa merangsang. Kalau gak salah (berarti bener), nama penyesuaian ini aklimatisasi. Dan berarti, aklimatisasi saya itu lamaaaa banget. karena badan saya masih manja dibawa berjalan hingga kita sampai di kawah dengan kontur menanjak dan berbatu-batu.

            Dan imbasnya itu, lho, sangat tidak enak :” pertama, saya jadi ngerasa diri saya gak mampu untuk mencapai puncak. Kedua, saya malu karena “ini” cuman Papandayan. Ketiga, mata saya jadi kunang-kunang, napas saya putus-putus, dan kepala saya nyut-nyutan. Keempat, SAYA MULU YANG MINTA ISTIRAHAT! Saya kan malu, tapi saya juga inget di gunung gak boleh gengsi kalau kita gak mau membahayakan kelompok dan diri sendiri. Kalau capek, bilang. Eneg, bilang. Haus, bilang. Kangen pacar, bilang. Yeah, gak gitu juga.

            Karena hari juga semakin gelap, rute pendakian pun juga semakin sepi karena pendaki sudah gak boleh mendaki lebih dari jam lima lewat rute yang banyak kawah dan jackpot sulfuria binti belerangoso, saya pun jadi rada keki karena gak bisa berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Plus, sekalinya istirahat paling hanya bisa mandang sekeliling satu-dua menit, sisanya buat ngatur napas, lemesin jempol kaki, dan mimik air cucu. Air putih deng.

            Sudah begitu, gerimis turun rintik-rintik membasahi. Rindu, pelangiku datang lagi. Maaf, jadi nyanyi.Tapi, memang hujan waktu itu sempat menghambat sedikit. Tapi apa gunanya windbreaker dan ponco dan carrier cover kalau bukan untuk menghalau itu semua? J

            Intinya, setelah melewati jalur yang kawah kecil-kecilan (sebenarnya bukan kawah, tapi lebih seperti lubang-lubang umm kepundan (?) yang mengeluarkan mofet dan air belerang) di sisi kiri, jalur berbelok ke kanan, menuju jalan yang lebih hijau, dan pasir pun perlahan digantikan rerumputan. Alhamdulillah.

            Saya gak begitu ingat rute perjalanannya selain naik turun bukit yang berpohon dan bersemak-semak, tapi saya paling suka pas nyebrang sungai! SAYA SUKA BANGET SUNGAI OH TUHAAAAN, meskipun kaos kaki dan sepatu jadi basah dan becek serta dinginnya setengah mati, tapi saya suka aja gitu. Adem, seger, dan menantang. Ehehe, padahal hanya sungai kecil, ya?

            Skip lagi, pokoknya setelah perjalanan panjang dan hasrat untuk merebahkan tungkai dan pantat, KAMI SAMPAI DI PONDOK SALADAH! Saya dan kece langsung melihat langit kalau-kalau tempat kemah kami bisa menjadi spot untuk melihat bintang—namun naas, kemilau bintang rupanya tertutup mega mendung. Sedihnyaa.

            Jadi, akhirnya ketika para Adam mendirikan Lafuma (tenda), Dinta menyiapkan trangia dan nesting, saya dan Kenny matras, dan Marissa ransum. Setelah carrier pindah ke dalam tenda masing-masing, kami pun makaaan! Sempat sebal sedikit karena ransum yang dimasak Marissa hambar karena terlalu singkat untuk dijerang air panas dan rupanya banyak mecin, tapi kami sedikit terhibur karena nasi bungkus tadi cukup mengganjal perut J kami pun masak energen juga hot cocoa merk Delfi (ahaha hafal, saya paling suka ini soalnya), lalu berbincang-bincang sejenak.

            Fyi, kalian gak perlu khawatir kekurangan makanan di Pondok Saladah. Sudah ada dua warung yang siap memenuhi kebutuhan perut, di sana mereka jual gorengan: tahu isi, pisang, minuman sachet-an yang bisa diolah jadi seruputan hangat, bahkan kita bisa nyewa sendok :))
            Setelah makan dan bercapek-capek ria, akhirnya sleeping bag dan tenda yang hangat sudah memanggil-manggil untuk ditiduri. Saya menyerah pada kantuk dan malam itu Papandayan sedang dingin-dinginnya, meski tak sedingin yang biasanya (ADUH kalau dingin “Seperti biasanya” kayak apa ya? Buat temen-temen yang mau stay di Papandayan sampai malam, jangan lupa bawa baju hangat, ya. Windbreaker kalau perlu.), kemudian saya segera beringsut untuk bobok. Kemudian disusul yang lainnya.
            Usailah hari pertama.
.
.

Saya gak bisa tidur.

Pertama, saya kedinginan hingga gigi gemeletukan dan gak ada yang meluk saya. Uhuk, maaf, bukan kode.

Kedua, tenda kami ini persis diparkir (diparkir?!) di samping jalan masuk para pendaki yang mau singgah di Pondok Saladah, alhasil berisik banget! ada suara-suara pendaki yang ketawa-ketiwi (atau jangan-jangan itu bukan pendaki …), teriakan-teriakan, becandaan, bahkan sekali ada suara motor trail……… jangan heran ya, Gunung Papandayan sudah familier ditanjaki sama pengendara motor yang nekat-nekat itu.

Ketiga, saya nyesel matras saya, saya pinjamkan ke Nono. Punggung saya serasa diganjal :(

Pokoknya, saya jadi kebangun terus dan mimpi yang mengisi tidur saya itu aneh bin ajaib semua. Hingga pada akhirnya …

“WOI! Bangun, bangun! Liat bintang, sini! Bintangnya bagus banget!” tiba-tiba terdengar entah suara Jose atau Eka, yang penting saya yang pertama bangun di dalam tenda dan saya segera menyuruh Kece, Dinta, Marissa, untuk bangun.

Dan ketika saya keluar pintu tenda untuk melihat langit malam …

Ya. Tuhan. Subhanallah.

aslinya, jauh lebih cantik. :)


Bintangnya … cantik banget. Tuhan, saya gak pernah benar-benar bisa bersitatap sama Orion, Waluku, Scorpio, Ursa Mayor, Ursa Minor, Betelgeuse, Alfa Centauri, serta teman-temannya yang lain seperti kala itu. SAYA GAK PERNAH LIAT BINTANG SEBANYAK INIII DALAM WAKTU YANG LAMA. Bahkan, Subhanallah (saya bener-bener ngucapin ini berkali-kali, sampe mau nangis), saya bisa ngeliat Galaksi Bimasakti. Sekarang saya memahami mengapa rakyat Jawa Kuno melihat langit sebagai wahana pertempuran antara Bima dan sebuah Naga, karena jika kamu memasang mata lekat-lekat, kamu bisa melihat siluet Maha Naga, berjumbai surainya, sedang bergulat dengan sesosok selayak Bima yang tinggi besar dan brewok. Indah, indah, sekali. Saya melihat lengan Bimasakti yang berdebu dan ada di sisi timur laut.

Saya melihat bintang jatuh, atau meteor sebanyak tiga kali. Saya melihat petir pagi yang menggetarkan puncak-puncak yang gelap. Kalau gak gengsi, saya sudah nari-nari kayak orang gila di tengah-tengah Pondok Saladah. Gak kebayang kalau saya dibawa ke tempat yang jauh lebih mumpuni untuk lebih leluasa memandang bintang…

Pokoknya, hari itu saya menjadi Putri Langit. Puas ngeliatin bintang, nyoba nerka yang mana yang Orion, Scorpio, Pari, Biduk—hehehe. Tapi, karena leher pegal dan saya ingat kamera yang bisa digunakan untuk mengabadikan momen, saya gantian ngatur ISO dan shutter speed biar bisa moto, yeay! Habis itu saya bantuin Marissa masak mie, nyiapin makanan sebagai bekal untuk nanti pagi. Habis makan, kami beberes untuk melanjutkan perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 05.00 kurang sedikit.

Nah, di sinilah saya mulai ngerasa seru, dan aklimatisasi badan saya sudah full-loaded, CIHUY! Turun dari Pondok Saladah, medan yang menyambut langsung … huek, lumpur! Tapi asik banget, saya sampe ketawa-ketawa sendiri. Saya mencoba menerka yang mana lumpur yang gak dalem, tapi … saya kecele sekali, nyebur ke lumpur yang dalemnya di atas tumit! Sepatu yang saya pinjem dari Renata langsung berubah warna, dari abu-abu muda jadi coklat gelap. Ngakak.

TERUS ADA SUNGAI LAGI! Cuci-cuci sejenak, lalu jalanan rada menanjak menuju … entah apa itu tanjakan apa. Tapi saya pribadi menamakannya Tanjakan Jurik, karena hampir mirip tanjakan setan di Gunung Gede, bedanya gak ada rantai (Saya belum pernah ke sana sih), dan sombong dikit—saya gak jatoh sama sekali loh HAHAHA padahal keenan, cowok terjangkung yang ada di depan saya (saya urutan ketiga dari depan karena saya kelewat semangat mau ngeliat sunrise dari atas) matahin pohon dua kali dan bikin saya jantungan … malah Jose, yang jauh ada di belakang saya, katanya hampir terguling? Saya gak begitu ingat. Tapi saya agak nyesel kenapa harus buru-buru ngincer puncak, padahal udah tau gak keburu karena medannya makan banyak waktu, dan saya bukannya memerhatikan teman saya yang lain.

Tapi, the show must go on, pabila Ambo inda biso melihat mentari terbit di puncak, RANCAK BANA! Mari melihat dari Tanjakan Jurik. Sinar matahari menerabas bahareksa yang dihiasi daun-daun, dan … saya terhenyak. Kalau kalian pernah liat pemandangan dua gunung mengapit jalan di tengah, awan-awan gelap semacam cumulus kelabu dan halimun tipis yang berbayang, serta berkas-berkas surya yang mengintip dari balik awan, nah itu dia pemandangannya. Tapi mungkin lebih keren, ya? Dan hari itu, saya berganti lagi menjadi Putri Matahari Terbit. Hehehe.

saya gak sempet atur focusnya karena gak pake autofocus. namun, begini lah warna langitnya


Akhirnya kita sampai puncak! Kata Eka, sih, kita anak Gonz yang pertama sampai di puncak itu. Karena kita gak tau apa namanya dan emang gaada plang nama, kami namain puncaknya: Puncak Cang Cimeng. Bukan karena kita bawa cimeng, loh, ya! Tapi tetua suku kami, Agustinus Eka yang nyampe paling awal, dan nama Morespiiip dia tuh Cangcimeng, jadi yaudah, deh :p

Aslinya pas di gunung ga secantik ini kok. (Bia & Kenny)

mataharinya udah segini pas kita sampe di puncak :(

Sahabat: naik gunung bersama (Marissa & Dinta)


Dari puncak … setelah mengambil foto persahabatan, kami turun menuju: TEGAL ALUN!

kenangan genangan

seperti Edelweiss, cinta abadi

Upil di dalam genangan (Raka)

Gusti Nur Asla Shabia, 16 tahun.

Tegal Aluuun! 


Nah, kalau Soe Hok Gie begitu terpukau sama Mandalawangi, saya terpukau sama Tegal Alun. Padahal saya udah pernah melihat Sabana di Merbabu, tapi … gak tau, hati saya tertawan di Tegal Alun. Semak-semak popcorn yang ada runjung edelweiss-nya, genangan air menyerupai danau yang langsung saya cemplungin bareng temen-temen, padangnya yang luaaaas, dan warnanya yang biru, hijau, coklat—saya cinta Tegal Alun, deh J

Teruuuss, lanjut aja ya. Dari Tegal Alun, kami menanjak kembali untuk turun ke arah Hutan Mati yang sangat terkenal itu. Senangnya, saya turun dengan menggunakan teknik lari menclak-menclok sana-sini ala-ala pendaki. DAN SAYA LANCAR, gak kayak pas Merbabu yang teguling 10 kali sampe pantat kargo saya bolong…

Hutan Mati juga gaada dua-nya deh, saya suka a a a a banget kalo kabut lagi turun dan membuat saya merasa seakan terperangkap di Dead Forestnya Snow White and The Huntsman, ngerasa kayak Kristen Stewart (bah, padahal muke 11 12 ama Ronaldowati). Jadi, hutan ini jadi ‘mati’ begini karena letusan Papandayan dulu, gais :3

yang biasa bertanya pada rumput
kini harus mendesahkan bisik pada batang yang tersaput kabut


Danau Kecil di Hutan Mati


Nah, karena perjanjian di antara kita semua itu mau foto pake putih abu-abu di Gunung Papandayan, kita pun mencari spot kewl di Hutan Mati itu. Daaaan pilihan jatuh pada spot di danau kecil yang ada di atas Hutan Mati, tepatnya di pinggir kawah. Di situlah kami foto-foto dan bersantai sejenak, dan hasil fotonya bagus-bagus!

ki-ka: Nono, Bia, Kenny, Eka, Dinta, Jose, Keenan, RakHut/Upil

boys before flower #ngakak

girls generation (kenapa laki difoto dr belakang kita dr depan yah?)


Dari Hutan Mati, kami pun bersiap untuk pulang. Nah, buat teman-teman yang tertarik buat mendaki Papandayan dan menganggap mendakinya itu mudah, tidak demikian dengan turunnya. Turunnya cuapek banget bro, kaki pegel dan kerikilnya gak bisa membendung langkah kita, akhirnya saya terperosok berkali-kali. Sudah itu, saya kedapetan apes. Entah kenapa saya dapet apes, mungkin karena saya gak sengaja ngomong sembarangan di atas, ya? Atau mungkin karena untuk mendaki Gunung Papandayan saya harus bohong dulu sama Mama, jadi karma?



Jadi…

Jaket yang saya pinjam itu ketinggalan di pinggir kawah, ketika kami semua lagi istirahat. Itu jaket kalau gak salah saya iket di pinggang, dan mungkin tanpa sadar saya buka iketannya atau terlepas dari pinggang, intinya, mungkin sudah gak terikat di pinggang saya lagi. Ditambah, saya ditinggal temen-temen karena saya lelet, jadi saya panik. Saya tolol sih, kalo panik jadi gak teliti. Dan gak ngecek sekeliling saya. Ya sudah.

Dan gunung ini memang baik. Saya yang biasanya jarang jatuh atau kepleset, pas abis istirahat di pinggir kawah itu kepleset terus sampai terkilir, dan saya udah berfirasat “Wah, ada yang gak bener nih.” Benar saja, pas sudah sampai di akhir jalur berbatu, saya baru sadar jaketnya ketinggalan. Kelak di Jakarta nanti, saya akan sangat menyesal menyadari sangat berharganya jaket itu dan berapa nominal harga yang menuntut saya untuk bekerja keras menggantinya.

Tetua suku kita, Agustinus Eka!


Jadi, intinya, Papandayan tuh mendewasakan saya banget. saya cinta sekali Papandayan: saya suka “wahana-wahana” yang Ia sajikan: kawah yang eksotik sama selang-seling warna pasir dan putih, anak-anak sungai, bau belerang yang khas, kubah bintang di Pondok Saladah, lumpur hisap, Tanjakan Jurik, Puncak Cangcimeng, Tegal Alun, Hutan Mati.

Ia juga yang berpesan sama saya untuk lebih menjaga serta menghargai barang, tidak sembakur, serta selalu jujur meminta restu dari orangtua :)

maka dari itu, saya persembahkan, sebuah puisi tentang Papandayan

 Papandayan

pada benakmu yang terjal, ketika bahu bersikeras menggelincirkan kerikil
kawah tak hentinya terbatuk. halimun turun dengan mengantuk
kamu di sana, dengan gagahnya
ada seratus pendaki mau mencuci muka

kasihku telah bergumpal di Tegal Alun
saat bayu tak ubahnya rintih yang mengalun
serta sebaris batang mati yang menjelma menjadi hutan
di setiap celahnya, tumbuh susah payah sekwatrin pelajaran

terima kasih sudah membaca :)


Jumat, 03 April 2015

Puisi dari Mereka (yang saya simpan)

Spasi
oleh Dee Lestari

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Jangan Lagi Engkau Berdiri
oleh Goenawan Muhammad

Jangan lagi Engkau berdiri
di jendela-jendela sunyi & kelam kali 
jangan lagi engkau tak mengerti
Sajak apakah yang tinggal sendiri

Sajak yang ada mendengar bumi, bumi yang letih
Sajak ada yang mendengar hidup, hidup yang menagih
Sajak ada yang melihat abad, abad yang bersih
Bagaikan bulan yang timbul: memutih putih

(1963)

Rupanya Kita
oleh Sapardi Djoko Damono

Rupanya kita yang harus menjawab
suara itu. Tetapi bukankah hanya suara dingin
yang bergoyang di bawah lindap langit
bukankah hanya selembar daun yang putus, ke bumi

Bukankah hanya nafas kita sendiri. Rupanya kita
yang masih harus menyebut sebuah nama
di suatu tempat pada suatu waktu
tetapi adakah kita kenal bahasa itu

(sebuah kutipan dari Salwa, kepada Amba)
oleh Laksmi Pamuntjak

Ada sesuatu padamu, pada wanita dewasa & kanak-kanak dalam dirimu, pada mata dan mulutmu, yang sedarimula kutahu cepat meradang tapi juga menyimpan keindahan. 
Kau membuatku merasa berguna. Dan karena itulah aku merasa aman bersamamu.

Kwatrin
oleh Sapardi Djoko Damono

Semalam suntuk suara nafasmu merayap di dinding lalu terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau bangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu.
Kau buka jendela
Cahaya matahari meloncat ke dalam dan nampak olehmu seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai menjelma semacam gas namun kau masih dengar engahnya mendaki
Berkas-berkas sinar matahari

(kutipan dari seorang malaikat kepada Rehan Raujana)
oleh Tere Liye

Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya. 



... puisi selalu menyajikan tempat untuk berefleksi, di saat kita butuh untuk mengubur diri, atau sekedar terbenam dalam hiburan sunyi. :)


Jumat, 27 Maret 2015

Teruntuk Pengunjung yang Suka Foto Cantik di Pameran Seni

Dearest visitors who really excited to take some photos at Galeri Nasional, could I throw something to your face or hit your camera with a heavy thing?

Oke, saya gak se hardcore itu. But still, I feel my exasperated running through my vein lagi pas nulis ini, mengingat pengalaman saya beberapa hari yang lalu yang diganggu sama anak-anak eek yang demen foto-foto di musiyum.

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya iseng ngunjungin Galeri Nasional lagi. Saya pernah bilang di Art Report saya tentang Aku Diponegoro yang saya belom post ke blog ini, bahwa Gal-Nas tidak seperawan dulu lagi. Maksud saya, sekarang sudah diminati banyak pengunjung. Oke, saya senang. Artinya sekarang museum memiliki daya tarik yang magnetis bagi khalayak. Namun, kebahagiaan saya berujung ke kejengkelan, karena eh karena SEBAGIAN BESAR PENGUNJUNG NGUNJUNGIN GALNAS CUMAN UNTUK FOTO-FOTO HITS.

Saya waktu itu ke pameran lukisan India. Saya lagi ngamatin karya, eh muncul suara-suara. Tadinya pelan, terus tambah keras, tambah keras, berdengung, tambah banyak, eh bahkan sampe teriak (!!?!!!?!), saya iseng nengok ternyata mereka lagi……

Foto-foto.

Dalam jumlah rombongan.

Ya udah saya iseng saya matiin lampu ruang pamer. Eh dijudesin.

Dan sebenarnya ini tidak terjadi sekali saja. Rata-rata pengunjung dengan “kategori” seperti ini berisik, bersuara toa, banyak omong, berfoto dalam rombongan, ngalangin saya dan beberapa teman buat melihat barang yang dipajang, dan berisik—oke, tadi udah disebut ya? Tapi mereka memang berisik banget, dan itu masalahnya :))

Hm, no offense, saya gak pernah bilang foto-foto di dalam museum itu sesuatu yang tabu, kok. Saya pun selalu menyempatkan foto di salah satu barang pamer, atau minimal foto karya-nya. Beberapa barang yang dipamerkan memang selalu jadi spot foto menarik yang perlu kita jadikan objek estetis komparatif di foto kita. Tapi, coy, berfoto-foto di museum kan tetap ada etikanyaaa??

Pertama, mengutip dari KBBI:
Museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan , dan kesenangan.

Oke, katakanlah Galeri Nasional bukanlah museum. Tapi, sebagian besar barang yang dipamerkan di Galeri Nasional adalah barang-barang pameran dan karya seni dan koleksi dari suatu lembaga yang mirip museum. Intinya, mengandung sesuatu untuk dipelajari. Dan memang, museum ada untuk memuaskan hasrat akan edukasi.

JADI, GAIIISSS, plis. Bagi teman-teman yang suka mengunjungi Galeri Nasional atau museum atau tempat pameran dan galeri seni lainnya untuk berfoto-foto, jangan datang ke museum deh. Minimal, bisa kan, selipin secuil tekad ke hati kalian buat belajar sesuatu? Sebelum berfoto-foto, coba deh tengok sebentar apa makna barang koleksi yang ini, apa pesan terselubung karya pamer yang itu, terus baru foto-foto. Karena yang pertama, kalian menghargai tujuan dari pameran, bahkan seniman yang memamerkan barang koleksinya. Yang kedua, dengan kayak gitu, kalian membawa pulang ilmu baru, bukan hanya foto baru yang bisa dipajang di medsos.

Plus, kalaupun memang pengen foto-foto, usahakanlah jangan mengganggu pengunjung lain yang memang bertujuan untuk melihat pameran dalam rangka memuaskan keingintahuan mereka akan karya seni dan ilmu pengetahuan. Jangan berisik. Jangan memblok pandangan orang yang sedang mengamati karya yang dipamerkan. Usahakan jangan foto pake flash. Kalau datang dalam jumlah rombongan, pilih waktu yang sepi, jadi orang-orang gak perlu risih minggir oleh jumlah kalian. Ketahuilah teman-teman, untuk menelaah karya seni, dibutuhkan semacam ketenangan biar bisa mencerna, dan mendapatkan estetika-nya. Jadi, tolong hargai.

Saya jadi kangen Galeri Nasional yang dulu, yang sepi, yang dingin, dimana saya bisa eksplorasi sepuasnya tanpa ada ketawa cekikikan atau “ulangin dong fotonya” atau “ihh gue masih kurang cantik” dll. Kesel gak sih lagi berusaha menemukan makna dari gambar tentang perbudakan, udah hampir nemu artinya secara keseluruhan, tiba-tiba buyar semua gara-gara ada suara cukup keras dan manja, “IHHH ULANGIN LAGI DONGGG, TADI GAK KECE POSE GUE” ya ampun… rasanya itu…

Maaf untuk memakai Galeri Nasional sebagai contoh, tapi karena saya sudah merasa Galeri Nasional sebagai rumah saya karena saya sering ke sini dan pamerannya selalu bagus-bagus, plus Galnas jauh dari rumah asli saya di Jakarta Selatan, saya merasa empet banget kalo gak bisa nikmatin pameran secara optimal karena pengunjung penggila foto yang kurang beretika, seperti contoh di paragraf lima.

ini aja gue take di TIM dan waktu itu gaada pengunjung sama sekali.


Jadi, siapa yang ngelarang foto-foto di galeri seni atau museum? Cuman ingat, sebelum foto, apa makna museum dan pameran sebenarnya, dan sadarlah bahwa ada pengunjung lain yang datang bukan untuk menikmati foto kalian, tapi pamerannya :) #saveRuangPublik





Rabu, 18 Maret 2015

ra.suk

Padamu ada sebuah jiwa yang matang
tapi ada seselip kanak-kanak, bukankah ia juga meraja?
kamu tak tahu apa atau siapa yang kamu lawan
jauh di dalam diri. berwujudkah?
atau ia hablur dan sekedar ilusi semata

kamu
tombak
ujung tombak.
pertama impian insan harapan
kamu
ditakdirkan untuk mengalah.
dan memang harus mengalah
tapi kadang kamu merasa kalah
(atau memang selalu kalah)

sebab padamu ada sebuah kanak-kanak, kan?
tapi bukankah
b u k a n k a h
di setiap kanak-kanak
ada sebuah lugu yang imbang
lagu yang sumbang
(tapi nyata. pun tulus.)
yang kamu bisa hidupi sebesar rimba
dalam hadapi belantara

kamu.
tombak.
yang me.ra.suk.
ke jiwa-jiwa tersayang yang seolah busuk.
(bagimu. b u s u k.)




Selasa, 17 Maret 2015

awallun


Al-Zalzalah 7 - 8

&

Al Insyirah

&

karena itulah yang saya yakini.

Rabu, 04 Maret 2015

Exhibition Report: EXTENSIVE – THE OTHER SIDE, Salihara

So one week ago, I was waiting S11 in front of my school after practical test that made my day became sucks, and I was searching some solution to refresh my mood.

Then suddenly this great idea came to me. I decided to bring my feet to Salihara, as I remember there is one exhibition and still available to visit. And I was right, Salihara seemed so lonely that afternoon; the display room was tedious and there’s no one but me (and also the caretaker) in that exhibition. But I like it tho, because I can enjoy and explore the masterpiece of the artist by myself alone.

(Okay. Enough for writing so much of English phrases right here. I was prepared for speaking examination when I wrote this article too.)

---

Jadi tepatnya hari Rabu, tanggal 26 Februari 2015 berdirilah saya di ruang pameran Salihara. Untuk yang belum tahu Salihara, Salihara adalah sebuah komunitas dimana sering diadakan pertemuan, pameran, pentas, konser, teater, workshop, dan lain-lainnya yang berbau-bau seni, filosofis, politik, pokoknya sesuatu yang for instance bisa dipelajarin sama orang-orang ‘kaya’. Bagi yang tertarik untuk mengunjungi, ini website resminya:


Dan ini keempat kalinya saya mengunjungi Salihara (yang hanya buat ambil brosur dan cuci-cuci mata gak termasuk, ya.) setelah melihat-lihat pameran Asian Pop Culture, terus nonton Australian Dance Theater, dan ngeliat pamerannya Mas Erik Prasetya yang Estetika Banal. Dan beruntungnya, meskipun pameran yang ini tergolong kecil dari jumlah materi pamerannya (hanya lukisan berupa layar hitam yang guede, 3D Arts, documentary film, dan philosophy thing yang akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah), saya cukup menikmatinya karena saya sukaaaa sekali dengan beberapa materi yang dipamerkan. Baik gimana pun, mau sejelek apapun, seni selalu memanjakan mata saya, sih. Hehe.

Dikutip dari handbook Salihara yang saya dapatkan secara cuma-cuma dari rak informasinya:



EXHIBITION OF WOMEN ARTIST’ WORKS: EXTENSIVE – THE OTHER SIDE
Seniman/Artist: Gitte Saetre, Mona Nordaas, Ingeborg Annie Lindahl, Annie Knutsen.
Kurator/Curator: KJeel-Erik Ruud
In Bahasa Indonesia:
Extensive – The Other Side menampilkan karya-karya empat seniman perempuan Norwegia kontemporer. Inilah karya-karya dari sebuah negeri yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan garis pantai yang panjang. Ada semacam “isolasi artistic” yang membuat karya-karya mereka menarik. Ada isu global, di samping soal-soal lokal yang diprotet dengan kepekaan artistic sang seminal yang khas.
            Ingeborg Annie Lindahl misalknya, lewat perspektif mata burung menampilkan lanskap gunung api dalam rupa goresan kapur tulis hitam. Sementara Mona Nordaas mengangkat kembali konsep “metamorphosis” dengan mendefinisikan kembali sampah dari kehidupan sehari-hari sebagai karya seni.
            Gitte Saetre menampilkan video performance tentang pekerjaan “membersihkan” yang memiliki pesan politik yang sangat kuat dan menantang keterlibatan pemirsa. Adapun Anne Knutsen berbicara tentang pertanian oleh perubahan iklim..
In English:
            Extensive – The Other Side exhibits artwork from four contemporary Norwegian women artist. These artworks come from a country surrounded by high mountains and long coastlines. There is a kind of “Artistic isolation” that makes their artworks very interesting. There are global issues, besides the local contents, portrayed with the distinctive artistic sensitivity of the artist.
            Ingeborg Annie Lindahl, for instance, through bird’s eye perspective, exhibits a volcanic mountain landscape using white chalk on blackboards. Meanwhile, Mona Nordaas re-highlights the concept of “metamorphosis” by redefining everyday rubbish as artworks.
            Gitta Saetre screens a performance video about a “cleaning” job that conveys a strong political message and challenges the viewers involvement. Meanwhile, Anne Knutsen reflects on how agriculture is under the threat of climate change.
(I disclaim for the content. Copyright belongs to Salihara.)

Karena pameran ini berlangsung dari 7 Februari hingga 28 Februari, saya termasuk datang di saat-saat terakhir, dan saya bersyukur karena menyempatkan diri untuk bertandang sejenak, karena pamerannya worth it!

Memasuki ruang pameran, mungkin karena saya selalu tertarik dengan benda-benda berwarna gelap atau karena pemandangan yang langsung menyita perhatian saya adalah dinding, hingga mata saya langsung tertuju ke layar hitam yang dibentangkan dari kanan ke kiri (ruang pameran Salihara berbentuk lingkaran) dengan lukisan kapur berwarna putih di atasnya. Apa istilah Indonesia untuk breathtaking? Oh, ya, kehabisan napas. Saya sempat nyesek ngeliat lukisannya (ini gak lebay, lho), karena keren, monokrom gitu!

(gambar letusan cuekin muka gue )
(cuekin muka gue lagi yha. pra letusan)

 Impresi pertama saya adalah: wah, mega sekali lukisannya, perspektifnya bagus banget untuk mengeksplor sisi filosofis gunung. Ternyata bener juga, saat saya baca keterangan lebih lanjut, ternyata lukisan gunung dari kapur itu memang punya arti filosofis dan dilihat dari sisi pandang burung sebagai makhluk “bebas”.  

Usut punya usut, lukisan ini adalah karya masterpiece dari: Ingeborg Annie Lindahl! Dari kiri ke kanan, lukisan pertama adalah lukisan gunung yang mungkin bertipe strato—seperti kebanyakan gunung di Indonesia. Kelihatan pasif. Lalu gunung kedua, yang kini gunung itu disandingi dengan gunung lain jadi mungkin bisa disebut pegunungan, bentuknya masih strato. Memasuki gunung ketiga, gunung yang masih terlihat pasif, tetapi bentuknya sudah perisai (seperti Gunung Bromo). Lalu gunung keempat, perspektif mulai berubah. Gunungnya menampakkan ciri-ciri aktif: asap yang pekat. Mungkin itu pra-erupsi atau ketika erupsi, karena tampak wedhus gembel yang bergumpal-gumpal. Gunung keempat, menampakkan semburan lahar ke atas langit. Gunung kelima, gunungnya sudah jinak kembali. Saya mendapatkan gambaran umum kalau gunung terakhir itu pemandangan di Norway, yaitu berupa kawah. Tapi Faris (yang pada hari kedua ikut sama saya), menyuarakan pikirannya bahwa lukisan itu terlihat seperti Danau Sagara Anakan di Rinjani, Lombok.

Keren sekali, ya, mbak Lindahl ini. Ia memaparkan, lukisan ciptaannya itu menekankan pada proses pelukisannya yang nggak permanen. ia memilih bentuk gunung sebagai metafora dari suatu hal yang sering dieksploitasi orang namun pada kenyataannya tidak permanen dan bisa meledak pada suatu saat. Setelah saya ngekepoin biografinya di internet pun, saya tahu Lindahl sudah berkutat dengan kapur dan layar hitam hampir lama, dan ia nyaris menggambar bentuk-bentuk pemandangan atau kontur alam untuk berfilosofi.

Dari persepsi saya sendiri, saya menganggap bahwa lukisan Annie Lindahl menggambarkan suatu proses. Bagaimana mulanya alam adalah sosok yang megah dan mudah dieksploitasi, dan terkadang terlihat seperti subjek yang dikontrol manusia, padahal pada kenyataannya adalah, mereka adalah objek yang mengontrol manusia. Fisis determinis. Lalu bagaimana sesuatu yang kelihatan permanen seperti gunung sebenarnya tidak permanen dan cenderung bisa menimbulkan letusan. Namun dari letusan itu, fenomena-fenomena kenampakan alam bisa terbentuk. Mungkin dari sudut pandang geografi, lukisan ini adalah penggambaran sempurna dari siklus vulkanisme—melahirkan danau, lahar, kawah, dll. Dari sudut pandang sosiologi, sebuah re-integrasi dari konflik. Sudut pandang filosofis, seperti yang saya paparkan di atas. Belum lagi sudut pandang ideologis dan politik. Seni adalah sebuah equivocal—saya telah belajar bahwa mereka mengapproach audience dan menimbulkan arti yang berbeda-beda.

tasnya berlalu sebagai pot btw

Kemudian setelah puas menikmati dinding, mata saya bergerak ke sayap tenggara, di mana ada sebuah backpack lusuh, isinya ada ranting tanaman yang meranggas. Ini adalah karya metaforik dari Anne Knutsen “A Traveler and His Tree”. Pesan yang saya tangkap dari sebuah representasi ini adalah: bagaimana seseorang harus membawa warisan “keluarga” (yang ternyata barulah saya tahu “keluarga” itu adalah negara) di beban di punggungnya dalam rangka melakukan perjalanan hidupnya. Jadi dia kayak semacam (saya pake istilah kasar) multitasking, sambil berusaha untuk menemukan hidup dirinya sendiri, dia juga membawa beban tanggung jawabnya. Gitu. He carry the duty with him on his shoulder; a backpack full of apples, parents, grandparents, great-grandparents, expectation, and tradition. It more like showing the metaphor of our duty as young generation to our ‘country’, ‘family’.



Terus, di samping backpack tersebut ada—lima I-Pad! Halah, mental kere saya langsung muncul berasa mau ngambil (nggak deng). I-Pad tersebut menampilkan video eksklusif karya Gitte Saetre, lima-limanya meaningful and contain politic aspects. Yang pertama, Woman Cleaning Final Destination. Kedua, Woman Cleaning a Tank took place at Israel, Woman Cleaning (lupa, tentang bersihin shameness, maybe? Ah.) Terus Woman Cleaning European History, dan terakhir Woman Cleaning Nation Identity. Mungkin karena basic saya menikmati karya seni yang tradisional dan saya gak terlalu dalemin dokumenter, saya jadi gak terlalu keambil hati yha. Tapi saya paling suka Woman Cleaning yang saya lupa namanya , isinya tentang dia gak nyambut kedatengan Dalai Lama, karena terlalu sibuk membersihkan negaranya. Keren ya :”) dia juga sempet bikin short film ini di Indonesia, tepatnya di TPA (prediksi saya Bantar Gebang) jyang udulnya Woman Cleaning Final Destination. Itu keren juga (lebih karena saya subjektif seneng negaranya dijadiin latar seni wuakaka).

Puas ngeliat film dokumenter, sebenernya saya langsung girang karena juga akan memfokuskan perhatian ke sesuatu yang sudah menarik perhatian saya sejak awal, hampir berbarengan dengan karya Lindahl, tapi saya memutuskan untuk menikmatinya terakhir. Dan karya itu adalah:



Nih dibold: Phyllotaxis, 2015 oleh Mona Nordaas! Keren. Banget.

Woke, jadi according to the term, Phyllotaxis adalah: “suatu susunan biologis yang sering didapati dari struktur daun, batang, atau sesuatu yang memiliki range yang pasti”.

Dan ya, karya Mona Nordaas ini berpola filotaksis. Setelah saya gugling, phyllotaxis pun sering didapati di tumbuh-tumbuhan dan selalu memiliki sudut yang sama dari berbagai angle, makanya dia disebut divergence angle. Phyllotaxis ini rumit, mengandung barisan Fibonacci, ribet HEHE.

ini yang berwarna biru!
ini yang berwarna merah: lihat! ada kartu, ada foto bekas pameran, terus tutup botol, stiker, koin, dll

nun jauh di sana, ada kuning. Kreatif kan, bahkan roda sama selang bekas AC saja bisa diolah! Ckck.


Yang menarik bagi saya adalah karya ini: WARNA-WARNI BANGET! Luchuk! Eye catching, dan blinky. Jadi seniman perempuan ini “memetamorfosiskan” barang-barang remeh temeh dan barang-barang bekas menjadi mahakarya 3D seperti ini. Mbak Nordaas cerdas loh, bukan hanya sembarang nyusun-nyusun barang, ia mengurutkannya jadi sebuah gambar lambang yang warna-warni, merah kuning hijau biru hitam putih coklat dll sbgnya. Semua barang bisa dipake, mulai dari koin, foto-foto bekas, hasil print, kartu (saya sampe pengen ngambil kartu tarot yang masih bagus banget hiks), dll sebagainya. Yang juga menarik, Mona Nordaas  ini dalam semua karya serupa menaruh semacam benda poros di tengah-tengah lambang. Seru ya :D saya jadi pengen nerapin ini di rumah, tapi pasti Mama saya langsung berubah jadi Eyang Sapu Jagad gatel pengen membenahi, hihi.

Agak susah berfilosofi dan menafsirkan arti karya 3D art ini, karena sang seniman sendiri juga mengartikan karya dia sebagai sesuatu yang sederhana, cuman “metamorfosa”. Tadinya saya mikir tiap fragmen beda warna ada artinya, tapi nggak juga. Selain nyeni, ternyata karya seperti ini bisa menjadi gerakan yang menyelamatkan lingkungan loh, yaitu Recycle. Wow. By putting together the most ordinary thing into something beautiful, to give the viewer of the artwork the opportunity to see things with a new look.

Maka sudah itu, habislah sudah hal-hal yang bisa saya eksplor lagi. Saya pun jalan ke pintu keluar untuk pulang, tapi perasaan yang sama selalu mendera saya di detik-detik terakhir. Kalau sehabis mengunjungi pameran seni, hati saya tuh gatal pengen berbagi pikiran sama orang biasa, orang ahli, atau bahkan mungkin senimannya sekalian mengenai interpretasi mereka terhadap karya seni yang dipamerkan. Tapi, hingga kini, setelah sepuluh (iya, Alhamdulilah, udah sampe angka 10 nih kunjungannya) saya ngunjungin pameran seni, saya belum bener-bener ketemu orang yang bisa jelasin apa makna seluruh karya yang dipamerkan, padahal saya pengen bangeeeet L

Satu hal, meskipun saya ngerasa gak terlalu pantes untuk komen, semoga buat pameran selanjutnya, Salihara agak ngasih pengaman untuk display materinya, karena karya 3D Arts itu gak ada pengaman, bok, gimana kalo yang ngunjungin itu pengunjung gak bertanggung jawab dan mau ngambil kartu tarot itu seperti hasrat klepto saya? HEHE. Sayang banget kalo sampai barang hilang. :)

Sukses deh Salihara buat ke depannya, semoga saya masih bisa terus meelanglangbuana di dalem galeri-nya!


(photos credit to A. Faris, one of amazing photographer and boyfie i've ever had, yeay!
Terima kasih, pobs.)

cheers,
Bia.