Sabtu, 24 Februari 2018

Sampai Jumpa Lagi :)

teman-teman,

setelah melewati beberapa pertimbangan ... aku memutuskan untuk angkat kaki dari blog ini. aku tak tahu apakah aku akan kembali dan menulis di blog yang telah berproses bersamaku sejak lama, tapi aku merasa ruangku sudah tidak terlalu lengang lagi di sini.

oh, ya, aku akan tetap mengembara, aku masih akan menulis, tapi bumi tempat tulisanku berpijak akan berpindah. ke sebuah tempat di mana aku bisa lebih mengonstruksi, merekonstruksi, dan mendekonstruksi banyak hal.

sulit bagiku untuk pindah dari blog ini, apalagi blog ini telah ada seiring dengan pendewasaan yang aku dapatkan setiap harinya. blog ini lebih berharga dari arsip yang saat ini ada di kamarku, karena apa yang ada di blog ini telah dilanggengkan oleh kode-kode yang ada secara virtual. di blog ini lah aku mencurahkan isi hatiku yang terdalam, di blog ini lah aku menguatkan orang-orang yang ada di sekitarku, baik yang kutahu dan yang tak kutahu, dan demikian sebaliknya -- di dalam blog ini aku dikuatkan kehadiran orang-orang yang mungkin memiliki perasaan yang beresonansi dengan apa yang ada di dalam raga dan jiwa ini.

tapi ini keputusanku.
ada hal-hal yang memang harus ditinggalkan.
aku akan pergi, mungkin untuk kembali, mungkin juga tidak. aku akan tetap menulis di tempat lain, dan bagi teman-teman yang masih mau membaca tulisanku, teman-teman bisa langsung menyapaku di salah satu media sosial atau di emailku (shabia.oikonnea@gmail.com)


terima kasih takkan cukup, kalian adalah salah satu dari banyak hal yang membuatku tetap yakin untuk menulis dan untuk hidup.
aku sayang kalian semua...

Jumat, 23 Februari 2018

Kita Akan Terus Hidup



kita akan terus hidup
di sela-sela pertentangan
yang tiba-tiba merebak pada bangun di pagi hari

dan pada
sekujur tubuh
yang bergetar
atas kegelisahan

di dalam botol;
kita akan terus hidup
bergelimpangan bersama obat depresan

kita  akan terus hidup
dalam pikir-pikir sulit
dalam kata-kata semu
dalam lakon-lakon fana
dalam senyum-senyum paksa
dalam sedih yang dipaksa tiada

kita akan terus hidup
dalam senyawa bernama Semesta
yang mungkin tak diyakini nihilis
atau labelis lain yang punya ideologi
tapi kita, mereka,
akan terus hidup
dalam cangkang masing-masing
dalam skenario masing-masing

kita akan terus hidup
dalam sesat pikir
dalam syaraf-syaraf
yang selalu berisik, membisikkan:
kita akan terus hidup dan mati di dalam tapi kehidupan adalah persoalan menciptakan kematian menjadi sebuah perjalanan yang tak sia-sia belakangan ....

Rabu, 21 Februari 2018

Contemplation (1)

It's funny how our definition of success and satisfaction is constantly changing.

Three years ago, I nearly had everything. Supportive family, endearing boyfriend, many friends, and a bunch of business at some organizations -- still I felt unfulfilled. Perhaps, the main reason of this dissatisfaction is because I had a lack of believing myself. Other things are a combination of overthinking habits that I kept whenever I isolated myself from other people, I had no gratitude for things that had been given by The Universe at that time, I tend to compare myself with everyone particularly my beloved one, and I didn't appreciate things that has surrounded me. Therefore, without strong psychological basis inside myself, I'd always had these problems buzzing inside my head. I felt tired. Unfulfilled. I blamed The Universe. I easily got tempered and threw this emotion to people whom I loved. I knew that was wrong. But I couldn't help myself. No one could. No one knew what happened inside myself, neither did I. (It's a very long story, and I barely know two years after that this constant sadness and anger was a result of sudden change and new expectation)

Then I set new goals: I have to fulfill myself first, overcoming my psychological issues, enriching myself from inside ... and more appreciating people in my circumstances.

I reach these goals when I lost my boyfriend. From a girl who didn't have a fundamental foundation inside herself, had a tendency to blame people around her, yet still denying their naive traits -- I turned to be this calm, sad, purposeful, contemplating-face girl who always trying to see herself first before stressing the problems in others' self.

But new problems started to make new shape: I still had many businesses, still had many friends, people trusted me, I've built this strong base inside myself... yet I had to sacrifice my romantic feelings and encountered much of devastating self-reflection. This happened two years ago.

In the end of this period, when I've stabilized my love life, pursued my career life and my short-term goals, I couldn't maintain my best friends and I lost my grip on them. Many people considered me too busy and couldn't prioritize them in my life. They felt Bia doesn't need them and cannot appreciate their presence, always ignored their chats and only contacted them whenever she needs them, and that's why Bia is not too worth to befriended. That's why they should avoiding me.

Then I set new goals: I need to get my friends' trust back, I ought to learn how to maintain best friends and I have to convince them that I really love them not only by hypocrite sayings, but also in doing something to them. I released several business and organization that once I attached myself to, and spend more time to accompany them and asking their life.

I got my friends back.
But now my life is in the most stagnant state in the last fucking three years.
I'm afraid I will feel emptiness like I used to feel three years ago if I don't tangled myself to some business due to get a vibrant and lively life. I'm scared that I won't be succeed as my friends are.

I began to proceed a new goal: What I aim to be in the future? What things do I need to take in order to make myself happier than this present time? What's next?


...... I still want to find out how I define "success" and "satisfaction" nowadays, and I'm hoping I'll know immediately, so I can move on to the exact things that I have to do. But in this very present moment, I want to cherish every good things that have been my goals three years ago, because I still make a progress in my life.

Selasa, 12 Desember 2017

Kadang Kita Lupa Bahwa Kesuksesan Bukan Hal Yang Melulu Harus Dikejar



tarik napas dan lihatlah sekelilingmu.
sudah berapa jauh kau melangkah?
di bagian bumi mana kah kau berpijak?


lihat sekelilingmu, benda-benda di sekitarmu;
coba jelaskan kepadaku materi mana yang merupakan perwujudan mimpimu dulu,
apakah sebuah laporan IPK dari jurusan yang dahulu kau idam-idamkan?
adakah sebuah kamar yang hanya berisi diri kau sendiri yang dulu kau dambakan?
apakah sebuah vas bunga yang dirangkai dengan cantik,
adakah potret-potret yang merekam momen yang dulu kau inginkan untuk terjadi?


ruang dan waktu telah melimitasi kita untuk melihat seberapa jauh kita sudah melangkah, dan hanya menyiksa diri kita tentang persoalan seberapa jauh kita dari mimpi-mimpi kita: tidak!
mimpi adalah sebuah proses, tak lekang dalam ruang dan waktu, tidak lapuk dalam iklim dan cuaca, ia akan selalu ada dalam hidupmu selama kau bergerak, dan semakin menyatu dalam dirimu ketika kau menyadarinya:
kau sedang melangkah,
kau telah melangkah,
kau masih melangkah,
dan setiap harinya kau merealisasikan mimpi-mimpi baru; tenggat-tenggat baru; mimpi  baru jadi mimpi lama, tapi jangan kehilangan makna.


hargai dirimu
-- ingatlah sebuah sosok dari masa lalu yang dulu berjanji akan sangat bersyukur ketika berada dalam posisimu sekarang.


(kesuksesan bukan kata untuk mendefinisikan apa yang harus dicapai;
tapi apa yang juga sudah tercapai)

Kamis, 02 November 2017

aduh



Aku menjalani hidupku akhir-akhir ini sebagai sepotong kentang beku di tengah-tengah swalayan; menunggu untuk jatuh ke lantai dingin dan merasa tak berharga.

Tapi pada akhirnya, malam ini aku menangis. Dan rasanya lega sekali. Orang bilang mereka takut menghadapi kesedihan, tapi aku malah menanti-nantinya. Aku sudah lama tidak merasakan emosi yang dalam dan melankolis – hidupku akhir-akhir ini hanya berupa serangkaian kode etik yang memaksaku untuk terus bergerak dan berinteraksi dengan orang-orang yang bahkan tak terlalu kuanggap sanak. Aku lelah di dalam hati. Aku rindu kesedihan dan kegelisahan yang bercokol dalam relung jiwaku dan menstimulasi rasa puitisku. Aku sebegitu kangennya melarikan jemariku dalam situasi yang genting: tatkala sebuah rasa menuntut untuk disuarakan ke dalam untaian kata.

Mungkin malam ini adalah kulminasi dari stres yang kupendam hingga ke alam bawah sadar. Kopi lah pemicunya. Sebuah cold brew dan berita tentang keberhasilan orang-orang hebat, yang tak lain adalah teman-temanku. Mau jadi apa aku ini? Aku hanyalah sebongkah tubuh perempuan berlekuk yang berlemak di sana-sini yang terlihat cerdas dan seksi tapi aku tak lebih dari orang yang sering demotivasi, tak setia kawan, terlalu problematik, punya banyak wacana, tidak bisa membuat determinasi, dan masih banyak lagi. Aku tak punya masa depan. Aku tak punya harapan. Perjuanganku tidak cukup. Aku sampah. Aku sampah. Aku takut. Aku takut jatuh dan tidak punya kekuatan untuk menjulang kembali.

Betapa pikiranku kembali berisik dengan rasa cemas. Akankah hidupku lebih baik dari ini? Akankah diriku menjemput sesuatu yang bisa membuatku lebih bersinar lagi? Ketakutan sebenarnya lebih kompleks, tapi aku takkan terlalu menuangkannya dengan gamblang dalam tulisanku ini. Akhir-akhir ini aku juga mengingatkan diri untuk tidak terlalu publik. Publik itu mengerikan, kau tahu.

Tapi ketahuilah, setelah kecemasanku berkurang dan pikiranku yang berisik jadi berubah menjadi rangkaian bisik-bisik, aku mendapati rasa syukur dan kelegaan kembali merayapi diriku. Aku senang aku cemas. Berarti aku masih punya rasa untuk masa depanku. Setidaknya aku tidak menjadi kentang di swalayan yang menunggu untuk dijatuhkan. Sekarang aku kecoak yang masuk dalam pembuangan rahasia di swalayan yang sering mengganggu kentang-kentang tadi.


Minggu, 22 Oktober 2017

permasalahannya adalah aku sedang tidak jatuh cinta

September adalah permulaan dari embun hujan,
dan Oktober adalah relung kosong yang menadahinya.
Embun hujan terkumpul saja di dalamnya;
Mengisi, mencukupi, menutup semua ruang yang ada,
tapi tak sekalipun ia khilaf dan luap pada tepi-tepi cekungnya


Aku melihat relung itu:
duduk,
diam,
menangis,
dan memanggil sisa-sisa kasih sayang yang pernah sebegitu relanya mengumpul dalam sebuah likuid--hingga ia luap--hingga ia ruap--dan berharap akan mengisi haus seorang Adam


tapi
embun pagi tak menyahut
demikian pula relung yang susut
dan panggilanku tak ubahnya sebuah gema


yang tak ada


Yogyakarta,
01:25

Kamis, 24 Agustus 2017

Jagad adalah Jantera

konsep memiliki dan dimiliki memang sesuatu yang indah, saya berani jamin. tidak menjamin secara berturut-turut, pasti, tapi ada momen yang indah dalam hubungan dimana kamu saling memiliki dan dimiliki dengan kekasihmu. cliche, tapi saya pikir ini benar. bahkan indah ketika pdkt, itu sudah termasuk.

merayakan 1 tahun single (Wah, waktu berlalu begitu cepat, ya), saya beberapa menit yang lalu tengah ongkang-ongkak kaki sambil menyeruput coklat hangat, berpikir, "apa yang saya rasakan dalam satu waktu kosong dan hanya memiliki diri saya sendiri?" jelas, saya telah melalui banyak hard time dan masa kesepian yang cukup lama... tapi saya bertahan. kemudian kebetulan saya memiliki kawan-kawan yang baru saja berpisah jalan dengan seseorang yang pernah menjanjikan. saya sudah lama ingin mengulas dan bercerita tentang bagaimana saya berkutat dengan masa-masa pasca-putus saya yang cukup berat. post ini agak sedikit curhat dan menye. gapapa ya? :))
.
.
.
.
sebelum saya bertutur, ada baiknya kita berfokus dulu pada dua kalimat ini:

----------- pertama, tiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mulai menyayangi, dan tegas mengakhiri (atau dalam term populernya, move on.). ada beberapa kasus orang lempeng-lempeng aja gitu ninggalin cowonya, padahal doi dulu sampe nangis darah sama saya kalo mereka berantem. ada juga yang move onnya berwindu-windu (gak deng saya lebay), padahal dia tipikal lelaki dingin dan pleiboi. we have different duration and ways in keeping things and let go things.

----------- kedua, tidak bermaksud menjustifikasi; saya ini orang romantik yang despret, a.k.a hopeless romantic. maklum, kebanyakan berkecimpung dalam kepuitisan dan adegan cinta di beberapa media populer, jadi ideal saya tentang lelaki dan hubungan rada mbelibet dan mbleketrek.

ketika setahun yang lalu (singkatnya) saya tahu saya akan mengambil jalan yang berbeda dengan kekasih saya waktu itu, Jagad Kecil saya hancur. hancur luar dalam. saya masih inget, kok, saya turun hampir 7 kilogram dalam waktu sebulan, setiap malam nangis terus (sampai teman saya yang biasa melihat keadaan saya di pagi hari udah familier sama mata saya), kerjaan saya nulis puisi dan merenung, dan saya melakukan hal-hal ekstrem. Hal ekstrem tersebut, katakanlah: naik Gunung Andong padahal lagi musim hujan, ngecat rambut, nyetir motor sampai Gunungkidul, hingga tibatiba banting setir jadi barista di sebuah kedai kopi. Ha. Orang bilang kita bisa menembus limitasi diri kita dalam kondisi ekstrem. Well, saya sudah membuktikannya. Dan teman-teman, I will tell you this: for those of you who tend to love someone soooo deep, atiati aja, lama move onnya :( saya salah satu yang termasuk dalam kondisi itu, dan i was going to a long, exhausting period -- yet it gave me something eventually.

Eniwei, tentu saja, saya sendiri gemas dengan diri saya, dan saya juga eneg berada dalam kondisi itu. rasanya saya pengen hibernasi aja beberapa bulan, lalu ketika saya terjaga, saya sudah gak memiliki perasaan lagi terhadap mantan saya. tapi tentu saja sistem hati dan semesta gak segampang sistem binomial nomenklatur. jadi saya mulai merumuskan hal-hal yang akan membuat saya better ... pelan-pelan.

Here the words for you, little soul who are in a exhausting, painful state, aku cuman mau bilang kata cliche ini dulu: everything is gonna be okay, ga menjamin kapan, but time will heal, time will make you growing and blossom and bloom -- sekali lagi, gak ada yang tau kapan. untuk mencapai tahap tersebut, ada satu hal gak enak yang harus kita lewatin.

telen dulu paitnya, kalau kata Adhia. telen. kekasihmu selingkuh sama cewek yang lebih cantik? ya sudah, telen paitnya, kemudian interpretasi: mungkin kekasihmu emang pada dasarnya lebih doyan sama tampilan yang lebih mentereng dibandingkan kamu, and you're not good enough in his eyes (jadi ya kamu cari aja orang yang bisa melihat tampilan jauh uh uh seusai quality of yours). lelakimu tau relationship kalian ga bakal workout, kendatipun dia adalah orang yang tadinya mempertahankan hubungan kalian banget? ya people changed. mungkin dia juga sudah kepingin cari yang baru, dan kamu hanyalah representasi dari kelawasan yang ia ingin langkahi? gak apa-apa, telen aja. kalau kamu salah, ya telen, kalau dia salah, ya telen juga.

abis telen, refleksi. di masa-masa melelahkan ini adalah saat yang tepat untuk mulai membenahi diri, karena hei dude kamu lagi punya diri kamu sendiri tanpa otoritas orang lain, lho. perbaiki hal-hal buruk yang dulu emang kamu pelihara. embrace hal-hal positif, dan bangun lagi aura serta atraktivitas yang kamu punya ... refleksi dan nikmatin.

jangan deny. masih terkait dengan poin satu, denial memang normal step dari 5 state of grief, tapi jangan lama-lama denynya. kadang ada beberapa orang yang deny perasaannya, bilang sudah rampung menyukai seseorang, tapi masih sering mencari keberadaannya di sudut-sudut familier. gak apa-apa, kok. kalau kamu masih mau ngestalk atau mikirin dia, bukan hal yang salah sama sekali. it's like you have to stop eating one thing that you loved, tapi kamu harus berenti. kamu pasti automatically bakal mikir makanan itu kapanpun kamu bm, kan? gausah dideny, tapi jangan sampai hasrat-hasrat bodoh buat kontak dia bikin kamu kelewat batas.

sisanya, hal yang bersifat sangat teknis sekali: cari teman, cari kesibukan, cari katarsis (ini penting), give yourself some quality time, tonton videonya TED, Button Poetry, dan In a Nutshell, baca puisi dan buku yang relate sama keadaan kamu. Dan banyak-banyak melalukan prosesi makan-tidur dengan lebih teratur.

saya punya beberapa hal ala saya yang ngebantu saya. pada dasarnya saya ini anak yang percaya mitos, jadi begitu putus, saya menghijrahkan semua barang dari mantan saya (kecuali pelbagai buku dan sebuah kamera) ke dalam kardus khusus. saya ingin mulai hidup tanpa dia, jadi representasi atas dia pun harus saya jauhkan dari ruang privat saya: dari kamar tidur saya. saya juga buat jurnal, judulnya "Post Break-Up Survival Journal". Alay, sih, tapi it helped me a lot. saya bercita-cita akan melihat kotak itu lagi tatkala saya telah siap dan tidak merasa tercabik lagi. beberapa menit sebelum menulis post ini, kotak itu baru saya buka. Hehe. Saya banyak menulis. tulisan privat maupun renungan yang saya post di blog ini. Jadi, teman-teman pun bisa mencermati 'Dark Age' saya melalui post-post blog ini.


intinya begini, masa putus cinta itu memang saat yang tepat untuk dijadikan titik balik, karena seolah kamu kehilangan pegangan kamu, gitu, lho. tapi ketika kamu telah berada dalam tempat yang melampaui rasa-mu ini, kamu akan tahu betapa leganya, dan betapa dewasanya kamu saat ini. berefleksi lagi pada pengalaman saya, saat ini saya memang tengah berada dalam periode mellow--saya kesepian dan sometimes itu menyedihkan, tapi saya telah menguasai satu hal dalam ranah sifat yang cukup membawa keberuntungan bagi saya. pada akhirnya, semua itu akan membawa hal yang lebih baik bagi kamu dan kekasihmu, kok.

.
.
.
Mungkin bukan sekarang, karena kamu butuh waktu untuk benar-benar menetralkan perasaan. apabila kamu memang ingin mengambil seribu langkah atau mencegah dia melihat profile kamu di media sosial, itu hak kamu. do what you want, tapi jangan kekanakan, ya. ga ada yang salah dengan menyayangi orang begitu lama sampai gak bisa move on. Jantera Harsa pada akhirnya pun akan membawamu kembali ke putaran yang di atas... berdoa saja ini dalam ranah percintaan.


Selamat satu tahun dalam memiliki diri sendiri, Shabia-ku :) (hehe)
Salam hangat,
Shabia.