Selasa, 12 Desember 2017

Kadang Kita Lupa Bahwa Kesuksesan Bukan Hal Yang Melulu Harus Dikejar



tarik napas dan lihatlah sekelilingmu.
sudah berapa jauh kau melangkah?
di bagian bumi mana kah kau berpijak?


lihat sekelilingmu, benda-benda di sekitarmu;
coba jelaskan kepadaku materi mana yang merupakan perwujudan mimpimu dulu,
apakah sebuah laporan IPK dari jurusan yang dahulu kau idam-idamkan?
adakah sebuah kamar yang hanya berisi diri kau sendiri yang dulu kau dambakan?
apakah sebuah vas bunga yang dirangkai dengan cantik,
adakah potret-potret yang merekam momen yang dulu kau inginkan untuk terjadi?


ruang dan waktu telah melimitasi kita untuk melihat seberapa jauh kita sudah melangkah, dan hanya menyiksa diri kita tentang persoalan seberapa jauh kita dari mimpi-mimpi kita: tidak!
mimpi adalah sebuah proses, tak lekang dalam ruang dan waktu, tidak lapuk dalam iklim dan cuaca, ia akan selalu ada dalam hidupmu selama kau bergerak, dan semakin menyatu dalam dirimu ketika kau menyadarinya:
kau sedang melangkah,
kau telah melangkah,
kau masih melangkah,
dan setiap harinya kau merealisasikan mimpi-mimpi baru; tenggat-tenggat baru; mimpi  baru jadi mimpi lama, tapi jangan kehilangan makna.


hargai dirimu
-- ingatlah sebuah sosok dari masa lalu yang dulu berjanji akan sangat bersyukur ketika berada dalam posisimu sekarang.


(kesuksesan bukan kata untuk mendefinisikan apa yang harus dicapai;
tapi apa yang juga sudah tercapai)

Kamis, 02 November 2017

aduh



Aku menjalani hidupku akhir-akhir ini sebagai sepotong kentang beku di tengah-tengah swalayan; menunggu untuk jatuh ke lantai dingin dan merasa tak berharga.

Tapi pada akhirnya, malam ini aku menangis. Dan rasanya lega sekali. Orang bilang mereka takut menghadapi kesedihan, tapi aku malah menanti-nantinya. Aku sudah lama tidak merasakan emosi yang dalam dan melankolis – hidupku akhir-akhir ini hanya berupa serangkaian kode etik yang memaksaku untuk terus bergerak dan berinteraksi dengan orang-orang yang bahkan tak terlalu kuanggap sanak. Aku lelah di dalam hati. Aku rindu kesedihan dan kegelisahan yang bercokol dalam relung jiwaku dan menstimulasi rasa puitisku. Aku sebegitu kangennya melarikan jemariku dalam situasi yang genting: tatkala sebuah rasa menuntut untuk disuarakan ke dalam untaian kata.

Mungkin malam ini adalah kulminasi dari stres yang kupendam hingga ke alam bawah sadar. Kopi lah pemicunya. Sebuah cold brew dan berita tentang keberhasilan orang-orang hebat, yang tak lain adalah teman-temanku. Mau jadi apa aku ini? Aku hanyalah sebongkah tubuh perempuan berlekuk yang berlemak di sana-sini yang terlihat cerdas dan seksi tapi aku tak lebih dari orang yang sering demotivasi, tak setia kawan, terlalu problematik, punya banyak wacana, tidak bisa membuat determinasi, dan masih banyak lagi. Aku tak punya masa depan. Aku tak punya harapan. Perjuanganku tidak cukup. Aku sampah. Aku sampah. Aku takut. Aku takut jatuh dan tidak punya kekuatan untuk menjulang kembali.

Betapa pikiranku kembali berisik dengan rasa cemas. Akankah hidupku lebih baik dari ini? Akankah diriku menjemput sesuatu yang bisa membuatku lebih bersinar lagi? Ketakutan sebenarnya lebih kompleks, tapi aku takkan terlalu menuangkannya dengan gamblang dalam tulisanku ini. Akhir-akhir ini aku juga mengingatkan diri untuk tidak terlalu publik. Publik itu mengerikan, kau tahu.

Tapi ketahuilah, setelah kecemasanku berkurang dan pikiranku yang berisik jadi berubah menjadi rangkaian bisik-bisik, aku mendapati rasa syukur dan kelegaan kembali merayapi diriku. Aku senang aku cemas. Berarti aku masih punya rasa untuk masa depanku. Setidaknya aku tidak menjadi kentang di swalayan yang menunggu untuk dijatuhkan. Sekarang aku kecoak yang masuk dalam pembuangan rahasia di swalayan yang sering mengganggu kentang-kentang tadi.


Minggu, 22 Oktober 2017

permasalahannya adalah aku sedang tidak jatuh cinta

September adalah permulaan dari embun hujan,
dan Oktober adalah relung kosong yang menadahinya.
Embun hujan terkumpul saja di dalamnya;
Mengisi, mencukupi, menutup semua ruang yang ada,
tapi tak sekalipun ia khilaf dan luap pada tepi-tepi cekungnya


Aku melihat relung itu:
duduk,
diam,
menangis,
dan memanggil sisa-sisa kasih sayang yang pernah sebegitu relanya mengumpul dalam sebuah likuid--hingga ia luap--hingga ia ruap--dan berharap akan mengisi haus seorang Adam


tapi
embun pagi tak menyahut
demikian pula relung yang susut
dan panggilanku tak ubahnya sebuah gema


yang tak ada


Yogyakarta,
01:25

Kamis, 24 Agustus 2017

Jagad adalah Jantera

konsep memiliki dan dimiliki memang sesuatu yang indah, saya berani jamin. tidak menjamin secara berturut-turut, pasti, tapi ada momen yang indah dalam hubungan dimana kamu saling memiliki dan dimiliki dengan kekasihmu. cliche, tapi saya pikir ini benar. bahkan indah ketika pdkt, itu sudah termasuk.

merayakan 1 tahun single (Wah, waktu berlalu begitu cepat, ya), saya beberapa menit yang lalu tengah ongkang-ongkak kaki sambil menyeruput coklat hangat, berpikir, "apa yang saya rasakan dalam satu waktu kosong dan hanya memiliki diri saya sendiri?" jelas, saya telah melalui banyak hard time dan masa kesepian yang cukup lama... tapi saya bertahan. kemudian kebetulan saya memiliki kawan-kawan yang baru saja berpisah jalan dengan seseorang yang pernah menjanjikan. saya sudah lama ingin mengulas dan bercerita tentang bagaimana saya berkutat dengan masa-masa pasca-putus saya yang cukup berat. post ini agak sedikit curhat dan menye. gapapa ya? :))
.
.
.
.
sebelum saya bertutur, ada baiknya kita berfokus dulu pada dua kalimat ini:

----------- pertama, tiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mulai menyayangi, dan tegas mengakhiri (atau dalam term populernya, move on.). ada beberapa kasus orang lempeng-lempeng aja gitu ninggalin cowonya, padahal doi dulu sampe nangis darah sama saya kalo mereka berantem. ada juga yang move onnya berwindu-windu (gak deng saya lebay), padahal dia tipikal lelaki dingin dan pleiboi. we have different duration and ways in keeping things and let go things.

----------- kedua, tidak bermaksud menjustifikasi; saya ini orang romantik yang despret, a.k.a hopeless romantic. maklum, kebanyakan berkecimpung dalam kepuitisan dan adegan cinta di beberapa media populer, jadi ideal saya tentang lelaki dan hubungan rada mbelibet dan mbleketrek.

ketika setahun yang lalu (singkatnya) saya tahu saya akan mengambil jalan yang berbeda dengan kekasih saya waktu itu, Jagad Kecil saya hancur. hancur luar dalam. saya masih inget, kok, saya turun hampir 7 kilogram dalam waktu sebulan, setiap malam nangis terus (sampai teman saya yang biasa melihat keadaan saya di pagi hari udah familier sama mata saya), kerjaan saya nulis puisi dan merenung, dan saya melakukan hal-hal ekstrem. Hal ekstrem tersebut, katakanlah: naik Gunung Andong padahal lagi musim hujan, ngecat rambut, nyetir motor sampai Gunungkidul, hingga tibatiba banting setir jadi barista di sebuah kedai kopi. Ha. Orang bilang kita bisa menembus limitasi diri kita dalam kondisi ekstrem. Well, saya sudah membuktikannya. Dan teman-teman, I will tell you this: for those of you who tend to love someone soooo deep, atiati aja, lama move onnya :( saya salah satu yang termasuk dalam kondisi itu, dan i was going to a long, exhausting period -- yet it gave me something eventually.

Eniwei, tentu saja, saya sendiri gemas dengan diri saya, dan saya juga eneg berada dalam kondisi itu. rasanya saya pengen hibernasi aja beberapa bulan, lalu ketika saya terjaga, saya sudah gak memiliki perasaan lagi terhadap mantan saya. tapi tentu saja sistem hati dan semesta gak segampang sistem binomial nomenklatur. jadi saya mulai merumuskan hal-hal yang akan membuat saya better ... pelan-pelan.

Here the words for you, little soul who are in a exhausting, painful state, aku cuman mau bilang kata cliche ini dulu: everything is gonna be okay, ga menjamin kapan, but time will heal, time will make you growing and blossom and bloom -- sekali lagi, gak ada yang tau kapan. untuk mencapai tahap tersebut, ada satu hal gak enak yang harus kita lewatin.

telen dulu paitnya, kalau kata Adhia. telen. kekasihmu selingkuh sama cewek yang lebih cantik? ya sudah, telen paitnya, kemudian interpretasi: mungkin kekasihmu emang pada dasarnya lebih doyan sama tampilan yang lebih mentereng dibandingkan kamu, and you're not good enough in his eyes (jadi ya kamu cari aja orang yang bisa melihat tampilan jauh uh uh seusai quality of yours). lelakimu tau relationship kalian ga bakal workout, kendatipun dia adalah orang yang tadinya mempertahankan hubungan kalian banget? ya people changed. mungkin dia juga sudah kepingin cari yang baru, dan kamu hanyalah representasi dari kelawasan yang ia ingin langkahi? gak apa-apa, telen aja. kalau kamu salah, ya telen, kalau dia salah, ya telen juga.

abis telen, refleksi. di masa-masa melelahkan ini adalah saat yang tepat untuk mulai membenahi diri, karena hei dude kamu lagi punya diri kamu sendiri tanpa otoritas orang lain, lho. perbaiki hal-hal buruk yang dulu emang kamu pelihara. embrace hal-hal positif, dan bangun lagi aura serta atraktivitas yang kamu punya ... refleksi dan nikmatin.

jangan deny. masih terkait dengan poin satu, denial memang normal step dari 5 state of grief, tapi jangan lama-lama denynya. kadang ada beberapa orang yang deny perasaannya, bilang sudah rampung menyukai seseorang, tapi masih sering mencari keberadaannya di sudut-sudut familier. gak apa-apa, kok. kalau kamu masih mau ngestalk atau mikirin dia, bukan hal yang salah sama sekali. it's like you have to stop eating one thing that you loved, tapi kamu harus berenti. kamu pasti automatically bakal mikir makanan itu kapanpun kamu bm, kan? gausah dideny, tapi jangan sampai hasrat-hasrat bodoh buat kontak dia bikin kamu kelewat batas.

sisanya, hal yang bersifat sangat teknis sekali: cari teman, cari kesibukan, cari katarsis (ini penting), give yourself some quality time, tonton videonya TED, Button Poetry, dan In a Nutshell, baca puisi dan buku yang relate sama keadaan kamu. Dan banyak-banyak melalukan prosesi makan-tidur dengan lebih teratur.

saya punya beberapa hal ala saya yang ngebantu saya. pada dasarnya saya ini anak yang percaya mitos, jadi begitu putus, saya menghijrahkan semua barang dari mantan saya (kecuali pelbagai buku dan sebuah kamera) ke dalam kardus khusus. saya ingin mulai hidup tanpa dia, jadi representasi atas dia pun harus saya jauhkan dari ruang privat saya: dari kamar tidur saya. saya juga buat jurnal, judulnya "Post Break-Up Survival Journal". Alay, sih, tapi it helped me a lot. saya bercita-cita akan melihat kotak itu lagi tatkala saya telah siap dan tidak merasa tercabik lagi. beberapa menit sebelum menulis post ini, kotak itu baru saya buka. Hehe. Saya banyak menulis. tulisan privat maupun renungan yang saya post di blog ini. Jadi, teman-teman pun bisa mencermati 'Dark Age' saya melalui post-post blog ini.


intinya begini, masa putus cinta itu memang saat yang tepat untuk dijadikan titik balik, karena seolah kamu kehilangan pegangan kamu, gitu, lho. tapi ketika kamu telah berada dalam tempat yang melampaui rasa-mu ini, kamu akan tahu betapa leganya, dan betapa dewasanya kamu saat ini. berefleksi lagi pada pengalaman saya, saat ini saya memang tengah berada dalam periode mellow--saya kesepian dan sometimes itu menyedihkan, tapi saya telah menguasai satu hal dalam ranah sifat yang cukup membawa keberuntungan bagi saya. pada akhirnya, semua itu akan membawa hal yang lebih baik bagi kamu dan kekasihmu, kok.

.
.
.
Mungkin bukan sekarang, karena kamu butuh waktu untuk benar-benar menetralkan perasaan. apabila kamu memang ingin mengambil seribu langkah atau mencegah dia melihat profile kamu di media sosial, itu hak kamu. do what you want, tapi jangan kekanakan, ya. ga ada yang salah dengan menyayangi orang begitu lama sampai gak bisa move on. Jantera Harsa pada akhirnya pun akan membawamu kembali ke putaran yang di atas... berdoa saja ini dalam ranah percintaan.


Selamat satu tahun dalam memiliki diri sendiri, Shabia-ku :) (hehe)
Salam hangat,
Shabia.



Sabtu, 12 Agustus 2017

Mengingatkan Diri


sekarang saya punya cara efektif untuk mengingatkan arti kehilangan. semua ini berawal saat saya terbangun di tengah malam, air mata menuruni pipi saya yang sudah lembab, sisa-sisa mimpi buruk masih merambati kesadaran saya. seluruh keluarga saya meninggal, demikian mimpi itu menelusup dalam lelap saya. mereka naik bus mengunjungi diri saya, lalu terguling di jurang. eyang, keluarga tante, sepeupu saya -- semuanya.


kadang saya merasa, saya dianugerahi oleh kemampuan imajinasi yang kuat. kapanpun saya sedih, saya berimajinasi. ketika saya insecure, saya tinggal membayangkan masa depan yang cerah ceria membentang di depan saya, saya sedang berdiri di tengah podium di antara lautan orang, mengemukakan talenta saya. ya, jauh di lubuk hati saya, saya mengakui, kok, saya menyukai being center of attention. tapi being center of attention tidak berarti tidak bisa berlaku rendah hati.


imajinasi ini juga ternyata bisa saya gunakan untuk mengingatkan diri saya ketika saya nyaris melakukan hal-hal kurang ajar. sesimpel saya membayangkan semua hal baik direnggut dari hidup saya. tiba-tiba jantung ibu saya yang sedang banting tulang di ibukota sana berhenti berdetak, atau tiba-tiba keluarga saya bangkrut dan saya tidak bisa berleha-leha dengan kecukupan, atau mungkin di tengah jalan tibatiba saya diperkosa, saya mengandung anak haram, saya gak bisa lanjut kuliah. mengerikan, memang, imajinasi saya. tapi kadang-kadang karena imajinasi ini, saya jadi ngerti harus bersyukur.


hahaha, maka jangan heran kalau saya tiba-tiba sering berkaca-kaca atau pelupuk mata saya terlihat sembab, sebenernya itu lagi gaada apa-apa, kok *nyengir* . mungkin kalian baru saja memergoki saya melalui sesi "mengingatkan diri", karena hari itu saya tengah memaki-maki kekurangan yang menghinggapi saya dalam hidup.


satu hal yang masih sering sulit dilakukan, saya pikir, membangun imajinasi ketika saya akhirnya kalah dalam hidup saya. itu ... susah sekali. dan saya masih sering demotivasi tiba-tiba. tapi percayalah, saya sedang cari cara "mengingatkan diri" yang lebih efektif.


:) selamat berkontemplasi, salam hangat!


Jumat, 14 Juli 2017

Merangkul yang Baru

waktu terus berlanjut, saya semakin dewasa, dunia semakin berubah, segala hal berubah kompleks -- tapi, lucunya, hal kompleks berubah menjadi semakin sederhana.

postingan akan dibuka dengan satu kalimat sederhana yang merupakan ketakjuban personal pada diri saya: saya lagi gak cinta siapa-siapa. HA! Shabia, seorang hopeless-romantic, sebegitu seringnya mencari perairan mana yang kelak akan menjadi lokasi untuk menambatkan sauh, gak suka sama siapa-siapa? tapi, beneran. perasaan ini terlanjur tumbuh di hati saya... dan saya lagi gak menaruh hati kepada siapapun. di satu sisi perasaan ini asing, karena hampir tiga tahun saya selalu punya objek untuk disayang-sayang (ugh, gak terlalu terdengar tepat, ya?), dan saya juga takut saya kehilangan emosi yang sentimentil untuk membuat post-post galau tentang romansa, TAPI aduh saya lega banget. akhir-akhir ini pikiran saya tidak terdistraksi dengan satu sosok maskulin, namun lebih kepada pertanyaan tentang mimpi-mimpi dan target hidup saya. which is, hati saya sepenuhnya milik saya. sounds pathetic yet sounds so brave.

(tentu saja kita sedang bicara hal-hal plus. hal-hal minus adalah saya mulai merasa kesepian yang belum terlalu mengganggu (untungnya). tapi kegelisahan ini jangan ditaruh di satu keranjang, ndak baik)

di liburan ini saya banyak menemukan hal-hal lucu yang menyadarkan diri saya pada banyak hal ... diri Shabia yang optimis dan pesimis secara bersamaan, diri Shabia yang melaju ke waktu yang lebih jauh sekaligus masa yang terentang bertahun-tahun lalu.

saya mulai baca buku fantasi lagi, loh. saya juga kembali membeli buku-buku sastra. kembali membenamkan diri dalam mitologi. saya menghidupkan kembali ide-ide yang berkaitan dengan novel saya. saya kembali menulis fanfiksi Dramione (iya, kalau penasaran cari aja saya di fanfiction.net, tapi saya gak pakai nama asli di situs ybs). saya kembali ramah sama anak-anak (meski kadang suka mager, anak-anak Betawi di rumah saya suka mengeluarkan kata-kata bernuansa penghuni Ragunan.)

........ saya jarang keluar rumah, sebagian karena saya lagi menghemat duit, sebagian karena akhirnya saya gak merasakan urgensi untuk bersosialisasi (apakah ini bagus? atau jelek? dua-duanya, mungkin). waktu di rumah membuat saya kembali jadi kutubuku, terhitung sudah tiga buku saya baca, empat buku saya baca ulang, belasan cerita saya baca di fanfiction.net, DAN JELEKNYA saya rada jarang buka tulisan berfaedah macem indoprogress atau mongabay atau mojok atau vice, tapi ya udah lah ya. rencananya, sih, minggu depan saya mau berburu tulisan pintar lagi. tapi gak tau deh :p

namun ada hal-hal menarik yang saya temukan di liburan saya yang penuh ketidakproduktifan yang produktif ini. saya seakan menemukan sesuatu yang hangat -- saya banyak meluangkan waktu bersama keluarga, soalnya. sudah begitu, saya baru sadar, saya punya banyak teman yang sangat suportif.


mereka mendukung mimpi-mimpi saya. mereka percaya bahwa saya bisa menaklukan dunia. hehehe klise ya? saya aja suka ga percaya sama diri saya, dan saya serasa pengen bilang sama mereka: saya tuh ga sehebat yang mereka pikirin (SUMPAH). saya masih lah Shabia yang banyak wacana dan banyak gaya. tapi terima kasih sekali. dengan respon baik dari kalian, saya selalu merasa hidup saya punya banyak alasan. kalau boleh dibilang, kalian lah yang membantu saya menghidupkan mimpi-mimpi saya kembali.


yang terpenting: saya menemukan diri anak kecil di diri saya yang selalu tergelitik dengan tulisan. saya merasa kemampuan saya menulis cerita dan berimajinasi akhirnya kembali. setelah beberapa tahun dia ngadet cuman ngasih setilik tubuh, akhirnya dia kemaren nongol di dalam diri saya! dan saya menyambutnya dengan hangat, bilang saya butuh dia untuk menyegarkan idealisme, sekaligus membantu saya membuat cerita-cerita dan dongeng-dongeng saya.


seorang sahabat saya pernah bilang, "selalu jaga semangat seorang anak kecil yang ada di dalam diri kamu. bagaimana ia bisa dengan lugunya percaya cita-cita itu pasti akan terjadi. bagaimana ia bisa dengan niatnya pergi ke tempat-tempat untuk melakukan sesuatu."

dan saya gak bisa lebih setuju lagi. saya rasa ada hal-hal baru menyenangkan yang akan menelusup di diri saya. keinginan untuk merealisasikan novel, menambatkan relasi dengan orang-orang baik di sekitar saya, membuka pada mimpi-mimpi ...


dan tentu saja, sesuai moto saya: lakukan dengan pelan dan sederhana.
semoga Semesta yang baik juga merangkul kalian dan minta dirangkul, ya.




Senin, 26 Juni 2017

Tentang Kesuksesan

Pemahaman dan kekaguman selalu sejalan dengan malam, itu yang saya simpulkan beberapa bulan terakhir ini. Beberapa bulan terakhir saya banyak mengalami kontemplasi sekaligus mendapat insights, termasuk ketika saya melihat teman-teman saya tumbuh, berkembang dengan cara mereka sendiri, membuat jalan untuk keluar dari masalah mereka sendiri, hingga sampai pada suatu kesuksesan.


Setiap manusia diciptakan dengan berbagai bekal: hobi, passion, kesempatan, belum lagi jika dikaitkan dengan kondisi finansial dan budaya, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan saya takjub sekali, di usia saya yang 18 tahun ini, saya banyak melihat orang-orang hebat di sekeliling saya yang mulai merambah jalan untuk meraih mimpinya. Jalan mereka sangat berbeda-beda: ada teman saya yang sangat enjoy di bidang politik kampus. Ada yang enjoy membaktikan diri sebagai penulis cerpen. Ada yang menceburkan diri dalam model PBB dalam kancah internasional. Ada yang fokus teater. Apapun itu, mereka tampak sangat menikmati dan fokus dengan apa yang mereka kerjakan.


Saya selalu merasa terlahir dengan banyak passion dan kemampuan adalah sebuah anugerah. Anugerah ketika saya bisa menggunakannya untuk diri saya. Tapi, saya tidak mempertimbangkan hal lain. Banyaknya passion dan kemampuan saya telah membawa sedikit bencana untuk saya--yang plinplan bagaimana saya akan memfokuskan passion saya sejalan dengan cita-cita saya.


Saya pernah diberitahu seorang kawan saya yang bertutur seperti ini. "Kamu mau sampai kapan berjalan terus, Shab? Nyoba banyak hal. Nggak puas. Beralih ke hal lain. Gak pernah mendalami hal-hal khusus selama beberapa saat. Suatu hari kamu bakal menyadari, kamu emang dapet sesuatu. Tapi di sisi lain, kamu juga sadar, ada beberapa waktu yang gak kamu gunain maksimal untuk memfokuskan pada sesuatu."


Saya terdiam waktu itu. Kemudian beberapa hari terakhir ini, saya nge-trace back apa yang saya inginkan dari dulu. Dua hal yang saya inginkan di masa depan saya: menjadi guru dan menjadi penulis. Apa yang sudah saya lakukan? Saya belum pernah mengirimkan karya apapun ke media cetak. Saya hanya sebatas nulis blog dan fanfiction, kumpulan status yang menuai likes banyak tapi tentu, tiga hal ini bukanlah pertanda sebuah titel "penulis" saya sandang dengan mumpuni. Guru? Saya mengajar di Project Child dan FIB Mengajar. Tapi saya tidak maksimal di kedua hal itu tahun lalu, karena saya sibuk kepanitiaan.


Kalau saya bertanya kepada seseorang, satu kata yang melambangkan Shabia?

Artsy. Aneh. Antro.

Tapi saya tak pernah mendengar penulis atau guru. Padahal saya ingin kedua hal tersebut setidaknya ada di diri saya. Lalu apa hubungannya dengan kesuksesan? Karena bagi saya, kesuksesan pada akhirnya melabuh pada terkabulnya hasrat saya untuk menulis dan mengajar. Saya belum sukses. Masih jauh sekali. Tapi yang lebih buruk, saya juga belum mengarahkan jalan saya ke arah kesuksesan yang seperti itu. Saya malah melenceng ke seni dan event organizer. Sebenarnya tak apa, tapi mau sampai kapan?
.
.
.
Entah sejak kapan saya resah, tapi beberapa bulan yang lalu, saya kembali mengintip blog salah satu guru panutan saya, rosadahlia.blogspot.com. Kak Rosa, yang mengajar di Papua. Saya juga telah ke Gramedia hari ini, mengantongi buku Sokola Rimba dan saya berniat untuk menamatkannya.

Saya bertekad: tahun ini saya harus fokus pada dua hal. Nulis dan ngajar. Saya dengan sedih menolak beberapa tawaran yang sangat dilematis bagi saya. Dan saya berharap, dengan waktu saya yang lebih luang, saya bisa menamatkan novel saya yang stuck di bab dua, bisa mulai ngasih-ngasih tulisan saya ke beberapa media online, dan fokus mengajar di PCI dan FIB Mengajar!


Yah ... Bismillahirrahmanirrahim. Saya juga berharap kalian semua berhasil membuat jalan masing-masing untuk menggapai cita-cita, ya! :)